Cakrawala

Siluet Kota dan Ruh Peradaban

Muhammad Farid Wajdi pernah mengulas dalam bukunya “al-Islam fi ‘Ashr’il-‘Ilmi” tentang apa yang ia sebut sebagai ruh peradaban. Menurut cendekiawan muslim Mesir ini,  di tiap periode sejarah ada peradaban terkuat yang dominan, ruhnya sedikit banyak akan mewarnai peradaban lain dunia. Kata dia, ruh tersebut hadir bak kekuatan hipnotis.  Di awal bisa dirasa orang yang terpapar sembari masih sadar. Namun perlahan ia terbawa hanyut dalam arus kekuatan tadi hingga kesadarannya hilang, lalu tenggelam dalam kendali penuh kemauan penedung.

Ruh peradaban adalah ide utama yang menjadi poros seluruh aktivitas dalam sebuah peradaban. Ia mewarnai seluruh serat hidup, dari rutinitas sehari-hari hingga sistem di institusi tertinggi seperti negara. Pun kultur material tak luput dari spektrumnya. Sehingga ruh tadi sejatinya dengan mudah dapat dipindai dari citra siluet kotanya. Kota adalah ruang di mana ruh dan paradigma peradaban dirupakan dalam bentuk fisik. Kota adalah kumpulan, kumulasi dan esktrak dari berbagai ide, rasa, dan aksi para pribadi dan kelompok masyarakat. Di kota, orang dari berbagai penjuru berkumpul, bekerja dan berkarya dalam keterhubungan yang kompleks. Semua ide, nilai, karya, dan organisasi yang lahir dari interaksi tersebut dirupakan dan diinstitusikan dalam bentuk bangunan dan tata ruang bernama kota.

Berbeda dengan hewan, manusia berbuat beranjak dari pilihan sadar. Pilihan diputus berlandas apriori atau persepsi. Persepsi adalah bias dari paradigma manusia tentang wujud (ontologi) dalam segala ragamnya, serta hubungan antarwujud tersebut. Bangunan hadir sebagai produk sosial budaya, dirancangbangun berdasar kebutuhan dalam mengakomodir fungsi sosial, ekonomi, politik, agama dan budaya. Kehadirannya dalam hal lokasi, bentuk, struktur, dan tampilan, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor materil, tapi lebih banyak oleh ide, nilai, kepercayaan, bentuk kegiatan, hubungan dan organisasi sosial di masyarakat.

Ada dua komponen kota: fungsi dan estetika. Ada kota yang hanya menghadirkan fungsi, ada pula yang menghadirkan keduanya. Secara fungsi, ia adalah ruang guna memudahkan pengguna melangsungkan akivitasnya sejalan kerangka paradigma tadi. Dalam hal ini, layaknya budaya, kota awalnya dibangun oleh manusia, dan pada tahap berikutnya ia pula yang mempengaruhi dan membangun manusia. Bangunan dan tatanannya memformula gerak dan perilaku penduduknya. Pertama mungkin hanya mengusik perhatian, lalu mengubah rasa dan selera, kemudian membentuk pilihan, hingga menjadi kesukaan dan perilaku kebiasaan. Nilai si pembangunnya, mempengaruhi dan berpindah kepada si pengguna. Secara estetik pula, kota, lewat simbol dan ornamennya menyentuh rasa manusia dan mendekatkan secara artistik nilai peradaban tadi di tingkat cita rasa insani, hingga pada gilirannya mewarnai kepercayaan dan pandangan alam.

Kota sejati dibangun  dengan ruh dan tatanan peradaban pembangunnya. Nilai tertinggi dalam struktur hierarki paradigmanya, akan dijelmakan dalam karya bangunan di tempat tersentral, terpenting dan paling menonjol di dalam kota; Dibangun dengan bahan mutu terbaik, ditempa dengan keahlian terunggul, diperhalus dengan sentuhan estetika tertinggi. Menatap siluet kota dari kejauhan, akan mengabarkan paradigma dan ruh peradaban manusianya.

Di era kuno tersohor Kota Babilonia. Seperti kota  Mespotamia lainnya, ia dibangun di hamparan tanah datar luas, di lembah dua sungai Tigris dan Eufrat. Begitu datarnya bentangan daratan yang terdiri dari padang pasir, lembah dan paya ini, hingga disebut jika Anda berdiri di atas sejilid buku tebal, Anda akan melihat seantero daratan, ujar James Davis dalam The Human Story. Di tanah datar mahaluas seperti ini dibangun Babilonia, lalu di jantung kota berdiri kekar biara bernama Ziggurat: jangkung mencolok, terlihat dari jarak yang jauh sekali. Ziggurat merupakan sentra dalam tatanan sosio-politik teokratis masyarakat Mesopotamia. Ziggurat dianggap penghubung langit dan bumi, dimana kuasa para dewa diwakilkan kepada para raja. Sembah, kurban, sesajian, dan berbagai ritual penghambaan terhadap kuasa dewa dan raja dilangsungkan disini. Pun berbagai aktivitas politik, sosial, ekonomi hingga keilmuan, berporos di bawah naungannya.

Ziggurat dianggap sebagai nenek moyang dan inspirasi arsitektur piramida kuno yang bisa ditemukan di hampir seluruh peradaban dunia kuno, dari Mongolia hingga Sub-sahara Afrika, dari Mesoamerika hingga kepulauan Mela-polinesia. Candi Hindu- Budha pun disinyalir merujuk ke sana. Struktur piramida adalah perwujudan konsep “homo-hierarchicus” — meminjam istilah Louis Dumont — dalam paradigma worldview tentang “manusia”. Tingkat tertinggi adalah para raja-dewa dan pemuka agama; rakyat jelata di pelataran terendah. Di altar piramida biasa dilakukan pengorbanan manusia: Ritual yang secara sosial ditafsirkan sebagai upacara mematrikan dan melanggengkan tatanan sosial politik yang ada. Penulis Homo Deus Noah Harari secara mencolok menyinggung bangsa Aztek yang dimusnah oleh kolonial Spanyol. Ia menggarisbawahi alpanya perlawanan berarti; Sebab jiwa merdeka mereka telah tertekuk dalam masa panjang lewat ritual pengorbanan manusia yang diparodikan para pemimpin dan pemuka agama di altar piramida. Ritual tersebut merupakan proses penjinakan dan instrumen tekanan sosial: Yang disembelih bukan hanya raga kurban, tapi jiwa dan semangat merdeka mereka. Tafsiran ini nampak senafas dengan ayat Injil yang menyebut bahwa ketakutan akan kematian menyeret manusia pada penghambaan (Ibrani (2): 14-15).

Athena dan Roma

Di paro  milenium sebelum Masehi, menjulang peradaban Yunani. Kota-kota Yunani (polis) biasanya dibangun di lereng bukit yang dibentengi dan dinamai akropolis. Athena merupakan kota utama. Di pusat kota terhunjam Agora. Agora biasanya dikelilingi tiang-tiang kokoh, kuil, perbendaharan kota dan bangunan umum. Komplek ini menjadi sentra politik, ekonomi, olah-raga, seni dan perhelatan umum lainnya. Dialog, mantik dan seni bicara, serta retorika “politik” yang merupakan karya dan nilai tertinggi dalam falsafah hidup Yunani, diartikulaskan disini. Manusia dalam worldview Yunani adalah makhluk politik (zoon politicon; atau homo-politicus). Lewat mantik dan retorika, Yunani berpolitik guna membangun kehidupan: Bukan sekadar hidup hewani dengan pemenuhan hajat biologis makan dan reproduksi, tapi kehidupan yang ia sebut “lebih layak untuk dihidupi”. Begitu Aristoteles menggambarkan dalam Politicá nya. Dengan catatan bahwa politik di Yunani yang bercorak demokrasi, hanya dilakoni para citizen atau civil, yakni manusia merdeka penduduk Athena. Wanita, hambasahaya, dan non-Athena adalah makhluk yang tidak dianggap manusia. Jika “insan” netizen Athena ada untuk politik, maka makhluk-makhluk tadi ada untuk menopang kebutuhan primer biologis tadi: yakni makan-minum (ekonomi) dan reproduksi. Pada masanya, Athena dihuni 40 ribu warga (citizen), dilayani oleh 110 ribu insan non-citizen yang tidak dianggap manusia.

Di era berikutnya hadir Romawi, mewarisi Yunani. Roma, begitu juga kota Romawi lainnya, lumrahnya didominasi oleh forum dan koloseum. Di forum ada pusat pemerintahan, pasar dan ruang publik kota. Koloseum pula merupakan arena pertunjukan tarung gladiator dan sayembara fisik lainnya. Meminjam pepatah sastrawan Romawi Titus Plautus: Homo homini lupus, manusia dalam worldview Romawi adalah serigala bagi sesamanya. Romawi menurut Roger Garaudy (Comment l’homme devint humain), tidak memproduksi banyak hal dalam pemikiran, hanya melanjutkan apa yang diwarisinya dari Yunani. Pun Romawi tidak begitu berinteraksi secara kultural, bahkan tidak mengenal kultur di luar batas wilayahnya seperti Persia, India atau Cina. Semua yang ia tahu hanya “kekuatan” sebagai satu-satunya jalan mengukuhkan kekuasaan. Romawi memang dikenal kuat dalam militer, sistem hukum dan struktur administrasi. Romawi hidup dengan menundukkan dan menguras semua bangsa taklukannya, hingga keruntuhannya pun dimulai dari dalam oleh adu-kekuatan dan pemberontakan para jendralnya, ungkap Garaudy.

Dari Madinah sampai Ternate

Milenum silam pula merupakan era peradaban Islam, terbentang dari Maroko hingga Merauke, dari Kazan hingga Kilwa. Kota-kota besar peradaban Islam di seantro Afro-Eurasia seperti Madinah, Makkah, Qudus, Damaskus, Baghdad, Cordova, Istanbul, Kairo, Samarkand, Delhi, Kabul, atau bahkan kota-kota tua kesultanan kepulauan Melayu Asia Tenggara: Pasai, Malaka, Aceh, Deli, Banten, Mataram, hingga Ternate, miliki kesamaan tata kota, di mana lanskapnya didominasi masjid yang lumrahnya berdampingan istana. Lebih dari sekadar tempat sembahyang, masjid bagi peradaban Islam adalah ruang pentransmisian nilai samawi ke muka bumi; Diletakkan di jantung kota agar ruhnya menafasi seluruh nadi kehidupan. Bahkan banyak kota dan pemukiman umat Islam dibangun berawal dari sebuah masjid, dan di beberapa kasus masjid berfungsi sekaligus sebagai pusat pemerintahan.

Tiga kota suci utama umat Islam tentu berbeda nilainya karena sentuhan langitnya. Madinah yang dibangun Nabi saw misalnya, bermakna kota dan secara leksikal seakar dengan terma madani dan tamadun, yang dalam Bahasa kita sebut peradaban. Sebelumnya Bernama Yatsrib, lalu menjadi Madinah bersamaan hadirnya masjid Nabawi, lalu terus tumbuh dan berkembang menjadi sebuah peradaban dunia dengan spirit masjid tadi. Qudus pula dalam Taurat dan Injil diimajinasikan vis a vis dengan Babilonia. Jika Babil pelambang pembangkangan dan kutukan, Qudus (Jerusalem) pula merupakan kota ilahi dan kota para nabi yang diberkahi. Lanskap Qudus adalah masjid, sinagog dan gereja. Jacques Ellul dalam bukunya “The Meaning of the City”, menggambarkannya sebagai kota Tuhan, dipilih dan dibangun hamba Tuhan dengan titah ilahi sebagai manifesto revolusi spiritual terhadap materialisme kota “manusia-manusia sesat” Babilonia. Makkah pula menjadi pemukiman lalu berkembang menjadi kota bersamaan kehadiran keluarga Ibrahim a.s., Beliau diperintah berhijrah dari Babilonia, lalu menetap di Syam, sekitar Quds. Saat Ismail beranjak belia, Ibrahim ke Makkah dan diperintah membangun Ka’bah: sepetak bangunan persegi sangat sederhana dari bebatuan, tanpa atap dan daun pintu; Di tengah gurun dan hamparan bebatuan tandus, tiada pohon menanungi, tiada oase menyejuki. Ibrahim diperintah lagi untuk menyeru segenap manusia berhaji; beribadah hanya membawa selembar pakaian tak berjahit menutup aurat. Disini hanya ada penghambaan dan tajarrud sejati. Labbaik, pertemuan ini hanya antara hamba dan Rabb atas dasar ikrar “qalu bala” dan seruan ilahi, tiada apa pun unsur materi duniawi.

Membaca panjang lebar sejarah Islam, Marshall Hodgson dalam mukaddimah karya monumental 3 jilidnya “The Venture of Islam” dengan sangat yakin menggarisbawahi bahwa spirit peradaban Islam adalah idealisme membangun kehidupan umat manusia yang benilai, beradab, berperadaban. Menurutnya, sejarah Islam yang panjang, dengan berbagai kelebihan dan kekurangan manusiawi aktor pelakunya, adalah kisah dinamika dan perjuangan nilai dalam mengejewantahkan ayat Qur’ani: “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk seluruh manusia, mengajak kepada yang makruf, mencegah hal yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”  (Ali Imran (3): 110). Sangat terang kiranya idea ini pada jawaban seorang tentara biasa, Rub’i b ‘Amir saat ditanya panglima Persia, Rustum, untuk apa kedatangan mereka? Jawabnya dengan tegas setelah melihat kaula Persia bersujud di depan Rustum: Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia, untuk hanya menghamba kepada Allah. Singkatnya, terma “Homo-islamicus” yang diajukan Davutoğlu dalam Alternative Paradigm-nya, dengan makna insan muslim yang hanya “berserah” dan menghamba pada Allah, nampaknya tepat mengungkap ruh ini.

Dubai, Jakarta, bahkan Mekah

Sejak abad 17 mulai bangkit dan mendominan peradaban Barat, bermula dari Eropa. Era modern ini adalah eranya. Kita akan menilik Paris di sini, sebab posisinya khas dan istimewa dalam sejarah dan kultur Eropa. Di abad pertengahan Paris — begitu juga rerata kota Eropa lainnya — merupakan kota gotik yang mencerminkan pengaruh kuat kristen Katolik. Kota layaknya altar seremoni gereja. Paris lumrahnya disimbolkan dengan katedral Notre-dame, yang menjadi ikon utamanya selama berabad; Hingga Baron Haussmann mereformasi wajah Paris dan membangun menara Eiffel untuk menjadi simbol kota barunya. Eiffel adalah setumpuk beribu ton besi-baja, dirangkai layaknya struktur bangunan industri, sebab ia dirancang guna melambangkan kemajuan teknik dan Revolusi Industri, yang dilihat sebagai anugerah dari revolusi Perancis, buah dari gerakan Ronesans. Jika Eropa di era Kristen memproyeksikan manusia sebagai “homo-iosis” (makhluk Tuhan), pada revolusi industri pula lebih menonjol definisi manusia sebagai “homo-faber”, makhluk yang mencipta alat guna menundukkan alam dalam menentu takdirnya.

Kota-kota modern dunia saat ini pula nampaknya sudah tak punya kekhasan masing-masing lagi. Hampir seluruhnya lewatkan sunset dengan image siluet yang mirip: gedung pencakar langit yang merupakan kantor dagang, hotel dan pusat belanja. New York yang mengklaim diri sebagai ibu kota dunia, pada masanya diikoni oleh Manhattan World Trade Center. Pun kota besar lain mulai dari Toronto di utara, Melbourne di selatan, hingga Hongkong dan Tokyo di timur: semua tampil jangkung dengan pusat bisnis dan belanjanya. Kota-kota masyarakat muslim yang dinobat religius hingga radikal pun turut berlomba tak kalah trendi dengan siluet sentra-sentra bisnis dan finansial pencakar langitnya. Lihat misalnya siluet Dubai, Baku, Kuala Lumpur, Jakarta, dan  bahkan Mekah nyaris disulap ke arah sana.

Ringkasnya, ruh peradaban dunia modern adalah kapitalisme. Ruh ini meyebar merasuki relung hidup masyarakat di seluruh ceruk dunia. Berpijak paradigma materialisme, ia beratraksi dengan dua kultur utama: produksi masal dan konsumerisme. Ritual rutinnya adalah parade belanja (shopping parade), kata  Lewis Mumford dalam karyanya, The Culture of Cities.  Manusia dalam worldview peradaban modern adalah makhluk ekonomi, homo-economicus.  Ekonomilah poros akal, budi dan karyanya, dalam perilaku sehari-hari hingga visi dan sistem di institusi negara. Maka untuk memahami manusia dan persoalan yang dibuatnya hari ini, ekonomilah pintu (bab) utamanya. Wallahu a’lam bish-shawab

About the author

Andika Rahman Nasution

Penulis sedang mengikuti program doktoral di Istanbul Sahabattin Zaim University, program Kajian Sejarah dan Peradaban. Saat ini bergelar MA (Master of Arts) bidang Sosiologi Agama.

Tinggalkan Komentar Anda