Pengalaman Religius

Inneke Koesherawati (3): Agama adalah Kebutuhan Hidup, dan Begitu Indah

Written by Asih Arimurti

Nilai-nilai agama mengukuhkan penalaranku untuk tidak mencoba-coba ekstasi, ikut pergaulan bebas, dan hal-hal negatif lainnya. Selalu ada sirene, rasanya, dari dalam hati, ketika langkahku mulai “menyerempet” bahaya. Meski aku akui bahwa keluargaku tidak terlalu ketat dalam hal pengakaran agama, selalu saja aku merasa ada rem yang mengontrol setiap perbuatanku.

Ibu dan bapakku menurunkan kebiasaan zikir dan salat malam kepadaku sejak kecil. Aku sendiri merasa belum sepenuhnya melaksanakan itu semua. Tapi, insya Allah, aku selalu mencoba dan meyakini manfaatnya. Subhanallah, ada ketenangan dan kepasrahan yang aku dapatkan. Mungkin ada pertanyaan, “Masa iya artis melakukan zikir, salat malam, dan  hal-hal seperti itu? Aku sedih dan sulit menjawab. Kenapa masih ada pemikiran dikotomis seperti itu. Seakan-akan agama tidak diperuntukkan bagi segenap manusia. Ada lagi yang menyanggah: “Ah- para artis terlalu sibuk untuk beribadah seperti itu.”

Menurutku, sesibuk-sibuknya artis, dia pasti memiliki waktu luang untuk khusyuk sujud kepada Tuhannya. Itu bukanlah sesuatu yang memberatkan. Kenapa kita dibolehkan menjamak salat bila benar-benar terdesak? Kenapa kita bisa berbuka bila benar-benar tidak bisa puasa? Semua itu menandakan bahwa agama tidak bisa ditinggalkan karena alasan apa pun.

Agama adalah kebutuhan hidup. Sejak pagi kita sibuk dengan urusan dunia, alangkah indahnya bila kita netralkan kembali saraf kita, jiwa kita, dengan air wudu pada siang harinya. Kita jeda sejenak untuk kembali mengambil jarak dari semua persoalan dunia yang fana. Menjelang sore kita kita kembali sujud, begitu pula saat memasuki malam, lalu menjelang istirahat total. Tidakkah itu indah?

Kehidupan sehari-hari sudah begitu mengimpit. Apalagi pada hari-hari panjang krisis ekonomi, dan ketidakmenentuan keadaan negara saat ini. (Inneke menceritakan situasi menjelang akhir tahun 2003. Sebuah situasi yang mirip dialami masyarakat sekarang akibat pandemi Covid-19, kelangkaan dan naiknya minyak goreng dan bahan bakar minyak, serta kegaduhan yang dibuat elite politik sekitar penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode; ed). Terjebak kemacetan lalu lintas saja sudah bisa membuat kita ngomel-ngomel  dan stres. Aku juga sering kalang kabut karena merasa tidak pernah memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaanku. “Aduh, ini belum ditelepon. Ini belum diselesaikan, itu belum kelar.”

Mungkin, aku ini egois, kali ya. Aku ini pemarah, tapi aku tidak senang pada orang pemarah. Ini yang aku paling sebelin dari diriku. Biasanya, kalau capek atau kurang tidur aku gampang marah. Lepas pulang kerja, mulai deh aku tegang, aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Di kepalaku tiba-tiba seperti mengalir hawa panas. Untuk meredakan sifat ini, aku banyak istigfar dan berzikir. Aku ingin banget menghilangkan sifat pemarahku ini. Mudah-mudahan dengan memperdalam keislamanku, aku bisa menjadi penyabar.

Mungkin saja aku terserang frustrasi bila kekosongan yang ada tidak segera aku isi dengan zikir. Di dalam mobil, di tengah-tengah kemacetan, aku coba menghayati lafaz “Astaghfirullah, Allahu akbar” yang aku ucapkan berulang-ulang. Alhamdulillah, biasanya, rasa optimistis, ketenangan dan kepasrahan akan kembali menjalari seluruh pembuluh darahku.

Agama begitu indahnya. Aku memang belum sempurna. Tetapi aku sudah bertekad menuju ke arah sana.

Bersambung

Sumber: Majalah Panjimas, Oktober 2003.     

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda