Hamka

Buya Hamka: Hidup Sehat dengan Syariat (5)

photo of wooden boat on sea
Written by Panji Masyarakat

Suara Hati

Kalau tidak dapat dikatakan akal telah terbuka sebelum ada syariat, tidak pula dapat dikatakan sebelum syariat itu ada akal telah sanggup bekerja sendiri. Keduanya mesti dijadikan satu. Yaitu syariat menuntut akal kepada kesempurnaannya dan akal senantiasa mencari syariat yang benar.

Sebab itu di samping mempelajari agama, hendaklah kita senantiasa memperhalus akal, memperdalam penyelidikan batin, memperkuat suara hati (dhamir). Apabila akal telah dididik, kerap kali kita akan mendapati keputusan akal yang waras, atas baik dan buruknya sesuatu, kemudian setelah kita ujian dengan aturan syariat, kedapatan persesuaiannya. Seorang Badui telah ditanyai orang apa sebabnya dia beriman kepada Nabi Muhammad SAW.  Dia menjawab, makanya dia tertarik kepada syariat Muhammad ialah tiap-tiap ada satu perintah yang didatangkannya sebelum itu sudah ada suara hatinya. Alangkah baiknya kalau diperintahkan demikian. Dan kalau datang larangannya, sebelum itu hati telah bergerak mengatakan, alangkah baiknya kalau perbuatan demikian dilarang Nabi.

Cobalah perhatikan bagaimana akal dijadikan dasar perintah. Tidak ada perintah dan tidak ada larangan yang tidak berdasar atas kewarasan akal. Disuruh hormat kepada ibu dan bapak. Diberi pula alasan akal bahwa patutlah orangtua dihormati. Sampai dua tahun ibu mengasuh, sekian payah ayah membelanjai. Sekian tumpahan cintanya kepada kita, adakah tak patut dia dihormati?

Dititahkan salat. Diterangkan-Nya bahwa salat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Di dalam An-Nisa: 125, dikatakan-Nya bahwa agama yang diterima Tuhan ialah agama yang semata-mata menghadapkan wajah kepada Allah. “Siapa lagi yang lebih bagus agamanya daripada orang yang menghadapkan wajahnya kepada Allah dan diiringinya pula dengan berbuat baik, ihsan, dan diikutinya pula agama Nabi Ibrahim yang lurus? Dan telah mengambil Allah akan Ibrahim menjadi khalil.”

Siapakah yang lebih baik agamanya dari agama orang menghadapkan muka semata-mata kepada Allah dan menyerah bulat? Di dalam pertanyaan itu tersimpan mafhum bahwa tidak ada lagi agama yang lebih baik dari itu. Betapa tidak? Akal sendiri telah mengakui perkataan itu, ketika membaca ayat itu sendiri. Di dalamnya disebut, Aslama wajhahu lillahi, menghadapkan wajahnya kepada Tuhan atau menyerah. Islam artinya menghadap atau menyerah bulat-bulat. Adakah lagi agama yang melebihi itu? Agama yang senantiasa berserah diri? Tidak mengen- cong kepada yang lain? Tidak berdua hati? Tidak memperserikatkan?

Bertambah Ajaib

Bertambah lanjut orang berpikir, bertambah hilanglah dia ke dalam rahasia gaib. Segala sesuatu berhenti pada titik permulaan dan kesudahan. Dari segi yang mana pun kita masuk, ujungnya kegaiban juga. Bertambah jelas suatu soal, bertambah pula ajaibnya.

Goethe, filsuf Jerman yang terkenal itu, setelah menilik agama Islam dengan saksama, pernah berkata, “Kalau ini yang bernama Islam, apakah kita ini, yang memang bertujuan demikian, tidak patut dinamai seorang Islam?”

Menyerah bulat-bulat setelah menyelidiki dengan sepenuh daya, menghadap dengan sepenuh hati, diiringi  dengan ihsan,  yaitu berbuat baik,  menjaga kebaikan.  Adakah lagi yang lebih baik dari ini? Apatah  lagi tujuan menghadap  ialah karena ikhlas, jujur, dan tunduk, yang  semuanya telah diliputi oleh perkataan aslama, menghadapkan muka, itulah Islam. Seorang teman saya warga negara Amerika, bernama Amir Rasyid, ketika ziarah ke rumahnya di New York berkata, “Banyak orang yang tidak Islam, dia telah Islam dalam berpikir, tetapi dia tidak tahu.”

Kedatangan Islam untuk memperbaiki diri, jiwa, dan batin, untuk memperluas budi pekerti dan perangai. Menyuburkan perasaan cinta akan Allah dan membesarkan-Nya, bersyukur atas nikmatnya yang tiada terhitung, mengandung rahasia dan hikmat yang dapat tercapai oleh hati, apabila kita bertambah sungguh beribadat.

Belum sempurna Islam kalau kita belum menghidupkan jihad, yaitu perjuangan. Perjuangan yang paling penting ialah perjuangan dalam hati sendiri, perjuangan menegakkan budi yang terpuji dan menghapus perangai yang tercela, dan ingat akan Tuhan. Perjuangan menghindarkan kelalaian dan kealpaan terhadap jalan Tuhan, yang membawa kita terikat kepada dunia, tertambat kepada hawa nafsu dan dikurung di terungku oleh cita-cita yang palsu.

Di samping itu diajak supaya bersama-sama mengerjakan ibadah. Diajak salat yang berjamaah (bersama-sama). Menunaikan ibadah haji ke Mekah pada waktu tertentu, bersama-sama. Supaya dari jalan ibadah timbullah persatuan dan perdamaian, di dalam urusan yang lain, dalam masyarakat, di dalam berkota-bernegeri, berkorong berkampung, berbangsa bertanah air. Karena tiadalah sanggup manusia menyisihkan dirinya dari sesama manusia. Dengan persatuan dan perdamaian, dapatlah ditolong orang kesempitan dan kesusahan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Setelah itu diperintahkan pula kaum muslimin mempelajari riwayat umat yang terdahulu, sejak dari Adam—bapak segenap manusia— lalu kepada zaman nabi- nabi yang datang di belakangnya. Diketahui umat yang naik bintangnya supaya diselidiki dari mana sebab-sebab kenaikan itu. Dilihat pula riwayat umat yang telah jatuh, diselidiki pula dari mana sebab-sebab kejatuhan itu.

Diberikan pokok ajaran bahwa segenap manusia di dunia itu adalah umat yang satu. Perbedaan bangsa dan suku bangsa bukanlah buat bermusuh-musuhan, tetapi untuk saling mengenal. Alangkah murninya ajaran ini.

Menjaga Nama Allah

Perintah yang paling penting pula dalam Islam untuk memelihara hidup, yang menjadi pusat segenap filsafat hidup kaum muslimin ialah takwa. Takwa itulah pusat kehidupan dalam Islam. Kalau hendak mengetahui filsafat atau rahasia kehidupan yang dianjurkan Islam, takwalah pokoknya. Takwa artinya memelihara. Memelihara hubungan dengan Tuhan semesta alam dengan hati yang tulus ikhlas dan suci. Memperteguh hubungan dengan sesama makhluk hidup. Jangan berbuat kepada orang lain, barang yang kita sendiri tidak ingin kalau orang berbuat begitu kepada kita. Beriringan dengan itu ialah berbuat ihsan, yaitu beribadah kepada Tuhan, seakan-akan terasa di hari kita melihat Tuhan.

Setelah itu sabar, tahan menanggung sakit hidup, teguh menderita percobaan dalam perjuangan, rela menerima apa saja keputusan Tuhan. Malu, yaitu perasaan yang timbul di dalam hati kalau-kalau diri sendiri telanjur mengerjakan pekerjaan yang menjatuhkan murrnh menjatuhkan air muka, terutama di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Diperintahkan hilm, yaitu tenang ketika marah, diiringi oleh pemaaf, artinya tidak membalas dendam sakit hati kepada orang lain, hatta pada waktu sanggup sekalipun. Diperintahkan berani karena benar, takut karena salah. Diperintahkan cemburu menjaga nama Allah dan nama Islam pun menjaga ketertiban pergaulan hidup, apalagi di dalam rumah tangga. Diperintahkan santun kepada orang lain, insaf melihat fakir dan miskin. Diperintahkan mencukupkan nikmat apa yang ada. Diperintahkan bersikap lemah lembut, cinta, dan ingin kepada kesempurnaan. Diperintahkan menyelidiki rahasia agama dan hikmatnya sampai sedalam-dalamnya. Diperintahkan pula takut dan harap, takut akan dapat murka Tuhan dan harap akan belas kasihan-Nya. Diperintahkan berembuk dan bekerja bersama-sama mencari jalan dan ikhtiar bagi keselamatan hidup dan dunia. Teguh memegang janji dan menghubungkan silaturahmi. Cinta kasih kepada sesama hamba Allah. Mendamaikan di antara dua orang yang berkesumat.  Cinta karena Allah dan benci karena Allah. Baik sangka, berlaku cerdik dan bijaksana. Bersikap tenang dan segera beramal yang baik. Teguh dan tidak berkisar di dalam mempertahankan kebenaran. Rindu kepada Tuhan, cinta kepada Tuhan, kasih kepada-Nya dan ingin menemui-Nya. Ialah dengan jalan memperkuat amal dan ibadah serta berbuat jasa kepada sesama hamba Allah. Istikomah, tegak lurus di dalam kebenaran, tak surut selangkah, tak mundur setapak. Teguh.

Diperintahkan mencari harta benda untuk tongkat hidup dengan jalan yang halal dan terpuji, serta menafkahkannya pada jalan yang berguna. Diperintahkan memerdekakan diri dari ikatan syahwat. Menyelidiki dan mengoreksi diri sendiri sebelum menyelidiki salah orang lain.

Dilarang keras kufur, memperserikatkan Allah dengan yang lain. Dilarang fasik dan durhaka, tidak mengikut suruhan dan tidak menghentikan larangan. Dilarang mengikuti kehendak hawa nafsu. Riya, beramal karena mencari pujian manusia semata-mata. Benci kepada sesama insan. Dilarang ujub yaitu menyangka diri sendiri telah cukup. Dilarang hasad, dengki, menginginkan supaya nikmat Allah dicabut-Nya dari orang lain dan senang kalau orang mendapat kecelakaan. Dilarang bermusuh-musuhan. Dilarang berani babi, dan dilarang pengecut. Dilarang jahat sangka kepada Tuhan atau menyangka alam ini hanya penuh dengan kejahatan sehingga tak dihargai kebaikan yang ada di dalamnya. Dilarang berhati batu sehingga tidak ada perasaan halus melihat orang yang sengsara (dan seterusnya).

Semua itu dan beberapa larangan yang lain, sesuai dengan akal yang waras. Gunanya bukanlah untuk kebersihan hidup orang lain saja, tetapi terutama untuk kemuliaan hidup sendiri, memelihara harta, akal, dan kehormatan. Semuanya, dan juga yang lain, cukup terbentang di dalam Al-Quran, hadis, dan kitab-kitab agama.

Sumber: Panji Masyarakat, 6 Januari 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda