Muzakarah

Berjamaah di Mesjid Lain

Written by Panji Masyarakat

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya bagi seseorang yang tidak mau berjamaah di mesjid kampung sendiri, dan pindah salat berjamaah di ke mesjid lain di luar kampungnya? (Ahmad Zain, Gunung Sugih, Lampung).

Jawaban  Majelis Muzakarah Al-Azhar:

Salat berjamaah adalah salat bersama-sama. Paling sedikit dua orang, terdiri dari seorang imam dan seorang makmum. Berikut ini beberapa di antara ketentuan salat berjamaah:

  1. Makmum mengikuti imam. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Dijadikan imam itu untuk diikuti, apabila imam takbir, takbirlah kalian, dan tidak kalian bertakbir sehingga imam bertakbir; apabila ia rukuk, rukuklah kalian; dan janganlah kalian rukuk sehingga imam rukuk; apabila ia mengucapkan Sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah Rabbana lakal hamdu;  sujudlah kalian dan kalian tidak sujud sehingga imam bersujud; dan apabila ia salat sambil berdiri, salatlah kalian sambil berdiri; dan jika ia salat sambil duduk maka hendaknya kalian salat sambil duduk pula semuanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
  2. Makmum berdiri di belakang imam. Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., bahwasanya Rasulullah SAW melihat sahabat-sahabatnya mundur, maka beliau bersabda: “Majulah kaliah, turutilah aku, dan hendaklah orang-orang di belakang kalian menuruti kalian.” (H.R. Muslim)
  3. Makmum dapat mengetahui gerakan (af’al) imam mereka dalam satu tempat, berdasarkan semua hadis yang berkenaan dengan salat berjamaah. Jadi, tidak sah salat berjamaah makmum yang mengikuti imam dengan perantaraan pesawat televisi, misalnya (atau melalui zoom seperti yang dilakukan beberapa kelompok yang menyelenggarakan salat Jumat dan tarawih secara virtual, dengan alasan pandemi; red).
  4. Laki-laki tidak boleh makmum kepada perempuan. Kecuali seorang ibu yang mengimami keluarganya, sekalipun di antara mereka ada anak laki-laki. Dari Ummi Waraqah, sesungguhnya Nabi menyuruhnya untuk mengimami ahli rumahnya (H.R. Abu Dawud).

Menurut riwayat, Ummu Waraqah adalah putri Naufal Al-Anshari. Rasulullah pernah mengunjunginya dan beliau menyebutnya Asy-Syahidah. Dia banyak mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dia pernah minta izin kepada Rasulullah untuk turut dalam Perang Badar. Tetapi Rasulullah meminta agar dia mengimami salat berjamaah keluarganya, di mana di dalamnya ada seorang hamba laki-laki dan seorang hamba perempuan. Sehingga Abu Tsaur Al-Muzni dan Ath-Thabari dan jumhur ulama berkesimpulan tentang bolehnya seorang ibu mengimami keluarganya walaupun di antara mereka ada seorang anak laki-laki. (Subulus Salam II: 34-35).

  • Jangan bermakmum kepada orang yang diketahui salatnya tidak sah (berhadas, tidak menutup aurat dan sebagainya).
  • Makruh berimam kepada orang fasik dan ahli bid’ah.
  •  Diutamakan imam lebih baik dari makmum: lebih alim, lebih banyak hafal Qur’an, lebih mengerti akan Sunnah, lebih dahulu hijrah (khusus zaman Rasulullah), lebih shalih, lebih tua. Rasulullah SAW bersabda, “Yang mengimami suatu kaum, orang yang paling banyak/baik bacaan Kitab Qur’annya. Jika sama baik bacaan Qur’annya maka yang paling mengerti Sunnah. Jika dalam pengertiannya dalam hal Sunnah sama, yang lebih dahuku hijrah. Jika hijrahnya sama, maka majulah di antara mereka yang lebih tua.” (H.R. Muslim).

Salat berjamaah boleh di rumah, boleh di mushalla (lapangan), boleh di mesjid. Salat fardu lebih utama di mesjid. Kemudian,  bagaimana hukumnya bagi seseorang yang tidak mau lagi berjamaah di mesjid kampung sendiri (lari ke mesjid lain di luar kampung) karena merasa tidak cocok dengan imam/khatib, sebagaimana ditanyakan Sdr. Zain.

Salat di masjid mana pun sebenarnya baik saja. Yang tidak baik adalah perpecahan dan permusuhan, fungsi salat berjamaah, selain sarana untuk memperoleh pahala yang lebih banyak, adalah untuk menyatukan dan menjamaahkan umat. Hadis Rasulullah di atas sebenarnya dapat dijadikan sebagai pegangan untuk menciptakan jamaah:

  1. Yang merasa lebih memenuhi persyaratan untuk menjadi imam, merasa lebih mengerti dalam masalah agama, harus secara tulus ikhlas mau menjadi imam, dan yang kurang merasa mengerti masalah agama harus secara tulus mau menjadi makmum.
  2. Yang merasa dirinya memenuhi persyaratan untuk menjadi imam, namun merasa bahwa jamaah yang akan diimaminya kurang senang kepadanya atau benci kepadanya, baiklah secara tulus tidak mengimaminya. Dasarnya adalah sabda Nabi  sebagaimana yang dituturkan Abdullah ibn Umar: “Allah tidak menerima salat yang maju menjadi imam, padahal mereka benci kepadanya.” (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Menurut hemat Majelis, kasus yang serupa inilah yang ada baiknya meninggalkan mesjid yang dekat, dan berjamaah ke mesjid yang jauh. Sebab walaupun dipaksakan, orang lain dalam hatinya akan menolak kehadirannya. Jadi meninggalkannya tidak didorong oleh rasa angkuh, tetapi demi ketenangan batin dalam beribadah, demi memelihara diri sendiri dan orang lain dari fitnah, dan untuk memelihara ukhuwah. Ikhtilaf (perbedaan) dalam masalah furu’iyah, ranting, jangan hendaknya dijadikan bahan perpecahan dan permusuhan. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, asalkan kita: tidak fanatik mazhab, beribadah mencari rida Allah, mau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Sumber: Panji Masyarakat, 11 Juni 1987.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda