Cakrawala

Puasa, Lebaran, dan Wejangan Sufi Tua

Tergeletak di tempat tidur, orang tua itu segera sadar, ajalnya nyaris sampai. Tak ada lagi yang mesti dilakukan, kecuali mulai mengamanatkan warisannya. Dan warisan baginya berarti sejumlah nasehat buat putra-putrinya. ‘Warisan’ itu, antara lain, punya bunyi begini: “Anakku, sadarilah, bahwa bahwa apa yang selama ini engkau sangka sebagai dirimu itu hanyalah ramuan dari keyakinan-keyakinan orang lain yang dijejalkan ke dalam dirimu, tetapi ingatlah, itu bukan dirimu yang sebenarnya!”

Ini bukan wejangan model ‘angkuh’ seperti yang sering dipidatokan oleh para penganut  eksistensialisme. Bukan juga kumpulan khotbah seorang tokoh deteminisme historis. Ini hanya wejangan seorang sufi tua yang sederhana. Iskandar namanya, dari Balkh muasalnya. Dan, yang ia sebut sebagai warisan, cuma refleksi atas hidupnya sendiri yang sederhana. Iskandar tidak sedang ikut berpayah-payah dalam keruwetan sistematika para ‘filsuf. Nasihatnya muncul dari jantung pengalaman hidupnya sendiri; dari pergaulannya yang intens dengan kehidupan; dari kewajaran sikapnya yang menggumuli nuansa-nuansa yang menguap dari tiap dimensi kehidupan. Jelas, nasehatnya bukan produk dari abstraksi-abstraksi teoretis, maupun asumsi-asumsi ideologis; dua soal yang kerap kali bikin sesat orang.

Abdullah jadi Abdul Alam

Apa relevansi omongan sufi tua yang hidup sekian abad yang lalu itu dengan kita yang hidup di alam serba modern ini? Atau, jangan-jangan sufi tua itu sedang mengigau? Mengada-adakan yang sebenarnya tak pernah ada? Ini bisa jadi. Namun, tampaknya, nasihat sufi tua ini semakin besar jua relevansinya buat kita. Kita, yang tiap hari dilihat dalam putaran arus modernitas, yang hampir-hampir menyita seluruh waktu, tenaga dan pikiran. Kita yang tiap hari selalu digelandang ke sudut peradaban, dipersiapkan untuk menjadi sekrup-sekrup kecil dari sebuah mesin maha raksasa. Kita, yang tiap waktu secara diam-diam ikut dalam proses pemeretelan sifat kemanusiaan manusia, pengikisan watak-watak ilahiat dalam diri manusia, pembongkaran fungsi khalifah, pen-degradasikan status abdullah menjadi abdul alam. Kita yang…. Omongan sufi tua itu, tiba-tiba saja, jadi anak panah yang menghunjam tepat di jantung kita:  “sesungguhnya dirimu bukan dirimu!” Atau,  kalau pinjam istilah Francis Bacon: idola tribus, berhala-berhala lingkungan. Berhala-berhala yang memberi kita kacamata untuk melihat; earphone untuk mendengar; bahasa untuk bicara; rumus-rumus untuk berpikir; emosi untuk merasa, nilai-nilai untuk memutuskan; arah untuk bergerak; pokoknya; sesuatu ‘yang lain’ yang telah dikonstruksikan sedemikian rupa ke dalam diri kita oleh sebuah kekuatan raksasa, sesutu ‘yang bukan dirimu’.

Soalnya yang pokok: realitas mental, dalam batas tertentu, adalah bentukan dari realitas material. Struktur psikis manusia sering-sering cuma cermin dari nilai-nilai, norma-norma, pola-pola, ukuran-ukuran, struktur-struktur, lembaga-lembaga masyarakatnya. Kita salat, soalnya bapak-ibu salat; kita pakai celana, soalnya kalau telanjang dimarahi orang; kita menangis soalnya semua orang menangis; kita marah supaya bisa ikut kawan marah, semua kita sekolah supaya tidak ketinggalan sama tetangga yang sekolah semua, dan yang tidak sekolah bisa dijewer polisi; kita korupsi karena kiri-kanan korup semua. Para filsuf merumuskan dilema para manusia sebagai berikut: untuk berkembang, untuk maju ke depan, untuk menyempurnakan dirinya,  manusia mau tak mau, mesti selalu bersentuhan dengan ‘dunia luar’, alam dan masyarakat. Tapi ‘keluar’ ini bukan tanpa risiko, sebuah bahaya yang tak kecil sudah siap menerimanya: ‘dimakan’ alam atau masyarakat. ‘Dimakan’ artinya sangat tergantung, terpenjara. Sekadar untuk makan enak, modelnya sekarang kita mesti sedia ber-homo homini lupus; makan orang-orang lain dulu, baru mengunyah hamburger. Untuk cari puas, orang bisa blingsatan terbang ke hotel-hotel mewah, ke Singapura, Tokyo, atau New York; bikin avonturir seksual sama bule-bule atau mengonsumsi barang-barang yang aduhai. Yang miskin, cukup gigit jati atau menusuk perut temannya. Rupanya, segala sesuatu yang ‘dipegang’ manusia, memang punya potensi untuk jadi penjara. Soalnya bermula dari ketergantungan. Dan, jangan lupa, justru dari ketergantunganlah segala macam bentuk penyelewengan, manipulasi, eksploitasi, penindasan, dst., ini bermula. Tanpa ketergantungan, segala soal itu boleh dicoret dari daftar pemusing kepala.

Sekadar tahu: Ali Shari’ti sekali waktu pernah coba-coba bikin rumus soal penjara-penjara macam ini. Menurut dia, ada empat penjara yang selalu jadi bayang-bayang buat eksistensi  manusia, yaitu: alam, materi, sejarah dan masyarakat. Ini soal teori, soal wawasan;  dan kita masih boleh rebut sekitar soal ini; namun, ada baiknya kalau mulai dibicarakan soal metode pembebasan diri. Artinya: kalau kita tahu bahwa yang namanya penjara itu ada, lantas bagaimana kita mesti membebaskan diri darinya? Apa cukup meniru Albert Camus: ‘aku ada, maka aku memberontak habis itu selesai? Atau, kita tiru saja suara Karl Marx: kita mesti bikin revolusi, supaya realitas material yang mencong bisa dibikin lurus; dan dengan sendirinya realitas mental manusia akan berubah? Atau, kita pilih cara lain, yang lebih sederhana, yaitu  metode kaum monis, para petapa.  Rumus  mereka mudah sekali: untuk tidak basah, jangan mandi sekalian. Artinya kira-kira begini: supaya tidak jadi barang mainan alam dan masyarakat, mari kita ucapkan sayonara sama ‘kedua setan yang terkutuk’ itu. Cara sayonaranya juga sederhana saja: ngumpet ke dalam gua-gua, hutan-hutan, kuil-kuil, biara-biara, dll. Tidak usah peduli sama segala macam tetek bengek urusan duniawi, sekalipun ada nuklir meledak tepat di sampingnya, ya, terus saja meditasi.  Mudah bukan? Jurus ngumpet memang cukup rasional, tak akan ada dampak apa-apa; kalau ada pun paling-paling cuma satu: bila seluruh dunia disuruh ngumpet, sejarah mandek! Tamatlah Riwayat ‘manusia’, dan tak ada cerita yang bikin penyair menulis puisi.

Puasa, Lembaga Pembebasan

Bukan kebetulan bahwa setelah usai puasa, kita disongsong dengan hari raya yang namanya Idul Fitri. Fitri bisa dikasih arti suci. Dan kalau kita bicara soal fitrah, artinya boleh begini: keadaan ‘asli’ bukan berarti cuma pakai  koteka, loncat-loncatan sambal telanjang, atau teriak-teriak tidak karuan di tengah hutan; yang begini ini monyet namanya. Jadi, konklusinya: puasa adalah proses pemahaman, pengenalan, penemuan diri sebagaimana ia dicipta dan dikehendaki oleh Allah.

Puasa adalah lembaga pembebasan, lembaga emansipatoris.  Dengan puasa, orang diharapkan dapat melakukan pembongkaran diri. Dengan demikian, ia mampu membebaskan dirinya sendiri dari penjara-penjara alam maupun kultural. Prinsip tidak makan, tidak minum, tidak mengumbar syahwat dan nafsu-nafsu lainnya; adalah semacam metode distanasif  terhadap alam dan materi, untuk melihat dan kemudian membebaskan diri dari ketergantungan terhadap keduanya. Prinsip ini, juga dasar untuk pengenalan diri yang lebih lanjut. Tapi, sekarang rupanya mode yang dipakai yang lain lagi ujung pangkalnya: siang hari lapar, malam hari bikin malam besar (dari penelitian kecil-kecilan, ternyata uang belanja waktu puasa hampir sama dengan tidak puasa, sering-sering malah lebih besar). Atau katanya, orang lapar supaya dapat coba-coba menghayati hidup orang miskin, tapi tahunya, terhadap tetangga-tetangga yang kelaparan selama bertahun-tahun orang lebih suka pilih sikap diam seribu bahasa.

Selama puasa, Rasulullah selalu melakukan itikaf, mulai hari ke-10 sampai hari puasa terakhir (kecuali di malam ke-20). Itikaf nyaris mirip dengan prinsip pertapaan. Orang harus melepas semua hubungan dengan segala sesuatu yang ‘duniawi’ sifatnya. Diam di masjid, dan prinsip pembongkaran diri, katarsis, sampai dipuncaknya.

Seorang teman menyebut puasa sebagai arak. Untuk membuat arak, buah anggur mesti dibusuk dahulu, setelah busuk ia akan mengeluarkan air yang disebut arak. Semacam pengabadian anggur; karena, bila anggur dibiarkan busuk dan terbuang percuma, tapi setelah di proses jadi arak makin lama makin enak rasanya dan maha harganya. Ini cuma analogi sederhana. Dengan itikaf, kita mulai dialog dengan realitas mental kita sendiri, dengan realitas material di sekeliling kita. Kita berdialog dengan Al-Qur’an untuk memproses anggur kultural kita jadi arak spiritual. Kita busukkan diri, agar arak memancar. Kita berdialog dengan Allah, untuk membongkar seluruh persepsi kita terhadap realitas, membusuknya; dan lewat pencerahan muncul hikmah-hikmah. Lewat pencerahan kita temukan status kita sebagai abdullah dan fungsi kita sebagai khalifatullah; dan persepsi, cara pandang terbaru terhadap realitas akan muncul. Penjara-penjara sejarah masyarakat dibongkar, dibusukkan, dan mengalir arak; kesadaran tentang posisi manusia di tengah sejarah dan masyarakat, tanpa lagi dibebani dengan ketergantungan.

Menjadi Alternatif

Masjid adalah basis, sosial dalam proses kultural dan historis. Lewat masjid semua proses itu berangkat dan kembali. Dan, puasa adalah basis individualis dalam proses kultural dan historis. Ketika fitrah telah dikenal kembali ketika status Abdullah dan fungsi khalifatullah telah dipahami; maka proses perealisasian diri secara historis dan kultural telah dimulai kembali.

Puasa sebagai arak kultural, bisa dianalogikan dengan cara kerja jantung; mencerap darah kotor, membersihkannya, untuk kemudian mengedarkannya kembali ke seluruh organ tubuh manusia. Ketika kita merealisasikan diri keluar, lewat persentuhan dengan alam, materi, sejarah, dan masyarakat; ada kemungkinan kita terpenjara di dalamnya. Maka kita juga mesti ‘masuk’, membongkar bekas-bekas persentuhan kita dengan unsur-unsur tadi untuk menemukan fitrah diri untuk kemudian ‘keluar’ lagi untuk mengolah alam, materi, sejarah, dan masyarakat. Prinsipnya bisa dirumuskan begini: Keluar untuk masuk, masuk untuk keluar. Ini bukan permainan kata-kata!

Dasar pijakan yang dipakai dalam Islam jelas: manusia bukanlah sekadar obyek dari alam, materi, sejarah, dan masyarakat; tapi subjek khalifatullah fil ardhi. Ia tidak boleh ngumpet, meninggalkan sejarah dan masyarakat. Ia harus terlibat aktif dalam proses sejarah dan pergerakan masyarakat; menukik ke tengah proses untuk mencari alternatif-alternatif. Dan, setahun sekali, manusia mesti menyediakan sedikit waktu untuk ngumpet; membongkar  penjara-penjara yang mungkin telah berdiri karena keterlibatan dengan alam, materi, sejarah, dan masyarakat. Setelah menyadari fitrahnya; manusia akan mampu melihat struktur-struktur, Lembaga-lembaga, pola-pola, hubungan-hubungan nilai-nilai, norma-norma yang menindas manusia, yang tidak manusiawi, yang merontokkan harkat manusia, yang menghambat proses pemanusiaan manusia , yang menyudutkan orang miskin, yang tidak adil, yang cuman menguntungkan kelompok-kelompok tertentu, yang timpang, yang…. Dan setelah itu, harus mulai bergerak untuk membikin perubahan, memulai babak baru pergumulan kita. Setelah mengenal fitrahnya, manusia akan mampu mengerahkan tenaga-tenaga alam, materi, sejarah, dan masyarakat, untuk mengembangkan semaksimal mungkin potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Dan soal ini tidak akan pernah dirumuskan secara final, ia terus bergerak dan berkembang; ini adalah proses dialektis belajar-mengajar yang tiada hentinya. Puasa adalah tahap pendewasaan diri dan masyarakat dalam proses belajar-mengajar yang tak henti-hentinya.

Saat Lebaran, Saatnya….

Sebentar lagi Idul FItri datang. Selalu saja kita sibuk mematut-matut diri di muka cermin, berhias-hias sampai berlepotan. Di saat begini, tiba-tiba saja wasiat Iskandar dari Balkh muncul dari balIk kaca, dan menghunjam tepat di jantung kita: “sesungguhnya dirimu bukan dirimu”. Kita cuma bisa marah, mengambil ketupat dan melemparkannya ke cermin; sambal terus menggerutu: “bukankah ini sudah fitri?” Lantas semuanya hilang, terlupakan. Lebaran, tentu saja, bukan saat untuk mikir yang tidak-tidak. Lebih enak, bikin pesta, tamasya atau senang-senang lainnya. Yang penting kita sudah puasa dan kini berlebaran, buat apa sih bikin pusing mikirin tetek bengek pikiran. Biarkan saja Iskandar, sufi tua dari negeri Balkh itu  ngoceh sendiri. Minal aidin wal faizin, dan mari bernyanyi lagu anak-anak: Cilukba. Horee

Sumber: Panji Masyarakat, 1 Juli 1984.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda