Aktualita

Memetik Pelajaran dari Kasus Ade Armando

Kasus Ade Armando yang mengalami pemukulan pada acara demo mahasiswa 11 April 2022 menjadi pembicaan ramai di publik dan media. Peristiwa ini tidak disangka bakal terjadi dan jelas ini sebuah kejutan yang luar biasa.

Ade yang seorang dosen,  akademisi dan pembicara di berbagai talkshow media elektronika, dan juga aktif di media sosial, acap muncul dengan pernyataan yang menimbulkan ” kegerahan” masyarakat. Dan  beberapa kali pernyataannya yang dipersepsikan masyarakat menista agama, selalu aman dan tidak pernah tersentuh hukum. Sehingga muncul kesan di masyarakat ia kebal hukum dan terkesan dapat leluasa untuk berkata dan menulis apa saja, termasuk yang akan menciderai hati masyarakat.

Karena itu kasus dan musibah yang menimpa Ade Armando diserang dan dipukul pada momen demo BEM SI oleh pelaku yang dinyatakan oleh polisi bukan dari mahasiswa, seolah ingin menyatakan, bahwa secara formal hukum kamu sangat kuat, tetapi di masyarakat anda tidak memiliki hak istimewa dan perlindungan, anda harus diberikan ganjaran dan sanksi setimpal.  Itu mungkin yang tergambar dari simbol peristiwa yang menimpa pemilik chanel Cokro TV ini

Kita harus menarik hikmah dari tragedi Ade Armando sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ada tiga hal yang perlu dievaluasi sehingga kasus yang sama tidak terulang kembali.

Pertama, kita harus mengembangkan diri untuk menjadi manusia yang bijak dan arif. Dalam sebuah negara, bangsa dan masyarakat tidak mungkin orang satu paham dalam berfikir, beragama dan pandangan politik. Anda mungkin punya pandangan sendiri yang berbeda dengan mayoritas masyarakat. Karena itu setiap orang harus melatih diri dan dewasa dalam bersikap. Tidak bisa seseorang memaksakan kehendaknya pada orang lain. Dan tidak patut pula seseorang menghina dan  merendahkan orang yang berbeda dengan  anda. Bahkan, tak layak juga anda menista dan menjadikan sesuatu yang disakralkan masyarakat menjadi bahan guyonan dan tertawaan, termasuk juga mengolok-olok para tokoh yang dihormati masyarakat.

Menahan diri untuk tidak mempublikasikan ide yang sensitif, menyakiti masyarakat, dan tidak memprovokasi sikap permusuhan baik pada pribadi, ulama,  kelompok,  ormas dan lainnya.

Membuang sikap arogansi dan merasa anda yang paling benar. Dan anda merasa tidak akan kena sanksi hukum, jika menuding pihak lain dengan kata kasar, karena merasa  dekat dengan institusi kekuasaan juga sikap yang harus dikikis. Kearogansian dan kesombongan hanya akan melahirkan kebencian dari masyarakat. Mungkin masyarakat tidak bisa melawan secara hukum, tapi suatu kebencian yang sudah terbentuk dalam masyarakat akan dikhawatirkan melahirkan perilaku atau sikap yang berbahaya.

Kedewasaan dalam bersikap dan menghargai keyakinan orang lain adalah cermin sikap seorang demokrat. Seorang yang dalam batinnya memiliki jiwa luhur, menjunjung tinggi martabat manusia dengan perilaku  beradab dan berakhlak.

Manusia yang merasa dirinya hadir bersama orang lain, dan memberikan makna serta manfaat buat sesamanya, itulah sesungguhnya manusia yang dinilai sukses menjalani hidupnya. Sebaliknya, manusia yang hanya memproduksi kegaduhan dan melukai kehidupan orang lain ia ibarat hama yang merusak tanaman yang akan menghasilkan  panen yang mensejahterakan.

Melalui perbaikan diri secara individu, menata perilaku positif dalam hidup maka kita optimis  sikap kekerasan tidak punya peluang untuk hidup dan berkembang.

Kedua, agar kasus seperti Ade Armando tidak terjadi lagi maka negara yang memiliki hukum — bukankah negara disebut negara hukum (recht staat)–harus mampu menerapkan hukum secara adil. Hukum harus berlaku dan merata untuk semua orang ( equality before the law). Hukum harus tajam ke atas dan tajam ke bawah. Supremasi hukum dalam arti hukum di atas segala-galanya harus nyata berlaku di masyarakat

Dalam persepsi dan kesan masyarakat sekarang ini terjadi ketimpangan dalam penerapan hukum. Ada orang yang bila dinilai melanggar secara cepat ditangani oleh aparat hukum. Pada sisi lain ada orang yang dalam kapasitas yang sama melakukan tindak pidana sangat lambat ditangani,  bahkan terkesan orang tersebut kebal hukum, dan tidak di proses kesalahannnya.

Negara yang tidak menerapkan hukum secara adil hanya akan menyemai bibit-bibit kekecewaan dalam masyarakat. Dan kekecewaan ini ibarat kanker dalam tubuh yang akan menggerogoti   hingga ambruk dan menemui kematian.

Kekecewaan bisa merusak ketahanan dan keutuhan negara. Rasa kecewa pada hukum yang dianggap tidak adil selain menimbulkan hilangnya kepercayaan (trust) pada pemerintah, juga bisa menimbulkan hukum jalanan, hukum rimba atau main hakim sendiri yang menunjukkan tidak terciptanya ketertiban dan keamanan dalam masyarakat.

Disinilah pentingnya hukum dilaksanakan secara konsekuen dan murni dimana semua orang merasa diposisikan dan diperlakukan sama. Jika hukum mampu  memayungi semua orang maka tidak ada pertentangan dan konflik dalam masyarakat. Yang terjadi adalah masyarakat akan saling  menghargai dan saling menghormati.

Menurut Fahri Hamzah, dalam negara dimana posisi orang sama di mata hukum, maka dalam masyarakat akan tercipta saling menghargai dan mengawasi perilaku masing-masing. Bukan untuk menjatuhkan, namun  untuk mengingatkan atas berbagai kekeliruan dan penyimpangan yang mungkin terjadi.

Daya kritis inilah yang membuat kesetaraan  itu bisa tercipta, sebab semua pihak berfungsi menjadi pengawas, negara mengawasi perilaku individu dan masyarakat. Sementara masyarakat, baik secara individual maupun dalam kelompok-kelompok  sosial juga berperan melakukan pengawasan atas peran negara. Untuk itu pula diperlukan suasana kehidupan sosial dan politik yang bebas dan bertanggung  jawab dalam negara bangsa yang sadar atas peran hukum yang memayungi perilaku mereka ( Fahri Hamzah, Negara, Pasar dan Rakyat, Faham Indonesia, Jakarta, 2010, hal. 488).

Ketiga, faktor masyarakat. Masyarakat Indonesia di tengah kemajuan teknologi informasi saat ini makin melek informasi, makin kritis dan mampu membaca perkembangan politik. Masyarakat Indonesia sekarang bisa dikatakan makin cerdas dan dapat memantau arah dan kepentingan politik setiap rezim yang berkuasa.

Mereka bisa melihat apakah kebijakan penguasa atau pemerintah untuk kepentingan rakyat atau kepentingan pihak dan golongan tertentu. Ini menunjukkan bahwa suatu rezim yang berkuasa akan dipertimbangkan oleh masyarakat apakah diberikan kepercayaan atau tidak.

Dengan perkembangan kemajuaan sikap politik masyarakat ini maka setiap rezim yang berkuasa dituntut untuk bekerja dengan lebih mengutamakan kepentingan rakyat atau kepentingan yang lebih luas. Kalau hal ini dilakukan maka kelanggengan kekuasaan dan terciptanya pemerintahan yang stabil dan aman bisa diharapkan bakal terwujud. Sebab, selain dukungan dari rakyat, juga  rakyat merasa kebutuhan dan kualitas hidupnya merasa dilindungi. Dengan demikian maka konflik dan pertentangan dalam masyarakat tidak akan terjadi.

Tiga persyaratan di atas bila mampu dipenuhi pemerintah besar kemungkinan tidak bakal tercipta suasana chaos atau kacau. Konflik di antara masyarakat atau horisontal minim akan terjadi karena rakyat merasa terlindungi oleh hukum yang berlaku.

Demikian juga rakyat makin sadar dan terbuka  untuk saling menghargai, punya sikap toleransi pada perbedaan, dan tidak merasa dirinya paling benar. Dalam masyarakat dimana hukum berlaku dengan adil, rakyat pun bersikap rendah hati dalam kehidupan sosial dan antar sesama. Tidak ada sikap saling merendahkan dan memojokkan satu sama lainnya. Bahkan, sikap introspeksi diri yang menonjol.

Situasi sosial, politik dan ekonomi sekarang sikap menang sendiri yang mengemuka. Orang saling lapor ke penegak hukum untuk saling menjatuhkan. Bahkan, ketika lawan seterunya mati ditembak polisi bukannya menyatakan belasungkawa, malah mengirim karangan bunga ke polisii tanda berterima kasih. Sebuah bahasa simbol mengungkapkan kegembiraan hatinya.

Semoga kasus saling kebencian ini segera  berakhir dengan menerapkan tiga syarat di atas. Dan kasus Ade Armando ini kita petik sebagai pelajaran berharga    Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda