Adab Rasul

Memaafkan dan Tetap Berbuat Baik

Written by Ahmad Lukman A.

Dalam kehidupan, terkadang kita bertemu dengan orang yang memiliki kepribadian yang berlainan. Kadang di depan kita mereka memasang muka manis, tapi di belakang mereka ngomongin kita dengan sumpah serapah di luar kewajaran. Tapi ada juga yang malah spontan –entah karena kebiasaan atau hal lain- gampang melontarkan makian dengan ucapan kotor, layaknya himpunan hewan di kebun binatang.

Jika itu terjadi, sebagai muslim maafkanlah orang tersebut dengan membalas mengucapkan kata-kata yang baik. Jika seseorang bersikap tidak baik kepada kita maka Allah s.w.t akan tetap membantu kita bila kita memberi maaf dan tetap berbuat baik. Allah berfirman “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)

Memberi maaf dan berbuat kebaikan termasuk adab Rasulullah yang luhur. Selama hidupnya, Rasulullah s.a.w. dikenal sebagai pribadi yang tidak kasar tutur katanya, tidak keras hatinya, tidak membalas kejelekan dengan kejelekan. Ia adalah pribadi yang memberi maaf dan toleran, bahkan ketika sahabat-sahabatnya emosi melihat Rasululullah dicaci maki. Rasulullah s.a.w pernah bersabda, “Sayangilah, niscaya kalian akan disayangi, dan maafkanlah, niscaya kalian akan dimaafkan. (HR.Ahmad)

Riwayat lain menggambarkan bagaimana budi pekerti Rasulullah. Dari Abi Abdullah al Jadali, “Aku bertanya kepada Aisyah r.a. tentang budi pekerti Rasulullah s.a.w. Lalu dia berkata, ‘Dia tidak keji, tidak berkata kotor, tidak berteriak keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejelekan. Dia adalah orang yang memaafkan dan toleran’.” (HR. Tirmidzi)

Sungguh indah bila kita dapat mengikuti perilaku Rasulullah tersebut.

About the author

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda