Hamka

Ulama di Mata Buya (1): Sang Penunjuk Jalan di Belukar Hidup

Written by Panji Masyarakat

Ulama adalah sebutan untuk orang yang telah berilmu banyak. Arti ulama ialah orang yang berilmu pengetahuan, bukan saja pengetahuan agama, tetapi juga pengetahuan dunia. Kata ‘ulama’ salah satunya disebutkan dalam ayat, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS Fatir/35:28).

Ulama, kiai, lebai, ajengan atau pemimpin-pemimpin agama ialah penyambut warisan Nabi, menyampaikan pengajaran dan tuntutan kepada  umat manusia. Ulama pelita di waktu sangat gelap. Ulamalah penunjuk jalan di belukar hidup yang tak tentu arah. Ulamalah pemberontak kepada kekuasaan sewenang-wenang, melawan kezaliman dan aniaya. Kebesarannya terletak dalam jiwa, bukan dalam pakaiannya yang mentereng, baik jubah dan serban, atau tasbih dan tongkat kebesaran.

Sayangnya adalah karena Allah ini dan bencinya pun karena Allah. Dari matanya memancar cahaya keyakinan dan iman. Ulama berani menyatakan kebenaran, menyaksikan kebenaran, memberikan nasihat, berdasar kepada hukum yang diturunkan Tuhan. Tidak memutar-mutar, memusing-musing arti perintah Allah, karena mengharapkan ridha dari kekuasaan manusia. Sekali-kali tidak sudi menyembunyikan kebenaran, padahal mereka telah tahu.

Mereka mulia dan bergengsi tinggi karena iman dan kepercayaannya. Lantaran itu tidaklah pernah mereka merasa rendah diri kepada sesama makhluk. Mereka kuat, karena mereka tidak pernah menadahkan tangannya kepada sesama makhluk. Ulama yang sejati itu tidaklah suka terikat oleh kemegahan nafkah dunia yang fana dan maya ini. Sebab itu perutnya tidaklah menguasai dadanya, dan kepalanya tidak berat yang menyebabkan kantuk, karena terlalu banyak memakan pemberian orang kaya atau orang berkuasa.

Mereka menempuh beribu macam kesulitan dan mereka tahu akan kesulitan itu. Jalan itu berbahaya dan mereka tahu akan bahaya itu. Diri mereka terancam dengan berbagai ancaman, dan mereka insaf akan ancaman itu. Tetapi mereka merasa bahwasanya tidak ada ancaman dan bahaya di dalam hidup yang lebih besar dari pada mengingkari perintah Allah dan menuruti perintah syaitan. Maka kecillah segala bahaya untuk diri jika memikirkan kemurkaan Tuhan, bertambah teguhlah tekad mereka biar mati syahid dalam menegakkan kebenaran dari pada tetap hidup di dalam kehinaan. Yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah, agama Tuhan mesti tegak, benderanya mesti berkibar, tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya.

Bersambung

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka (2020)  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda