Muzakarah

Sisa Makanan untuk Babi  Peliharaan Tetangga

Written by Panji Masyarakat

Sdr. Husein A. Arsyad dari Asrama Mahasiswa Maluku Utara di Jl. Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, mengatakan, bahwa sebagai seorang muslim ia ingin mengetahui dan mengembangkan hidayah keislaman kepada orang lain. Yakni dalam pergaulan hidup yang sering dihadapkan dengan masalah-masalah yang menyentuh keagamaan, apalagi di sebuah kota yang penduduknya sebagian besar nonmuslim.

Suatu kebiasaan yang tidak kita sadari, bahwa setiap habis makan senantiasa ada sisa makanan. Di tempat tinggal keluarga ini umumnya beragama Kristen. Mungkin, karena dia melihat, daripada sisa-sisa makanan ini dibuang, lebih baik diberikan kepada tetangga untuk diberikannya makanan babi peliharaannya.

Yang ditanyakan: Apa hukumnya, jikalau sisa-sisa makanan itu diberikan kepada tetangga untuk dijadikannya makanan babinya.

Jawaban Majelis Muzakarah Al-Azhar:

Ayat 8 surah Al-Mumtahanah menyebutkan: “Allah SWT tiada melarang kamu berbuat baik terhadap mereka yang tidak memerangi engkau dalam (hal) agama…”

Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan Aisyah r.a.: “Jibril selalu berpesan kepadaku supaya baik kepada tetangga, sehingga saya menyangja (bahwa tetangga) kemungkinan diberi hak waris. (H.R. Bukhari dan Muslim). Di lain kesempatan Rasulullah SAW bersabda, menurut Abu Hurairah, sebagaimana diriwayatkan Turmudzi dan Hakim: “…. berbuat baiklah terhadap tertetangga, niscaya engkau (akan) aman, dan kasihanilah sesama manusia, sebagaimana engkau mengasihi dirimu sendiri, niscaya engkau (akan) selamat …. “

Di dalam ayat 36 surah An-Nisaa tercantum: “Allah dan janganlah engkau mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga-tetangga yang dekat (yang berkerabat denganmu), tetangga-tetangga yang jauh (yang tidak berkerabat denganmu)….”

Akhirnya, Majelis kutipkan lagi sebuah riwayat sebagai berikut:

Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada suatu hari, seseorang sedang mengembara (berjalan) merasa sangat haus. Kebetulan dia mendapati sebuah sumur. Segera iaturun ke dalam sumur itu dan minum. Kemudian, ketika ia keluar dari sumur itu, tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang terjulur lidahnya dan menjilat-jilat pasir karena sangat haus. Si pengembara tadi berkata (dalam hatinya): Tentulah anjing itu juga merasakan haus sebagaimana yang telah saya rasakan tadi. Lalu ia kembali turun ke dalam sumur itu dan diciduknya air sepenuh sepatunya (dibawanya sepatunya yang telah penuh air itu) ke atas kembali dan diberikannya air itu kepada anjing yang didapatinya masih menjilat-jilat pasir itu, lalu diminum oleh anjing itu. Maka Allah SWT memuji perbuatannya itu dan mengampuni dosanya. Sahabat yang mendengar bertanya: Ya Rasulullah , apakah menolong binatang buas juga berpahala? Nabi SAW menjawab: Pada setiap hati yang lembut memperoleh pahala.” (H.R. Bukhari).

Itulah sebagian ayat dan hadis yang Majelis ungkapkan, bagaimana perintah berbuat baik menurut ajaran Islam, malah tidak terbatas kepada lingkungan orang yang bertali darah saja ataupun sesama muslim saja. Tahulah kita kini, bahwa scope “hablum minannaas” itu dalam Islam sangat luas.

Dalam ayat 26 dan 27 surah Bani Isra’il (Al-Israa) tercantum: “… dan janganlah engkau terlalu berbuat boros (mubazir), karena sesungguhnya  orang yang (suka) berbuat boros (mubazir) itu adalah temannya setan.”

Jadi, memedomani ayat-ayat dan hadis-hadis di atas, lebih baik Saudara berikan sisa-sisa makanan itu kepada tetangga saudara, walaupun ia bukan seorang muslim, daripada Saudara buang sehingga ia menjadi sia-sia (mubazir).

Sumber: Panji Masyarakat, 1 Maret 1984.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda