Bintang Zaman

Dokter yang Berpulang karena Sakit Maag

Written by Iqbal Setyarso

Ibnu Sina atau yang dikenal dengan Avicenna adalah seorang ilmuwan, filsuf muslim, dan dokter. Ia mempunyai nama lengkap Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina. Ia dikenal sebagai bapak pengobatan modern karena kemahirannya sejak kecil dalam pengobatan. Ibnu Sina juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filsafat dan pengobatan. Ia dilahirkan di Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dalam usia muda telah mahir dalam bidang kedokteran.

Ibnu Sina muda pernah amat bersukacita. Ia merasa mendapatkan pencerahan ikhwal teori metafisika  Aristoteles. Pencerahan itu membuatnya bersyukur kepada Allah. Kalau sudah ngebet bermunajat, Ibnu Sina segera meninggalkan buku-bukunya lalu berwudhu, lalu berdo’a dan bermunajat di masjid sampai hidayah itu datang, baru ia selesaikan kesulitan-kesulitannya. Saat malam telah larut, ia melanjutkan pembelajarannya, bahkan sampai ia bermimpi pun, masalah akan mengejarnya dan Ibnu Sina memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata-kata itu dicantumkan pada ingatannya; tetapi artinya tak jelas, sampai suatu hari ia peroleh pencerahan dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di sebuah toko buku seharga kurang dari tiga dirham. Ia amat gembira dengan tercerahkannya dari bacaan itu, yang mendorongnya bergegas untuk bersyukur kepada Allah lalu iapun sedekah untuk orang miskin.

Begitulah Ibnu Sina, sosok yang menulis tak kurang dari 450 buku dengan beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya itu memusatkan pada filsafat dan kedokteran. Ibnu Sina dipandang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” Karya paling terkenalnya, The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Dokter Probono

Kehidupannya dikenal lewat sejumlah karyanya yang masyhur. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretaris dan temannya. Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H)/980 (M) di rumah ibunya di Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara. Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.

Ibn Sina dididik di bawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intelektual dan seorang anak yang luar biasa pandai/child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagang sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama. Kitab ini mengupas kaidah-kaidah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Cukup lama Ibnu Sina menghadapi ‘masalah–masalah metafisika’ dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filsafat, di mana dia menghadapi banyak rintangan. Pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan tinggalkan buku–bukunya, berwudhu, lalu pergi ke masjid dan terus shalat sampai hidayah datang lalu iapun menyelesaikan kesulitan–kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya. Ia menstimulasi perasaannya dan meminum segelas susu kambing. Meskipun dalam mimpipun, masalah mengikutinya dan ia menjawab dan memberikan solusinya. Tak kurang dari empat puluh kali, dikatakan, Ibnu Sina membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai ia ingat teksnya dalam ingatannya namun  artinya tak dikenal, sampai suatu hari ia mendapat pencerahan lewat uraian singkat buku Farabi yang dibelinya di suatu toko buku seharga tiga dirham. Ibnu Sina bersukacita karena merasa bacaan karya Farabi itu sudah menuntunnya memecahkan misteri selama itu. Iapun segera bersyukur kepada Allah SWT dengan bersedekah untuk orang miskin.

Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode – metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat – obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Pekerjaan pertamanya menjadi fisikawan untuk emir, yang diobatinya dari suatu penyakit yang berbahaya. Majikan Ibnu Sina memberinya hadiah atas hal tersebut dengan memberinya akses ke perpustakaan raja Samanids, pendukung pendidikan dan ilmu. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama kemudian, orang yang iri atas keberuntungan Ibnu Sina menuduh Ibnu Sina sendiri yang membakarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan sumber pengetahuannya. Sementara itu, Ibnu Sina membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awalnya.

Ibnu Sina Pernah Sakit

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal. Dinasti Samanid tengah menuju keruntuhannya. Pada Desember 1004, Ibnu Sina menolak pemberian Mahmud of Ghazni, dan menuju kearah Barat ke Urgench (kini Uzbekistan modern), namun pekerjaan di Urgench menghasilkan gaji bulanan yang kecil. Maka Ibnu Sina mengembara lagi dari satu tempat ke tempat lain, melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan, untuk “unjuk kebisaan” Ibnu Sina. Shams al-Ma’äli Qäbtis, orang penting di Dailam, seorang penyair dan sarjana, mendorong Ibnu Sina menjadikannya pelindung. Namun sekitar tahun 1052, Shams al-Ma’äli Qibtis meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak.

Ibnu Sina sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, Ibnu Sina bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah rumah di dekat rumahnya sendiri di mana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini; dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.

Dalam dunia Islam kitab–kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Buku – bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun 1954. Karya–karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al Isyarat. An-Najat adalah resume dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan–karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya.

Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling masyhur adalah “Qanun” yang merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universitas Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam.


Diantara karangan – karangan Ibnu Sina adalah:

  1. As- Syifa’ (The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang Penemuan, atau   Buku tentang Penyembuhan). Buku ini dikenal didalam bahasa Latin dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Seluruh buku ini terdiri atas 18 jilid, naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan di Oxford University, London. Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M) dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M). Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu : (1) Logika (termasuk didalamnya retorika dan syair) meliputi dasar karangan Aristoteles tentang logika dengan memuat materi dari penulis–penulis Yunani kemudiannya. (2) Fisika (termasuk psikologi, pertanian, dan hewan). Bagian–bagian Fisika meliputi kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran). (3) Matematika. Bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari elemen–elemen Euclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, dan ikhtisar – ikhtisar tentang aritmetika dan ilmu musik. (4) Metafisika. Bagian falsafah, poko pikiran Ibnu sina menggabungkan pendapat Aristoteles dengan elemen–elemennya Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan untuk menyesuaikan ide-ide Yunani dengan kepercayaan–kepercayaan.Dalam zaman pertengahan Eropa, buku ini menjadi standar pelajaran filsafat di pelbagai sekolah tinggi.
  2. Nafat, buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’.
  3. Qanun, buku ini adalah buku ilmu kedokteran, dijadikan buku pokok pada Universitas   Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).
  4. Sadidiyya. Buku ilmu kedokteran.
  5. Al-Musiqa. Buku tentang musik.
  6. Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
  7. Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.Danesh Namesh. Buku filsafat.
  8. Danesh Nameh, Buku filsafat.
  9. Uyun-ul Hikmah. Buku filsafat terdiri atas 10 jilid.
  10. Mujiz, kabir wa Shaghir. Sebuah buku yang menerangkan tentang dasar – dasar ilmu logika secara lengkap.
  11. Hikmah el Masyriqiyyin. Falsafah Timur (Britanica Encyclopedia vol II, hal. 915 menyebutkan kemungkinan besar buku ini telah hilang).
  12. Al-Inshaf. Buku tentang Keadilan Sejati.
  13. Al-Hudud. Berisikan istilah – istilah dan pengertian – pengertian yang dipakai didalam ilmu  

      filsafat.

  1. Al-Isyarat wat Tanbiehat. Buku ini lebih banyak membicarakan dalil – dalil dan peringatan – peringatan yang mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan.
  2. An-Najah, (buku tentang kebahagiaan Jiwa)
  3. dan sebagainya

Dari Tenggelam sampai Berjarak pada Paripatetik

Dari autobiografi dan karangan – karangannya dapat diketahui data tentang sifat – sifat kepribadiannya, misalnya:

1) Mengagumi dirinya sendiri
Kekagumannya akan dirinya ini diceritakan oleh temannya sendiri yakni Abu Ubaid al-Jurjani. Antara lain dari ucapan Ibnu Sina sendiri, ketika aku berumur 10 tahun aku telah hafal Al-Qur’an dan sebagian besar kesusateraan hingga aku dikagumi.

2) Mandiri dalam pemikiran
Sifat ini punya hubungan erat sudah nampak pada Ibnu Sina sejak masa kecil. Terbukti dengan ucapannya “Bapakku dipandang penganut madzhab Syi’ah Ismailiah. Demikian juga saudaraku. Aku dengar mereka menyebutnya tentang jiwa dan akal, mereka mendiskusikan tentang jiwa dan akal menurut pandangan mereka. Aku mendengarkan, memahami diskusi ini, tetapi jiwaku tak dapat menerima pandangan mereka”.

3) Menghayati agama, tetapi belum ke tingkat zuhud dan wara’.
Kata Ibnu Sina, setiap argumentasi kuperhatikan muqaddimah qiyasiyahnya setepat–tepatnya, juga kuperhatikan kemungkinan kesimpulannya. Kupelihara syarat–syarat muqaddimahnya, sampai aku yakin kebenaran masalah itu. Bilamana aku bingung tidak berhasil kepada kesimpulan pada analogi itu, akupun shalat menghadap Maha Pencipta, sampai dibukakan-Nya kesulitan dan dimudahkan-Nya kesukaran.

Rajin mencari ilmu, keterangan beliau “aku tenggelam dalam studi ilmu dan membaca selama satu setengah tahun. Aku tekun studi bidang logika dan filsafat, saya tidak tidur satu malam suntuk selama itu. Sedang siang hari saya tidak sibuk dengan hal–hal lainnya”

4) Pendendam. Dia meredam dendam itu dalam dirinya terhadap orang yang menyinggung perasaannya. Dia hormat bila dihormati.

5) Cepat melahirkan karangan
Ibnu Sina dengan cepat memusatkan pikirannya dan mendapatkan garis–garis besar dari isi pikirannya serta dia dengan mudah melahirkannya kepada orang lain. Menuangkan isi pikiran dengan memilih kalimat/kata-kata yang tepat, amat mudah bagi dia. Semua itu berkat pembiasaan, kesungguhan, latihan dan kedisiplinan yang dilakukannya.

Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.

Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat Islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.

Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuwan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.

Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktivitas kerja keras. Waktunya dihabiskan untuk urusan negara dan menulis, sehingga ia mempunyai sakit maag yang tidak dapat terobati. Di usia 58 tahun (428 H/1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda