Tasawuf

Meluruskan Salah Paham terhadap  Zuhud (2) : Zuhud Dalam Kehidupan Sahabat Nabi

colorful abstract wallpaper
Written by Panji Masyarakat

Kehidupan para sahabat Nabi memancarkan kezuhudan. Mereka tak ambisi dengan kekuasaan, kedudukan harta benda, meskipun semua itu dapat diperoleh dengan mudah. Mereka lebih mementingkan kesejahteraan rakyat. Mereka sangat peka terhadap gejala-gejala sosial di lingkungannya. Tidak rela jika hak-hak rakyat dirampas, dan mereka tidak sampai hati melihat hidup rakyat yang sengsara. Tidak sekadar kasihan di bibir.

Abu Bakar pernah menyerahkan semua harta bendanya untuk perjuangan umat Islam. Ketika ditanya, apakah yang tertinggal dalam dirinya, ia menjawab: Allah dan Rasulullah.

Khalifah Umar pun tidak berbeda dengan Abu Bakar, pendahulunya. Dia sangat takut jika rakyatnya mendapat marabahaya kemiskinan. Saat ronda suatu malam, Umar menemukan seorang janda berserta anak-anaknya yang kelaparan sehingga tidak bisa tidur. Umar mengangkat sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada keluarga itu.

Sebagai khalifah, Umar minta saran  kepada sahabat-sahabatnya mengenai keperluan hidupnya. Dan sesuai dengan saran Ali, maka makanan dan pakaian dengan standar rata-rata diizinkan untuknya dan keluarganya diambilkan dari Baitul Mal.

Begitu pula dengan Utsman bin Affan. Salah seorang yang paling kaya di antara sahabat Nabi, tetapi juga hidupnya sederhana dan sangat dermawan. Dan selama hidupnya tak bisa lepas dari Al-Qur’an.

Sedangkan tentang kehebatan Ali bin Abi Thalib, Sufyan bin Uyainah berkata: Ali adalah yang sebesar-sebesar sahabat dalam hidup zuhud. Dan Imam Syafii berkata, beliau adalah besar zuhudnya, dan orang-orang zuhud itu tidaklah peduli akan sesuatu apa pun selain Allah.

Pada masa kejayaan Islam yang kedua (pasca-Nabi dan Sahabat), khalifah yang tampak kezuhudannya adalah Umar bin Abdul Aziz. Rupa-rupanya ia mengikuti jejak kakeknya, Umar bin Khattab. Ia melepaskan semua kemewahan, kesenangan, selera akan makanan dan pakaian, dan praktis menunjukkan suatu pengabdian yang tiada hentinya kepada warisan Nabi dan khalifah yang adil. Ia menolak tinggal di istana yang dihiasi dengan megah. Ia melelang onta-onta dan kuda-kuda kerajaan, dan menjual perabotannya, permadani-permadani,  perkakas-perkakas yang terbuat dari emas dan perak, dan menyerahkan seluruh hasil penjualan itu ke kas negara (baitul mal). Sikap-sikap seperti itu terutama dia lakukan setelah kekuasaan ada padanya.

Sebenarnya kehidupan zuhud telah ditunjukkan secara tersirat dalam Al-Qur’an, hadis, kehidupan Nabi dan sahabat. Bahkan sebelum Nabi Muhammad pun telah banyak ajaran-ajaran kehidupan zuhud. Tetapi secara nyata, gerakan zuhud lahir akibat reaksi atas kehidupan mewah di kalangan keluarga kerajaan dan para pejabat negara. Terutama setelah Islam meraih kejayaan.

Mengapa Hidup Zuhud

Setelah mengalami perkembangan, para tokoh zahid menemukan sebuah ilmu, namanya tasawuf. Untuk menjadi orang sufi, para ahli tasawuf menyusun maqam, stasiun atau tahapan, yang harus dilewati untuk sampai pada suatu tujuan yang disebut makrifat. Sedangkan zuhud termasuk stasiun yang terpenting di antara maqam-maqam yang harus dilewati penempuh jalan sufi. Sebab tanpa zuhud seseorang tidak akan pernah jadi sufi. Tetapi kalau sudah zuhud, belum tentu ia menjadi sufi, karena untuk menjadi sufi harus melewati berbagai maqam yang lebih tinggi lagi.

Mengapa orang melakukan hidup zuhud? Imam Al-Ghazali membagi motif zuhud menjadi tiga macam:

  • Karena takut (khauf) kepada sesuatu yang bakal menghinakan kehidupan mereka kelak. Zuhud semacam ini adalah zuhudnya orang yang takut (khaifin).
  • Karena mengharap (raja’) kemewahan yang akan didapat di akhirat. Zuhud seperti ini adalah zuhudnya orang-orang yang mengharap (raijin). Ibadah yang bermotif raja’ lebih bermutu dari ibadah yang dikerjakan karena khauf, karena raja’ akan menumbuhkan mahabbah (cinta).
  • Tidak dikarenakan apa-apa. Hanya karena keinginan untuk mencapai ketinggian rohani yang nantinya akan dapat bertemu (liqa) dan melihat (ru’yah) kepada Alah pada hari akhirat. Zuhud yang seperti ini adalah zuhudnya orang arif (‘arifin).

Bersambung

Penulis: Endah H. Sumber: Panji Masyarakat, 21-30 November 1987

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda