Cakrawala

Meraih Fitrah Sepanjang Kehidupan

Written by Arfendi Arif

Kembali  ke fitrah adalah kembali pada kesucian manusia. Hadis Nabi yang populer mengatakan, setiap anak dilahirkan dalam keadan fitrah atau suci, hanya orang tuanya menjadikannya apakah ia menjadi Yahudi atau Nasrani.

Hadis di atas ingin mengatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada pembentukan perilaku manusia. Fitrah adalah bawaan lahir manusia. Dan, menurut teori para ulama,  seorang anak manusia yang lahir pada dasarnya sudah membawa potensi kebaikan, bahkan keyakinan pada Tauhid dan Islam. Hanya proses saling tarik menarik dalam hidup ini antara kebaikan dan keburukan  maka bisa terjadi potensi fitrah ini tersingkirkan. Dan, manusia hidup berlawanan dengan fitrah yang dibawanya.

Jadi fitrah itu adalah ibarat emas berharga yang hilang dalam kehidupan manusia. Lalu, bagaimanakah caranya untuk meraih kembali? Memahami fitrah dalam arti kembali pada kesucian manusia Al-Quran menjelaskan bahwa fitrah itu hanya bisa diraih melalui perjuangan hidup manusia di dunia untuk meraih kehidupan bahagia di akhirat.

Dan disinilah terjadi sebuah ironi atau drama kehidupan yang berlawanan secara diameteral. Manusia diuji kemampuannya di dunia ini untuk meraih fitrah kesucian manusia.

Ujiannya berupa corak kehidupan di dunia yang berbeda dengan pilihan kehidupan akhirat. Dan corak atau model hidup inilah yang dilukiskan dalam sebuah hadist Nabi,” Keutamaan akhirat pada hari ini dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai manusia, sedangkan hal-hal yang bersifat duniawi dikemas dengan kelezatan dan kesenangan” ( Hadis riwayat Tabrani).

Sejalan dengan hadist di atas Al-Quran mengatakan,” Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan pada apa-apa yang diingini yaitu  wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda tunggangan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali (Ali Imran ayat 14).

Dalam hadist dan ayat Quran di atas dijelaskan bahwa kehidupan dunia menawarkan kesenangan dan kelezatan jasmaniah-duniawi. Ia berupa kecenderungan pada harta kekayaan, wanita cantik, anak-anak, kuda tunggangan dan kalau sekarang mungkin kendaraan mewah model terakhir yang harganya miliaran, juga kegemaran menumpuk aset baik berupa tanah, properti, uang dollar, saham dan banyak lainnya.

Manusia yang mengejar kekayaan dan kemewahan  hidup di dunia menghabiskan semua waktunya untuk mengakumulasi harta. Hidupnya terfokus untuk mencari kesenangan yang ditawarkan kehidupan dunia, sehingga melupakan kehidupan kesucian atau fitrah yang telah dibawanya sejak lahir.

Tawaran kembali ke fitrah, yaitu hidup penuh kesucian, hanya ada pada pilihan hidup akhirat. Namun, kehidupan akhirat ini membatasi kesenangan hidup dunia. Pilihan hidup akhirat adalah mendekatkan diri pada Allah, beribadah pada-Nya, bersedekah dan berkorban harta untuk amal shaleh, menolong dan berbuat baik pada sesama manusia dan kehidupan alam ini. Kehidupan menyenangkan di akhirat pada tingkat sekarang ini hanya berupa janji, belum kongkrit.

Jadi sangat jelas kesucian dan fitrah itu hanya bisa kita raih ketika manusia mampu menahan syahwat dan nafsu keinginan yang bersifat jasmaniah. Puasa atau shiyam pada bulan Ramadhan adalah contoh kecil suatu upaya untuk melatih (training) meraih fitrah manusia. Manusia yang berpuasa adalah upaya untuk meraih kesucian atau fitrah dengan menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan seksual dengan isteri di siang hari, dan menahan diri untuk tidak berperilaku jahat dan kotor, serta dilatih bersedekah, membayar zakat, berinfaq dan membantu para fakir miskin dan kaum dhuafa. Intinya, menahan nafsu dan keinginan yang tidak baik.

Kondisi perjuangan manusia untuk meraih fitrah dan kesuciannya sekarang ini memang terasa berat. Tawaran kesenangan hidup diniawi sangat kuat memperdaya manusia. Kesenangan dan kemewahan hidup dikejar manusia dengan segala cara, bahkan tanpa memperhatikan aspek etika, hukum, moral, dan ajaran agama. Yang penting bisa mewujudkan keinginan nafsu egonya.

Kehidupan akhirat yang mampu mewujudkan kesucian dan fitrah manusia  sepertinya kurang diperhatikan dan tidak menarik mereka. Sehingga akhirnya kesucian dan fitrah manusia menjadi hanya sebatas konsep dan wacana yang sering diucapkan dan klise. Apalagi saat lebaran dan idul fitri semua orang menyebut fitri. Namun,  tidak menjadi perilaku yang sungguh diperjuangkan dan dihadirkan dalam diri setiap orang. Semoga perjuangan kembali ke fitrah tidak hanya saat Ramadhan, tapi terus berlangsung selama menjalani hidup ini.

Perjuangan meraih fitrah dan kesucian manusia tidak hanya selama Ramadhan, tapi sepanjang hidup manusia. Allahu ‘alam bis sawab. 

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda