Mutiara

Paman Ho, Legenda dari Macau

Written by A.Suryana Sudrajat

Kalau ingin berhasil, kita harus pakai otak, bekerja keras, dan disiplin. Benarkah orang Indonesia sekarang baru bisa omong keras dan belum terbiasa kerja keras.

Apakah suatu hari Anda pernah bermimpi menjadi multijutawan, orang yang sangat kaya raya, punya duit seabgreg-abreg?

Tak ada salahnya belajar pada Stanley Ho. Sebab, dulunya Ia juga orang kere. Ayahnya bangkrut, lalu melarikan diri, karena pada masyarakat Cina kebangkrutan merupakan aib besar. Ia diurus ibunya yang sakit-sakitan dan terpaksa melego harta keluarga satu demi satu untuk sekadar menyambung hidup. Untunglah, sebelum meninggal, perempuan keturunan Porto itu sempat berpesan kepada sang anak. Ho diminta memulihkan nama keluarga, membersihkan noda kebangkrutan, dan kalau bisa, menjadi jutawan. Ho berjanji akan berusaha sebaik-baiknya.

Ketika Jepang menyerbu Hong Kong tahun 1941, Ho masih kuliah di Universitas Hongkong. Banyak di antara paman dan sepupunya ditawan. Ho beruntung. Ketika bekerja di kantor pengawas serangan udara, ia berhasil membuang seragamnya, terus lari, dan bersembunyi. Ia diselundupkan ke Macau oleh seorang Cina kawan ayahnya. Waktu itu Ho berusia 19. Modalnya hanya satu: kemantapan diri bahwa ia punya persyaratan untuk mencapai sukses. Di koloni Portugis yang telah dikembalikan ke Cina itu, Ho bekerja sebagai sekretaris junior di sebuah perusahaan.

Perusahaan itu antara lain mewakili Portugal, Cina, dan balatentara Jepang. Tempat kerja Ho itu mulai mengadakan barter antara pemerintah Macau dan pejabat-pejabat Jepang. untuk melancarkan tugasnya, Ho belajar bahasa Jepang. Ia mulai bekerja pagi sekali dan tinggal di kantor hingga larut malam. Tugasnya mengirimkan gandum, kedelai, beras, dan gula—semua dikumpulkan dari pihak Jepang dan Canton—ke gudang-gudang pemerintah. waktu itu kata Ho, bisa saja orang mendapat uang US$ 1 juta dalam seminggu. Ho-seperti sering dikesankan banyak orang—sangat sering memperolehnya. “Kebutuhan sehari-hari meningkat sangat cepat ketika itu. Harga barang-barang melonjak sangat cepat pula,” katanya, “Saya punya banyak koneksi di pemerintahan, terkadang saya diberi kesempatan membeli kelebihan barang milik pemerintah dan dengan cara ini saya mempunyai peluang mengeduk uang dalam jumlah yang sangat besar.” Alhasil, Ho kemudian tercatat sebagai pengusaha sukses.

Tapi, apakah yang mengubah Stanley Ho dari seorang pekerja dan pengusaha sukses menjadi multijutawan?
Menurut David Lomax dalam bukunya The Money Makers, kemampuan tunggalnya dalam memanfaatkan kegemaran orang Cina main judi menjadi kunci sukses Paman Ho.

Pada tahun 1962 pemerintah koloni Portugis di Macao menyerahkan pengelolaan bisnis perjudian kepada Ho untuk dimonopoli selama 40 tahun di bawah bendera Sociedade de Turismo e Diversoes de Macau (STDM). Pada awal dasawarsa lalu, misalnya, perusahaan yang mengoperasikan 10 kasino ini membayar 31,8% dari pendapatan perjudian kepada pemerintah. Diperkirakan STDM akan tetap menjadi penguasa untuk beberapa tahun ke depan.

Bagaimana Ho tidak bisa kaya, wong setiap tahun jutaan warga Hongkong pergi ke Macau dengan jetfoil, yang hanya memerlukan waktu 45 menit. Tentu ada sejumlah penumpang pergi ke Macau tidak untuk berjudi, tetapi sebagian besar begitu turun dari ferry langsung bergegas ke salah satu kasino miliki Ho. Yang paling besar dan paling terkenal dari semua itu adalah Hotel Lisboa yang punya 450 kamar untuk 1000 penjudi.

Di jalan-jalan sekitar kasino di Macau orang bisa melihat sederetan rumah gadai. Barang-barang milik para penjudi yang kehabisan duit dipajang. Ratusan jam tangan dan cincin kawin yang terdapat di tempat-tempat itu, kata Lomax, merupakan saksi keputusasaan manusia yang perlu uang agar dapat membeli tiket pulang dengan salah satu ferry milik Ho.

Apakah Ho tidak sedih melihat orang-orang yang hancur akibat judi?

Orang tua yang punya dua istri dan lebih banyak tinggal di Hong Kong ini mengaku dirinya kadang-kadang risau juga. “Tetapi saya telah memberikan peringatan yang cukup kepada mereka agar tidak main judi secara berlebihan, hendaknya berjudi sebatas kemampuan saja, dan menganggap semua itu sebagai hiburan belaka.”

Stanley Ho hanya membisu ketika ditanya, apakah ia puas dengan mengumpulkan jutaan melalui kelemahan orang. Tapi, katanya, ia memang selalu punya ambisi untuk mengumpulkan kekayaan. Ia juga sudah membantu pemerintah dan kehidupan perekonomian setempat, menciptakan lapangan kerja, dan selalu membantu usaha-usaha amal. “Saya kira, jika Anda mengambil keuntungan itu dari masyarakat, Anda harus memberikan sebagian keuntungan itu kepada mereka.” Ho yang beragama Buddha antara lain menyumbang US$ 3 juta untuk gereja Katolik di Macau.
Ho tampaknya yakin benar orang-orang Cina akan terus main judi. “Itu sudah mendarah-daging,” ujarnya. Tapi apakah Ho sendiri pernah main judi? “Tidak, sebab saya sudah mempelajari, bagaimanapun juga, Anda tidak akan menang. Selain itu saya tidak punya waktu.”

Apakah Anda ingin jadi orang kaya seperti Paman Ho?

Yang pasti, seperti dikatakan Franz Beckenbauer, legenda sepak bola Jerman yang pernah menjadi orang nomor saru di klub Bayern Munchen, kalau ingin berhasil, kita harus pakai otak, bekerja keras, dan disiplin. Ini dikatakan Sang Kaisar beberapa tahun lalu menyusul kekalahan timnya oleh Olympique Lyon di arena Liga Champion. Sayangnya, orang Indonesia sekarang baru bisa omong keras dan belum terbiasa kerja keras. Yang terakhir ini, kalau tidak salah, pernah diucapkan mendiang Surjadi Soedirdja, mantan gubernur Jakarta dan menteri di era Gus Dur yang bahkan tersenyum pun jarang.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda