Pengalaman Religius

Inneke Koesherawati (4): Selalu Ada Hikmah yang Tersembunyi

Written by Asih Arimurti

Begitu banyaknya manfaat agama membuatku tidak lagi ogah-ogahan untuk belajar. Di samping mengadakan pengajian rutin, aku juga membaca buku-buku keagamaan. Tetapi, yang terpenting, aku berusaha menajamkan kepekaan. belajar melalui setiap peristiwa yang aku lewati. Bahkan, dari peran dalam sinetron yang aku lakoni, tidak sedikit pelajaran yang aku ambil. Aku berharap agar selalu diberikan kesalehan—seperti dalam peran tersebut—oleh Allah di alam nyata. Kesalehan yang selalu membawa kebahagiaan.

Ada yang bilang, yang dimaksud mengaji dalam masyarakat kita sebenarnya lebih tepat disebut membaca Al-Qur’an. Mengaji dari kata “kaji” membutuhkan penalaran untuk mendapatkan pemahaman dan penghayatan. Sementara kebanyakan kita baru pada taraf membaca tanpa mengerti kandungan maknanya. Yang aku alami ketika kecil itu rasanya memang begitu. Tapi, dari pengalamanku, mengaji dalam usia dini tidak kurang juga manfaatnya. Dari sering ikut mengaji, aku jadi sering ikut salat. Dari sering ikut salat, aku jadi sering ikut puasa. Ya, meski tidak selalu terus aku jalani, kadang mencuri-curi waktu untuk membolos agar bisa bermain dengan teman-teman di lingkungan rumah.

Sulit bagiku mengungkapkan bagaimana penghayatanku terhadap semua ibadah kala itu. Yang jelas adalah dasar-dasar keagamaanku terasa tenteram di dasar hati yang paling dalam. Ini menjadi potensi yang sangat bermanfaat untuk menerima dan mengembangkan penghayatan keagamaanku pada hari-hari berikutnya.

Soal pengetahuan agama, mungkin aku termasuk anak bawang. Makanya aku sekarang banyak mengaji Qur’an dan hadis. Aku berusaha membacanya dengan hati-hati, sebab bahasanya terkadang agak sulit dimengerti. Kalau salah memahami bisa bahaya.

Tanpa terasa, kesan mendalam dari peran di sebuah sinetron selalu keluar menjadi resep ketika aku menghadapi masalah. Mulai dari yang enteng-enteng sampai yang berat tidak terpecahkan. Pada awalnya aku sering juga merasa risih menumpahkan masalah yang seakan-akan remeh-temeh dalam doa: masalah keluarga, karier, jodoh atau hubungan dengan teman-teman, misalnya. Tapi, karena aku yakin Allah Mahatahu, pada akhirnya aku tidak sedikit pun ragu memohon petunjuk kepada-Nya. Memang, tidak semua doa secara nyata dijawab oleh Allah. Tapi, aku tetap berkeyakinan bahwa di situlah aku diuji, sampai di mana keimananku. Sabarkah aku. Selalu saja ada hikmah yang tersembunyi dari setiap peristiwa.

Nilai-nilai seperti itu juga sangat memengaruhi pandangan hidupku. Dalam melihat materi, misalnya, aku tidak munafik menginginkan imbalan materi yang pantas atas kemampuanku. Tapi, aku juga tidak ingin menukar segala sesuatunya hanya untuk materi. Tak terhitung, berapa kali aku terpaksa menolak dengan segala terima kasih atas tawaran peran yang aku anggap tidak sejalan dengan nilai-nilai yang aku pegang. Ya, keartisan itu tidak ubahnya profesi lain. Dan untuk menggelutinya diperlukan seni tersendiri agar kita bisa menempatkannya sebagai ruang aktualisasi diri, sumber penghasilan, sekaligus sarana ibadah. Memang tidak mudah.

Sumber: Majalah Panjimas, Oktober 2003.

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda