Cakrawala

Benih Hub, Inisiasi Baru Pembiayaan Sosial

Avatar photo
Written by Iqbal Setyarso

Sekumpulan aktivis kemanusiaan beragam profesi dan beragam latar belakang, mengekspresikan kesadaran baru. Hal itu terpanggil oleh mengemukanya problem sosial (dan kemanusiaan) di Indonesia di satu sisi, fakta tren menurunnya antusiasme filantropi – sebagai ekses lanjut pandemi yang berkepanjangan.

Kesamaan pandangan dan keyakinan, menguatkan keprihatinan pada satu hal: kelangkaan benih (khususnya benih ikan lele). Hal itu menyatukan orang-orang ini dalam wadah kebersamaan, namanya Benih Hub Indonesia Tumbuh (atau Benih Hub). Bisa dikatakan, bagi orang-orang ini, Benih Hub menggarisbawahi kesamaan sikap: peduli masa depan beneficiaries (penerima manfaat). Siapa mereka ini? Para peternak ikan konsumsi, khususnya lele.

Mengapa? Karena pencaharian mereka – khususnya yang tergabung dalam komunitas – kebanyakan terikat pengadaan benih dari luar Parung, kawasan yang menjadi sasaran dan pusat perhatian dan pusat pemberdayaan. Dalam strateginya, kebaruan apa yang ditawarkan Benih Hub? Pertama, berbeda dengan komunitas/kelembagaan lainnya, Benih Hub tegas memilih bentuknya perseroan terbatas (PT).

Sebagai PT, dan niat awalnya “profit”, basis eksistensinya: komunitas peternak lele. Members komunitas tegas mengusung kredo: berani, sehat, kaya, dan bahagia. Empat kredo ini sejak dini menstimulir personilnya untuk bisa mandiri. Dalam road map mereka, Benih Hub mencoba serius dengan PT yang diniatkan sungguh-sungguh mengejar profit, sebagai sebuah kerja serius. Dalam pemahaman kolektifnya, tersirat kehendak menjadikan Benih Hub sebagai Social Enterprise, perusahaan sosial: sebuah ide bisnis yang menggabungkan konsep dasar berdagang (mengejar profit) dengan kewajiban kita membantu lingkungan sosial – di mana sebuah perusahaan akan memaksimalkan pendapatan sejalan dengan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Membangun lembaga ini, setidaknya memerlukan empat elemen penyokong pewujudannya: 1. Person yang memiliki cukup pengetahuan akan seluk-beluk usaha (business process) yang diterjuni dan bersedia membersamai proses ini; 2. Program yang fokus sebagai jangkar penggalangan dana (bukan unggulan jika tidak bisa menjadi backbone organisasi); 3. Akselerator atau pemercepat program itu bisa diwujudkan dan akhirnya memberdayakan: baik organisasi (dan personalnya), maupun komunitas binaan atau sasaran program itu; dan 4. Komunitas yang menjadi sasaran dan penyokong pewujudan program.

Benih Hub menyebutkan, ia tidak menampik perhatian pada aktivitas sosial (non-profit) atau mendirikan yayasan. Pada ranah sosial inilah Benih Hub menyeriusi aktivitas non-profitnya. Sayap aksi profitnya, Benih Hub tetap digawangi lini bisnisnya melalui perseroan terbatas. Termasuk menjalin kemitraan dengan usaha lainnya.

Pemantik Social Enterprise

Dalam semesta ikhtiar memperoleh penghasilan, sebaiknya diperoleh dengan cara-cara yang baik agar berkah. Caranya? Berdaganglah, itu paling Rasulullah SAW anjurkan untuk mendapatkan penghasilan. Tak ada yang rugi mendapatkan peruntungan (mendapatkan penghasilan) dari berdagang. Berdagang, akan memberikan maslahat berganda.

Apa Benih Hub itu? Ia komunitas yang mengikhtiarkan (pertama kali) larva lele dari pihak Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Bogor, komunitas ini secara kolektif berikhtiar menangkarkan larva hingga menjadi lele “remaja”. Pembenihan/larva yang menjadi “isu seksi”, benih lele harus diperoleh dari luar kawasan Bogor. Hal itu menjadi konsentrasi peternak (komunitas) dan juga Benih Hub. Target kuantitatifnya, sedikitnya diperlukan 25 juta ekor (bibit lele)/bulan. Selama ini peternak harus mendatangkan dari Lampung atau Banjarnegara. Cara ini melonjakkan tingkat mortalitas benih, yang pada gilirannya menurunkan penghasilan peternak ikan yang memeliharanya.

Berkaca pada pengalaman, dan profesinya sebagai karyawan produsen pakan ternak, Hartadi -salah satu tokoh kunci dalam Benih Hub-mengakui dirinya banyak terbantu laboratorium almamaternya maupun mahasiswa IPB dan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Bogor, selain dukungan perusahaan tempatnya bekerja, telah membiayai risetnya (dalam pembesaran benih) sehingga Hartadi bisa menyatakan: lewat sekian kali uji coba, ia berani bilang ikhtiarnya bisa diduplikasi dan bisa menopang penyediaan benih bersertifikat. Ia optimis, benih yang disiapkannya bisa menjawab krisis benih lele. Dengan riset intensif dan penelitian yang paham kebutuhan peternak ikan, usahanya akan sangat membantu peternak ikan.

Kenapa Benih Hub? Benih Hub memiliki tujuan terpenting: menjawab tantangan krisis benih lele dengan teknologi bioflok (yang telah diujicoba Hartadi). Komunitas pun dari ujicoba intensif Hartadi, secara gradual membebaskan peternak lele dari ketergantungan benih, pada akhirnya merekapun akan sanggup berproduksi – terutama di daerah Parung, Bogor. Benih, Hub tak hanya membebaskan dirinya dari ketergantungan bibit lele, sekaligus dalam sinergi kolektif Benih Hub mampu membiayai program sekaligus membebaskan dirinya dari ketergantungan benih ikan lele.

Bagaimana Benih Hub sendiri? Sejumlah benefit terhidang: pertama, pembiayaan program (pemberdayaan)  sanggup mereka create mandiri (teratasi masalah ketersediaan modal); kedua, membebaskan diri komunitas dari ketergantungan benih; ketiga, komunitas ini secara kolektif bisa di-published sebagai brief program dan bisa “dipasarkan” ke corporate social responsibility (CSR). Dalam perspektif inilah, Benih Hub mengokohkan kekuatan marketing-nya

Sebagai komunitas, bisalah dipahami, komunitas ini sanggup menjual kapasitasnya (sebagai peternak lele). Kolektivitas komunitas ini memiliki kesanggupan meng-create sumber pembiayaan programnya di satu sisi. Aktivitas pemberdayaan itu, sekaligus menjadi program sosial dibingkai kondisi pandemi.

Dalam skema penciptaan alternatif pembiayaan, diketahui bahwa berbisnis atau enterpreneurship termasuk kedalam sembilan dari sepuluh pintu rezeki hal ini terdapat dalam sebagaimana dikatakan sebuah hadist [dalil pertama], Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya sembilan dari sepuluh pintu rezeki di dunia ini adalah: perdagangan.”(HR. Ahmad).

[Dalil kedua] Berbisnis juga menjadi mata pencaharian yang baik hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadist: ”Sesungguhnya sebaik-baik mata pencaharian adalah seorang pedagang/entrepreneur.” (HR. Baihaqi). Dapatlah kita fahami, sesuai anjuran Rasulullah SAW, dengan, entrepreneurship dengan empat elemen pewujudannya: person, program, akselerator dan komunitas, dalam bingkai Benih Hub, terlaksanalah alternatif pembiayaan program.

About the author

Avatar photo

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda