Tasawuf

Desain Allah

Written by Panji Masyarakat

Allah sayang pada kita. Kita yang belum sayang pada Allah. Allah memperhatikan kita, kita yang belum memperhatikan Allah. Allah bersama orang yang hatinya selalu ingat Allah, dan lisannya selalu berzikir kepada-Nya.

Ada empat kalimat yang Allah SWT sangat menyukai bila diucapkan oleh hamba-Nya, yakni sebagaimana wasiat Rasulullah SAW  kepada putri tercintanya, Fatimah: Saat kita bertasbih, Allah sucikan dosa-dosa kita. Saat bertahmid, Allah tambahkan nikmat, hidayah, yang saat ini kita nikmati. Kalaupun belum nikmat, hidayah yang diberikan kepada kita, cepat atau lambat akan kita nikmati. Saat kita bertahlil, Allah ucapkan tauhid pada diri kita, walaupun mulainya dari lisan—kalau terus-menerus, batu itu pecah bukan karena pukulan yang ke-100 kalinya, melainkan karena terus-menerus dipukul. Saat kita bertakbir, Allah kecilkan segala-galanya, bahkan ditiadakan oleh-Nya. Yang ada di hati ini hanya keagungan dan kebesaran-Nya. Zikir menerjemahkan bahasa hati atas segala keagungan dan kebesaran-Nya: Subhanallah wal hamdulillah wa Ia ilaha illahu wallahu akbar.

Inti dari kehidupan ini—tugas hidup kita dan utamanya untuk itu kita hidup—hanya mengabdi kepada Allah SWT, seperti dinyatakan di dalam surah Adz-Dzariyat 56 (yang artinya) “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Tugas hidup itu seumur dunia, dari zaman Nabi Adam sampai kiamat nanti, seumur kita, dari lahir sampai mati, juga sehari hidup, dari bangun tidur sampai tidur lagi—bahkan tidur pun merupakan saat untuk mengumpulkan kekuatan guna mengabdi kepada Allah. Sangat terarah, sangat teratur, sangat tertata tugas hidup ini. Ada tugas rumah tangga, tugas perusahaan, tanpa kita sadari ada tugas hidup, yaitu pengabdian kepada Allah. Karena mengabdi hanya untuk Allah, tidak untuk siapa pun dan apa pun. Itulah desain Allah.

Inti dari pengabdian kepada Allah adalah zikrullah, mengingat Allah sesuai dengan surah Thaha 14 (yang artinya), “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

Salat merupakan penghulu ibadah, jika salat itu khusyuk, tuma’ninah, ibadah lainnya baik. Kalau ibadahnya baik, hidupnya baik. Kalau hidupnya baik maka meninggalnya pun insya Allah husnul  khatimah. Salat merangkum seluruh syariat dan rukun Islam, syahadat menjadi syarat rukun salat: tidak sah salat tanpa membaca syahadat. Karena itu, yang “dipanggil” untuk salat adalah mereka yang bersyahadat.

Ketika sahabat bertanya, “Ya, Rasulullah, jihad apa yang paling afdhal?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Salat di awal waktu.” Azan bukanlah panggilan muazin, tapi panggilan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bersyahadat, sesuai surah Taubah 18 (yang artinya), “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Karena kegemaran hidupnya ke masjid maka bumi menjadi masjid. Kantor, rumah, bahkan hotel menjadi musala, tempat ia berpijak pada hamparan sajadah. Azan adalah bahasa sayang Allah kepada kita, yang terkadang seperti anak kecil yang perlu dikejar-kejar untuk mandi dan makan, karena kita belum paham akan hikmah mandi supaya bersih, hikmah makan supaya sehat. Karena itulah agama adalah amal, agama harus menjadi sistem dalam hidup kita.

Salat juga merupakan saum, tidak makan tidak minum. Saat kita asyik dengan dunia, itu kita tinggalkan untuk memenuhi panggilan Allah. Saat kita asyik bekerja, itu kita tinggalkan untuk memenuhi panggilan Allah. Esensi saum adalah pengendalian diri. Memenuhi panggilan Allah itulah pengendalian diri. Seseorang mengendalikan dirinya, sehingga bacaannya tertata, dia hayati setiap lafaznya, ia maknai setiap ungkapannya. Ia menikmati setiap lafaz salatnya. Orang yang khusyuk adalah orang yang saum dalam salatnya. Tuma’ninah-lah orang yang saum salatnya. Orang yang saum lalu salat, tentu berbeda nikmatnya dengan orang yang tidak saum lalu salat. Terasa sekali kucuran hidayah, rahmat masuk pada diri kita. Kita laparkan jasmani kita, kita hauskan tenggorokan kita, tapi kita kenyangkan rohani kita. Itulah amalan para wali Allah dengan saum dan salat.

Salat juga haji. Bukankah syarat sah salat kita menghadap kiblat, dengan mata hati transparan menghadap Ka’bah. Artinya kita menghadap Allah, puncaknya ketika kita sujud, jasmani ini membumi, tapi rohani kita semakin melangit, semakin tawadu‘ semakin diangkat kita ke hadapan-Nya. Dan itu tidak direkayasa, ia bergerak dengan keakuannya, dengan ketulusannya, dengan keyakinannya, segala-galanya Allah, menjadi poros dalam segala tindak nduknya dalam hidup ini. Sehingga hikmah salat itu benar-benar menghunjam pada dirinya.

La ilaha illallah, tiada yang menciptakan kecuali Allah, tiada yang mengatur kecuali Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah. Bila itu menjadi sistem dalam hidup seseorang maka apa yang dia dengar, apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan itulah adanya, Allah yang menggerakkan segalanya. Karena itu, pengertian labbaik allahumma labbaik bukan hanya memenuhi pada saat kita haji, tapi ikrar seorang hamba untuk siap taat pada Allah, siap taat menjauhi larangan Allah, karena jasmani dan ruh kita dilatih menuju rumah-Nya. Kita diihramkan, ditawafkan,  disa’i-kan, diwukufkan, agar terlatih perasaan selalu bersama Allah. Karena itu pesan termahal adalah haji mabrur. Kalau seorang sudah benar-benar menjadikan kebaikan dan perbaikan menjadi kebutuhan dalam hidupnya, dialah penyandang haji mabrur, haji yang sebenarnya. Tidak mudah menjadikan kebaikan dan perbaikan menjadi kebutuhan hidup kita. Karena itu, Allah “sekolahkan” kita, menjadi tamu Allah di Baitullah.

Allah sayang pada kita. Kita yang belum sayang pada Allah. Allah memperhatikan kita, kita yang belum memperhatikan Allah. Allah bersama orang yang hatinya selalu ingat Allah, dan lisannya selalu berzikir kepada-Nya. Di sinilah berarti salat merangkum seluruh syariat rukun Islam. Wallahu a’lam.

Penulis: Muhammad Arifin Ilham (1969-2019), pendiri Majelis Taklim “Adz-Dzikra”. Sumber: Majalah Panjimas, September 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda