Relung

Harta, Crazy Rich, dan Kita

Written by Arfendi Arif

Belum lama ini media sosial diramaikan oleh foto pamer kaum muda yang menampilkan gaya hidup wah dan mewah. Mereka berfoto di hadapan rumah yang megah, mobil dengan merk terkenal, naik jet pribadi, tas harga selangit dan lainnya. Bukan hanya itu mereka juga bagi-bagi uang dengan jumlah besar, membantu untuk kepentingan sosial, menyawer di tengah jalan  dengan nilai yang tidak kecil.

Mereka itu  dijuluki kaum crazy rich, orang yang kaya raya dan tajir. Yang lebih  mengejutkan lagi ternyata mereka  masih sangat muda belia.

Belakangan baru diketahui bahwa kekayaan yang mereka peroleh bukanlah hasil usaha sebagai wiraswasrawan sejati dengan etos kerja tinggi, tetapi terlibat dengan perjudian online berkedok investasi yang disebut binary option. Dari bisnis ilegal tersebut mereka berhasil memperdaya masyarakat sehingga mengeruk uang hingga ratusan juta rupiah. Kasus ini yang kemudian oleh  korban dilaporkan ke polisi sehingga telah ditetapkan dua orang sebagai tersangka dan terancam masuk bui.

Daya pikat yang menjadi magnit mereka mengecoh masyarakat adalah show atau pamer kemewahan tersebut (flexing), sehingga seolah mereka menjadi orang sukses. Dalam gaya tampilan sebagai orang super kaya tersebut dalam foto instagram dan lainnya, mereka seolah ingin mengatakan dan beriklan, jika ingin kaya raya masuklah komunitas bisnis kami.

Memang saat ini  banyak orang yang mudah tertipu dan masuk perangkap bisnis yang tidak jelas karena dalam dirinya ada semangat untuk cepat kaya secara instan, dadakan  dan cepat. Nafsu dan hasrat untuk segera menjadi hartawan meniru  tayangan dalam foto maupun iklan  pada akhirnya menjadi sasaran empuk para pelaku bisnis investasi berkedok judi online ini.

Uang sesembahan baru

Bahwa dalam hidup ini manusia butuh uang jelas tidak bisa diingkari. Dengan uang manusia bisa memenuhi kebutuhan hidup, bisa membiayai pendidikan anak, bisa membeli alat transportasi untuk memudahkan bepergian, membeli rumah untuk bernaung dan banyak kepentingan lainnya. Dengan memiliki uang manusia bisa menjalani kehidupan ini lebih mudah. Ini jelas fakta yang tidak bisa dibantah.

Dan sebuah fakta juga bahwa tanpa memiliki uang manusia akan mengalami kesulitan hidup. Uang yang sekarang ini menjadi alat tukar fungsinya sangat menentukan.  Orang yang miskin yang tidak punya uang bukan hanya sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi juga akan sangat menderita jika sakit, tidak bakal mampu berobat ke dokter karena biayanya mahal. Atau anaknya bodoh, terkebelakang, menjadi penganggur tidak bisa melamar kerja karena tidak punya ijazah. Karena itulah ada olokan di tengah masyarakat bahwa orang miskin dilarang sakit, orang miskin dilarang sekolah, dan satir lainnya yang miris mendengarnya.

Karena itu menjadi pertanyaan yang mendasar bagaimana sesungguhnya posisi uang itu dalam kehidupan?

Seorang penulis wanita Margaretha M. Siahaan dalam bukunya Two Worlds To Be Rich, Jembatan Antara Aku,  Uang dan Tuhan menulis ada tiga pandangan manusia tentang posisi uang 

Pertama, pandangan yang menganggap bahwa uang memiliki posisi sebagai pelayan. Kedua, pandangan yang memberhalakan uang. Ketiga, yang berpendapat bahwa uang tidak merusak moral seseorang.

Pandangan yang pertama bisa dikatakan yang ideal. Artinya, memang demikianlah yang diharapkan. Harapannya,  jangan sampai manusia dikendalikan oleh uang, sehingga tidak terjadi manusia sebagai objek dan diperbudak oleh uang. Janganlah manusia hidupnya hanya untuk mencari uang sekadar untuk dikumpulkan dan diakumulasikan, tapi tidak dimanfaatkan untuk memberikan kesejahteraan.

Pandangan yang kedua adalah kebalikan atau lawan dari pandangan pertama. Mereka nyaris hidupnya untuk mencari uang. Waktu habis untuk mengumpulkan uang,  tanpa memikirkan kegiatan lainnya. Uang adalah segala-galanya. Mengutip pandangaan Roeslan Abdulgani, dalam masyarakat moderen muncul fenomena tuhan baru (the new god) , yaitu orang menuhankan harta, uang dan kekayaan.

Pandangan ketiga mirip dengan pandangan pertama. Uang tidak merusak moral, maksudnya uang itu dijadikan hamba yang baik, yang akan membantu manusia, dan harus tunduk pada kita.

Tiga pandangan di atas tentu juga berpengaruh dalam upaya orang mencari uang dan kekayaan. Pandangan yang holistik atau yang hanya melakukan dengan cara-cara yang halal dan suci tentu mengutamakan metode yang bersih, murni dan bermartabat, menjauhi cara yang ilegal kotor dan kriminal.

Mereka yang total hidupnya untuk mengumpulkan harta dan kekayaan, menumpuk harta hingga asetnya besar, tanpa memikirkan cara-cara yang beretika, tentu tidak mau dipusingkan soal cara mencari harta. Di mana ada peluang (opportunity) akan dimanfaatkan. Bagi mereka tampaknya tidak peduli soal, apakah hal itu akan merugikan orang lain. Bagi mereka peluang atau kesempatan yang menguntungkan itu adalah zero sum game atau pertaruhan antara kalah dan menang. Artinya, kesempatan itu harus direbut, meski kadang mengangkangi etika atau ukuran kepatutan, baik dan buruk. Disini manusia memiliki semacam kesadaran bahwa harta dan kekayaan itu hasil usaha dan ikhtiarnya sendiri, tanpa meyakini ada anugerah dan karunia dari kekuatan lain.

Dalam hal ini ekonom Faisal Basri menulis, ” jika kita bertolak pada keyakinan bahwa manusia adalah economic animal, memang tak ada tempat bagi kesantunan dan kepatutan. Jika ukuran kebahagiaan adalah perolehan material sebanyak-banyaknya bagi  diri sendiri, sangat boleh jadi kita tidak pernah peduli atas nasib banyak orang atau kebahagiaan banyak orang,  sekalipun mereka memberikan sumbangsih besar bagi kebahagiaan ini”.

Dalam kehidupan dunia yang materialistik ini memang terlihat orang mencari kekayaan menjauhi hal yang bersifat spritual dan transendensi. Dalam ajaran agama bahwa harta, rezeki dan kekayaan itu sesungguhnya berasal dari Allah dan milik Allah. Manusia hanya diberikan amanah untuk memanfaatkannya, dan harus digunakan sesuai dengan keinginan pemilik-Nya, yaitu untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia.

Sebuah kekayaan yang sempurna dan paripurna adalah bila manusia memiliki kekayaan ganda, yaitu kekayaan material dan spritual. Kekayaan material yang hanya bertumpu pada harta sering menyisakan kekecewaan. Jika suatu saat mereka ditimpa musibah, sakit atau kekayaan duniawinya  hancur,  baru ia tersadar perlunya  kekayaan spritual untuk mengatasinya. Namun, terkadang manusia lupa bahwa harta miliknya adalah berasal dari Sang Pemilik harta yaitu Allah.

Karena itu dalam Islam ajaran yang paling utama adalah amal shaleh, yaitu memberikan harta untuk kebaikan. Banyak ayat Al-Quran dan hadist Nabi yang menekankan hal ini. Salah satunya ayat Al-Quran mengatakan,” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mereka  itu adalah sebaik-baik makhluk “( Al-Bayyinah 7-8).

Kekayaan yang sempurna adalah gabungan antara kekayaan material dan rohaniah. Artinya, disadari dengan penuh bahwa Allah  yang Maha Kaya dan memberi kita harta. Menghadirkan Allah dalam harta dan kekayaan kita itulah yang menjadikan manusia mencapai tingkat ma’rifat yang tinggi. Dan, uang hanyalah media yang diberikan Allah baginya untuk beramal sesuai keinginan-Nya.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda