Cakrawala

MBA Alamudi, Tokoh Penggerak Nasionalisme Keturunan Arab di Indonesia

Berbicara mengenai sejarah kebangkitan nasionalis keturunan Arab di Indonesia, maka yang selalu muncul dikepala adalah organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI). Organisasi yang didirikan pada tahun 1934 di Semarang, oleh A.R. Baswedan dan beberapa tokoh lainnya, seperti Hoesin Bafagieh, Salim Maskati dan sebagainya. Tetapi jika  lebih teliti membaca sejarah, kita akan temukan seorang tokoh nasionalis yang sudah bergerak sebelum itu. Sayangnya nama tokoh tersebut telah terlupakan atau terpinggirkan.

Nama tokoh itu adalah MBA Alamudi, dengan organisasinya Indo Arabische Verbond (IAV) atau Persatuan Indonesia Arab. Bahkan waktu itu A.R. Baswedan merupakan salah satu pendukung nya. Dalam wawancara lisan yang tersimpan di Rekaman Sejarah Lisan ANRI, Baswedan mengatakan bahwa ia sewaktu muda aktif gerakan tersebut. Lebih dari itu Baswedan mengagumi ide-ide MBA Alamudi dan A.R. Baswedan ikut membantu dalam penerbitan majalah Al Jaum yang merupakan corong dari IAV. Bahkan disebutkan ide Ar Baswedan dalam mendirikan PAI, banyak belajar dari pengalamannya bersama MBA Alamudi dalam Arabische Verbond. 

Siapa  MBA Alamudi ?

MBA Alamudi

MBA Alamudi merupakan singkatan dari Muhammad bin Abdullah Alamudi. Seorang keturunan Arab dari keluarga Al-Amudi yang lahir di Makassar pada 2 November 1902. Ayahnya bernama Abdullah bin Abubakar bin Abdurrazaq bin Ahmad bin Muhammad Al-Amudi dan ibunya, Hababah Nur Alamudi. Sang ayah, memiliki 6 orang putra yaitu : Ahmad, Said, Muhammad, Hussein, Abdurrazaq dan Hassan.  MBA Alamudi merupakan putra ketiga. Salah satu saudaranya,  Abdurazaq Alamudi,  merupakan lulusan Al-Azhar, Kairo,  yang kemudian menjadi dosen Bahasa Arab IAIN (UIN) Sunan Ampel, Surabaya.

Keluarga Abdullah Alamudi ini awalnya berasal dari Makassar, sebelum pindah pada tahun 1910 ke Pulau Saparua Maluku. Menurut cerita  Fuad MBA Alamudi (putra dari MBA Alamudi) pada waktu itu, setiap hari MBA harus mendayung perahu dari Saparua ke Ambon untuk bisa mencapai sekolahnya pulang pergi.

Semenjak mudanya, MBA adalah pemuda yang aktif dalam gerakan kemasyarakatan, sehingga dari tahun 1924 – 1928 terpilih sebagai Wakil Bangsa Arab dalam Gemeenteraad van Amboina, atau Badan Perwakilan Kota Ambon. Bukan hanya itu pada tahun 1928, dengan Besluit G.G (Governor General) MBVA diakui sebagai Rechtpersoon Handelsbond, tergabung didalamnya bangsa Arab, Indonesia dan India, dimana MBA Alamudi merupakan ketuanya. Menurut penjelasan dari putra-nya Fuad Alamudi, sang ayah MBA merupakan seorang yang sangat dihormati dan dipercaya oleh seluruh golongan yang ada di Ambon pada waktu itu, karena kecerdasannya dan perilakunya, walaupun MBA tidak pernah mengecap pendidikan formal tinggi.

Kepercayaan kepada dirinya dan juga penghormatan atas dirinya, akhirnya mendorong ia menjadi seorang pebisnis, yang pada waktu ia mendirikan Perusahaan Jawa-Maluku yang bergerak dibidang pemasaran dan penjualan barang dan hasil bumi dari Tanah Maluku ke Jawa. Sehingga ia kemudian menjadi seorang pebisnis besar.

Pada awal 1930-an, terjadi sebuah perpecahan di kalangan keturunan Arab di Indonesia, yaitu antara golongan Alawiyyin dan Masyaikh. Yang diperlebar lagi dengan perbedaan pandangan antara golongan Wulaiti (Arab Totok) dengan golongan Muwallad (Arab peranakan yang lahir di Indonesia). Sudah banyak usaha yang dilakukan selama waktu tersebut untuk menyatukan perselisihan ini, dimulai dengan usaha dari pihak luar yang ikut prihatin dengan perpecahan itu mulai  dari pihak luar seperti Ibnu Saud dari Arab Saudi, kemudian Amir Syakib Arselan dan juga dari dalam mulai dari Hamid bin Said bin Thalib dari Surabaya sampai Syaikh Awad Syahbal dari Solo. Tapi mereka semua ini bisa dikatakan gagal atau belum sampai hasil yang maksimal.

Hal itu mendorong MBA untuk turun tangan mencoba membantu menyelesaikan perselisihan itu. MBA datang atas inisiatif dan biaya pribadi dari Ambon ke Surabaya. Selain untuk berdagang, ia memiliki niat untuk melakukan suatu perusahaan besar. Setelah membuka sebuah kantor di daerah Mas Mansyur atau Kampenan Straat, ia mulai melakukan pendekatan kepada semua pihak yang berselisih. MBA menggulirkan idenya untuk sebuah kongres Wihdatul Arabiyah atau persatuan Arab. Ide tersebut akhirnya dapat terwujud di Surabaya pada tanggal 19 – 30 Desember 1930. Kesungguhan dan perjuangan MBA ini, dengan menggunakan kocek pribadinya, berkeliling keseluruh Indonesia menggalang dukungan, walaupun tanpa itu MBA sudah bisa hidup enak dan nyaman denga usaha dan kekayaannya.  Akhirnya usaha dan pengorbanan ini melahirkan banyak simpati dari banyak kalangan, hingga akhirnya banyak pihak yang serius mendukung ide idenya.

Foto keluarga MBA Alamudi, MBA Alamudi dengan istrinya Maryam binti Anom, pada tahun 1920 di Ambon, dan dari kiri kekanan depan berdiri adalah anak anaknya : Faisal, Fauziah, Fuad, Abdullah, Hassan dan Firdaus.

Dan salah seorang dari mereka yang bersimpati adalah A.R. Baswedan. Baswedan yang pada waktu itu merupakan seorang pemuda yang masih penuh semangat, menjadi sangat senang dan kagum dengan ide MBA. Dalam kongres tersebut MBA melahirkan organisasi yang diberi nama Arabische Verbond (AV)  sebagai satu satuya tempat untuk bersatunya keturunan Arab di Indonesia. Dan dilanjutkan pada tahun 1935/1936, ia mendirikan Indo Arabiche Beweging (Nahdatul Muwalidil Arab) di mana ia menjadi Ketuanya.

Saking semangatnya dengan cita-cita dan impiannya, untuk mempersatukan Keturunan Arab,  pada saat akhirnya ia jatuh bangkrut dan terpaksa harus menjual saham kemana-mana. Dan dengan pudarnya usaha tersebut, organisasi IAV pun ikut pudar. Dari kegagalan organisasi tersebut, A.R.  Baswedan belajar dan melanjutkan perjuangan untuk mempersatukan golongan Keturunan Arab dengan organisasinya PAI. Tetapi setelah kegagalan IAV, MBA tetap berjuang dan tidak berhenti dengan ide-ide pergerakannya dan aktif dalam perjuangan fisik di Surabaya. Menurut anaknya, Fuad MBA Alamudi, sang ayah aktif dalam pertempuran 10 November di Surabaya. MBA merupakan salah satu komandan dalam  pertempuan di Surabaya, memimpin barisan pejuang Keturunan Arab. Hal ini dibuktikan dalam dokumen Catatan KMB milik Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang menyatakan bahwa : “1945, waktu Surabaya dalam bahaya, pada mana ada 160 pemuda Arab yang sehat didirikan Palang Merah Arab yang bekerja siang dan malam menolong korban pertempuran, dimana MBA Alamudi merupakan pemimpinnya.”

Dan setelah pertempuran selesai, MBA aktif dalam memimpin pengaturan Pemolisian di Surabaya, yang disebut sebagai Organisasi Particuler Polisi Barisan, untuk menjamin keamanan dalam Kota Surabaya paska perang. Selain itu ia juga mendirikan Comite Makanan (Comitte Makanan Daerah Nyamplungan), dengan mengumpulkan bantuan dari semua pihak untuk mengusahakan makanan yang dibagikan untuk masyarakat umum setelah perang Surabaya, termasuk di dalamnya obat–obatan dan pakaian untuk masyarakat.

Selain kegiatan pergerakannya, MBA juga merupakan pedagang eskpor dan impor yang sukses pada waktu itu. Antara tahun 1935 – 1944, ia menjadi eakil dari organisasi dagang “Perserikatan Dagang Asia”. Pada tahun 1947-1948 MBA juga menjadi Ketua Arabische Handels Vereniging di Surabaya. MBA memiliki usaha bisnis antara lain di Jepang, Amerika dan Prancis, dengan perusahaannya yang bernama NV Suez Trading yang sempat memiliki kantor di Prancis. Konon menurut penuturan anaknya, sampai sekarang bangunan gedung kantornya masih ada.

MBA menikah empat kali dalam hidupnya, yang pertama dengan Rugayyah binti Muhammad Alamudi, kemudian  dengan Siti Maryam (ibu dari Fuad MBA Alamudi) yang merupakan cucu langsung dari Sultan Mahmud Badaruddin (Kesultanan Palembang) yang waktu itu dibuang oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Pulau Bacan. Kemudian menikah lagi dengan Maryam Baadillah, yang masih dekat dengan keluarga Des Alwi, Ba’adilla yang ada di Banda Neira.

MBA Alamudi meninggal pada tahun 1972 di Jakarta, di kediamannya di daerah Cawang Kavling Jakarta Timur, yang sekarang  ditempati salah seorang  anaknya, Fuad Alamudi. Fuad Alamudi juga merupakan salah seorang pemuda pergerakan yang aktif didalam usaha usaha kepemudaan dan juga di dalam operasi pemberantasan Komunis di Indonesia pada masanya.

About the author

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda