Mutiara

Al-Masih dari Qadian

Written by A.Suryana Sudrajat

Taufan kesesatan telah meliputi dunia. Sebab itu, sediakanlah bahtera. Barangsiapa suka naik bahtera itu akan diselamatkan dari mati tenggelam. Adapun yang menolak, kematian akan menimpanya.

Kami jadikan Putra Maryam dan ibunya sebagai tanda bukti. Keduanya kami ungsikan sebagai tanda bukti. Keduanya kami ungsikan ke tanah yang lebih tinggi, yang mempunyai rumput dan mata air.” (Q.S. Al-Mukminun [23]: 50).

Di manakah dataran tinggi yang punya padang rumput dan mata air yang dimaksudkan? Di Yerusalem, Mesir, Palestina, atau Damaskus?

Impossible. Tempat yang sesuai dengan penunjukan ayat itu adalah Kashmir, di Asia Selatan.

Syahdan, Mirza Ghulam Ahmad amat menyukai penyelidikan. Objeknya adalah agama-agama dunia. Salah satunya menyangkut Kashmir. Untuk wilayah yang sekarang menjadi sumber pertikaian India-Pakistan ini Mirza berhasil Menyusun cerita. Suku-suku Israil, menurutnya, dulu bermigrasi dari Palestina, lalu menetap di daerah Kashmir dan Afganistan. Mereka inilah yang disebut Bibel sebagai “domba-domba yang hilang”. Dalam bukunya Masih Hindustan Man (Jesus in India), Mirza menyatakan Yesus tidak mati di tiang salib, melainkan pingsan. Karena itulah, beliau bersama para sahabat bisa pergi ke arah selatan untuk mengajarkan Injil kepada domba-domba yang hilang itu. Di sana beliau wafat dalam usia 120 tahun. Beliau dimakamkan di Khan Yar, Srinagar, yang sampai sekarang dikenal sebagai makam nabi. Di Kashmir, Yesus disebut Yus Asaf.

Tidak sedikit kalangan Ahmadiyah yang menerbitkan publikasi untuk mendukung teori perjalanan Isa tadi. Salah satunya Prof. Fida Muhammad Hassnain. Arkeolog India ini konon berhasil menemukan kain kafan Yesus di sana. Bagi Mirza sendiri, teori tahun 1891 itu punya kegunaan praktis, yaitu mengukuhkan posisinya sebagai Al-Mahdi dan Al-Masih Al-Maw’ud.

Akhir 1888, Mirza mengaku menerima wahyu. Bunyinya: Taufan kesesatan telah meliputi dunia. Sebab itu, sediakanlah bahtera. Barangsiapa suka naik bahtera itu akan diselamatkan dari mati tenggelam. Adapun yang menolak, kematian akan menimpanya.”

Tetapi ia baru memproklamasikan diri sebagai Al-Mahdi tiga bulan kemudian. Disusul baiat dari sekitar 40 orang, di antaranya Al-Hajj Hakim Nuruddin, yang kelak menggantikan kepemimpinannya. Nama Ahmadiyah sendiri baru diumumkan lewat selebaran 4 Desember 1900. Nama ini, katanya tidak diambil dari Namanya yang Mirza Ghulam Ahmad, melainkan dari salah satu dari nama-nama Nabi SAW.

Tapi, yang menghebohkan adalah pengakuannya sebagai Al-Masih Al-Maw’ud (Kristus yang dijanjikan) itu. Untuk mendukungnya, ia menyitir hadis Riwayat Abu Dawud, “Sesungguhnya Allah akan mengutus umat ini pada setiap permulaan 100 tahun orang yang akan memperbarui agama mereka.” Tentu juga hadis nuzulul masih dari Imam Bukhari: “Bagaimanakah perihal kamu bila Ibn Maryam turun di kalangan kamu dan menjadi imam di antara kamu?” Kata “turun” (nuzul), menurut Mirza tidak berarti turun dari langit. “Imam di antara kamu” (imamukum minkum) merujuk pada orang dalam. Jadi, jelas sudah bahwa Masih yang akan datang bukan Yesus yang sudah dikatakan wafat di Kashmir itu, tetapi orang Islam yang perilaku dan sifat-sifatnya seperti Yesus.

Mirza Ghulam Ahmad lahir 13 Februari 1835 di Qadian, 70 mil barat laut Lahore. Mirza adalah gelar ningrat keturunan Dinasti Moghul asal Persia. Leluhur Ahmad dari Khurasan. Dari kedermawanan raja-raja Moghul di Hindustan, moyangnya beroleh tanah pusaka, yang terdiri dari beberapa desa, dengan hak penguasaan sebagai hakim. Tanah perdikan itu disebut islampura. Dari sinilah timbul nama Islampura Qadian, alias Islampura daerah Qadi, yang lama-lama disebut Qadian saja. Ketika Kesultanan Moghul jatuh, banyak ulama mengungsi ke situ. Tapi Kawasan kecil yang sekarang masuk wilayah India ini tak urung pula menjadi sasaran kekejaman orang Sikh.

Ayahnya, Mirza Ghulam Murtadha, berharap putranya berjuang memulihkan kekayaan dan pamor keluarga Mirza. Tetapi Mirza yang Ahmad ini menolak menjadi kaya—kecuali dalam arti rohani. Jadi, ia lebih banyak puasa, zikir, ibadah, tinggal di sebuah kamar di tingkat atas, dan mengatur agar makanan dibawakan ke kamarnya. Diam-diam ia mengundang anak-anak yatim untuk makan bersama. Dua atau tiga minggu berikutnya, ia memutuskan mengurangi makan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya cukup hanya dengan sekerat roti untuk sehari-semalam.

Karena penyakit neurasthenia yang dideritanya bertahun-tahun, tanggal 26 Mei 1908, pukul 10.00, ia pun mangkat. Kedudukannya digantikan sahabatnya yang haji itu (Mirza sendiri hingga akhir hayatnya tidak sempat berhaji). Tapi sepeninggal Nuruddin, Ahmadiyah pecah. Sebagian pengikut menginginkan putra Ahmad, Mirza Bashiruddin Mahmud, yang menjadi khalifah. Bashiruddin pula, yang ketika ayahnya meninggal baru berumur 14, yang menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Sementara itu, pengikut lainnya di bawah Khawaja Kamaluddin dan Maulvi Muhammad Ali, berhijrah ke Lahore. Ahmadiyah Lahore ini mengakui ketokohan Ahmad hanya sebatas mujadid, pembaru, bukan nabi. Nah, Mirza Tahir Ahmad yang pernah berkunjung ke Indonesia adalah khalifah untuk yang nabi itu.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda