Cakrawala

Jihad Nafsi Menuju Fitrah dan Insan Kamil

people walking on street
Written by Arfendi Arif

Perjuangan manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup harus menghadapi godaan yang tidak ringan. Kekuatan penggodanya bisa mencul dari dalam dan dari luar. Dari dalam yaitu dari diri manusia sendiri, sedangkan  dari luar merupakan tarikan-tarikan yang membawa manusia pada  perbuatan yang menyimpang dari kebaikan.

Pada dasarnya manusia dijadikan Allah cenderung pada kebaikan. Potensi manusia adalah untuk berbuat baik. Baik disini adalah dalam perilaku sesama manusia, dan melakukan kebaikan sebagai hamba Allah yang beriman.

Potensi manusia untuk berbuat baik merupakan fitrah sejak manusia dilahirkan. Dalam hubungan keberagamaan atau aqidah, misalnya, potensi dan fitrah manusia adalah menganut agama yang benar, yaitu agama yang hanif atau Tauhid. Dalam Al-Quran dikatakan,” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” ( Ar-Rum ayat 30).

Dalam surat Al-A’raf ayat 172 disebutkan kalimat persaksian manusia atas keyakinannya pada Allah. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman,” Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab,” Betul  Engkau  Tuhan kami, kami menjadi saksi “.

Kalau terjadi penyimpangan manusia dari aqidah yang benar, dari fitrahnya, yaitu agama Tauhid, jelas itu sesuatu yang tidak wajar. Hal itu disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Dalam sebuah hadist yang cukup populer disebutkan, ” Tidaklah anak itu dilahirkan kecuali atas dasar fitrah (bakat), maka ayah dan ibunya yang menjadikan anaknya beragama Yahudi , Nasrani atau Majusi.

Dengan demikian sebenarnya setiap anak yang lahir dia tidak bisa menolak (la tabdila) dari agama fitrah atau agama Tauhid, namun bisa jadi ia mengabaikan dan tidak mengakuinya sehingga terjadi penyimpangan.

Potensi berbuat kebaikan

Demikian juga fitrah manusia adalah berbuat dan berperilaku yang baik, menjauhi perbuatan jahat dan kemungkaran. Jika manusia melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan kemungkaran,  itu artinya manusia melawan fitrahnya.

Karena itulah manusia harus berjuang mempertahankan fitrahnya. Dan, secara teori sebenarnya potensi manusia untuk berbuat hal positif dan kebaikan lebih besar dari pada  manusia untuk berbuat hal yang negatif atau keburukan. Namun, daya tarik untuk melakukan perbuatan tidak baik ini memang  lebih besar dari berbuat kebaikan.

Hal ini tampaknya karena manusia hidup di dunia nyata, dan sangat terpengaruh dengan kehidupan dunia, sehingga ia tidak mampu melihat kebahagiaan yang hakiki di kampung akhirat. Dunia dan daya tarik kehidupannya telah memberdayakan manusia. Dan, secara fakta  hadist Nabi telah menyatakan kecenderungan sifat manusia ini. ” Keutamaan akhirat pada hari ini dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai manusia, sedangkan hal-hal yang bersifat duniawi dikemas dengan kelezatan dan kesenangan”.

Al-Quran secara tegas menyatakan keterpedayaan manusia pada kehidupan, harta dan benda-benda dunia,” Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak ,kuda pilihan, binatsng-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik ( Ali Imran: 14).

Kecintaan manusia pada harta, wanita dan anak-anak dan lainnya seperti yang disebutkan Al-Quran sangat tepat dan relevan hingga sekarang. Hingga kini tetap terbukti bahkan menunjukkan fakta yang sangat luar biasa, dimana manusia berlomba-lomba mencari kekayaan. Dalam ekonomi salah satu ukurannya adalah pertumbuhan atau tingkat pendapatan yang tinggi. Disinilah muncul ketimpangan dan kesenjangan ekonomi,  sebagian kecil manusia memiliki tingkat kekayaan sangat besar menguasai aset dan sumber kekayaan baik tanah, kekayaan alam, perusahaan, saham, properti,  mata uang asing dan lainnya. Sedangkan sebagian besar manusia atau mayoritas hidup dalam kemiskinan dan penderitaan dengan tingkat kehidupan ekonomi yang rendah dan terkebelakang. Akibatnya dalam kehidupan di dunia ini  terjadi jurang ketimpangan yang besar antara kaum berpunya dan tidak berpunya.

Yang mendorong manusia mengumpulkan harta dan memenuhi hasrat dan keinginannya pada kesenangan duniawi karena adanya dalam diri manusia nafsu atau syahwat yang selalu minta dipenuhi. Dan nafsu itu cenderung untuk dituruti (nuzu’ an nafs ila ma turiduhu).

Syahwat dan nafsu  selain terkait dengan soal-soal yang berhubungan dengan seksual, juga keinginan untuk memenuhi kecintaan pada kemewahan, kekayaan, pangkat, jabatan dan kehormatan. Kecintaan manusia pada harta, tahta dan wanita tentu saja manusiawi. Namun, bila tidak bisa dikendalikan dan leluasa bebas diturutkan ia bisa menjadi perusak dan penghancur kehidupan. Karena itu dalam Islam terdapat ajaran dan amalan untuk mengendalikan nafsu tersebut. Di antaranya adalah puasa untuk mengendalikan syahwat atau nafsu seksual. Zakat, untuk mengendalikan cinta harta yang berlebihan. Dan Zuhud untuk meninggalkan orientasi duniawi dalam kehidupan.

Menjadi Manusia Paripurna

Menuju manusia sempurna atau insan kamil maka manusia yang memiliki jiwa, hati, nurani dan akal pikiran harus dikembangkan supaya selalu dijaga kesuciannya dan tidak dikotori dengan mengerjakan dosa.

Jiwa yang dalam bahasa Arab disebut an Nafs haruslah memiliki kapasitas yang besar. Sebab, jiwa yang besar mampu menghadapi masalah-masalah yang dihadapi. Sebaliknya, jiwa yang sempit ia akan mudah terguncang menghadapi persoalan yang rumit. Mudah panik ketika keinginan dan cita-citanya tidak terpenuhi. Demikian juga jiwa yang besar dan luas kalau suka berbuat dosa akan menemukan banyak kerumitan dalam hidup.

Hati atau qalbu yaitu berhubungan dengan perasaan ketika menghadapi sesuatu. Secara harfiah qalbu mengandung arti bolak-balik,  tidak konsisten dan suka berubah-ubah. Maka menurut Quran hati itu akan selalu diuji bagaimana kemantapan imannya dan taqwanya 

Hati nurani atau nuraniyyun adalah semacam cahaya. Hati nurani bisa dipahami sebagai cahaya hati atau mata hati. Dalam Al-Quran hati nurani disebut bashirah atau mata batin. Mata batin ini lebih tajam dari mata lahir.  Hati nurani atau mata batin ini sifatnya jujur, peka, konsisten dan bersih. Ibarat cermin  ia bisa menampakkan wajah secara utuh apa adanya. Orang yang suka melakukan kejahatan cermin mata hatinya menjadi buram dan  hitam, hanya bisa melihat sedikit wajah pemiliknya. Sementara orang yang suka mencampuradukkan kejahatan dengan kebaikan cermin mata hatinya retak sehingga tidak bisa lagi melihat wajahnya.

Adapun akal memiliki makna yang banyak dalam Al-Quran, tetapi secara umum akal dipahami sebagai potensi yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Meski banyak istilah mengenai akal dalam Al-Quran ,  akal mengandung arti yang pasti yaitu mengerti, memahami dan berfikir.

Kesempurnaan manusia bisa terwujud jika keempat fungsi manusia tersebut bisa bekerja optimal sesuai kehendak fitrahnya. Yaitu keyakinan dan keimanan kepada Allah dan merealisasikan perilaku yang baik sesuai kehendak Allah, yaitu menyembah Allah dengan menjalankan ibadah dan melaksanakan amal shaleh atau kebaikan. Mensucikan diri dengan menjauhi perbuatan dosa dan kejahatan. Itulah konsep jihadun nafsi untuk kembali ke fitrah manusia menuju insan kamil atau manusia paripurna.

Rujukan

1. Dr Achmad Mubarok, al Irsyad an Nafsi, Konseling Agama Teori dan Kasus, PT Bina Rena Pariwara, Jakarta,  2000.

2. Drs. HM. Arifin. M.Ed, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga, Bulan Bintang, Jakarta,1978. 3. Al Quran dan Terjemahan Departemen Agama RI, CV Jaya Sakti, Surabaya, 1989.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda