Tafsir

Tafsir Tematik: Perempuan dan Keindahan (3)

Written by Panji Masyarakat

Para mukmin yang laki-laki dan para mukmin yang perempuan, sebagiannya pelindung yang sebagian. Memerintahkan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, serta mematuhi Allah berikut Rasul-Nya. Mereka itulah yang dirahmati Allah. Allah Mahaperkasa dan Mahabijak.

Allah memberi janji kepada para mukmin yang laki-laki dan yang perempuan dengan taman-taman yang mengalir di bawahnya bengawan-bengawan, kekal mereka di sana, dan tempat-tempat kediaman yang elok di kebun-kebun Aden, sedangkan keridhaan Allah terlebih besar. Itulah dia keberuntungan agung. (Q. 9: 71-72).

Apa yang bisa diberikan oleh sebuah seni? Bahkan dari sebuah sajak pendek dua baris: bukan sesuatu yang sehari-hari. Terasa ada, di sana, sesuatu yang barangkali menambah bobot hidup. Ada keagungan, dalam karya-karya yang lebih “serius”, bahkan kalaupun dibangun lewat medium yang mengambil gaya centang-perenang. Ada, idealnya, haru yang menyergap dada, yang ketika ia mendorong orang agama mengucap “Allah” secara tak sadar, hakikatnya mereka  mewakili orang-orang lain yang hanya tak menyadari “haru yang religius” itu. Ada pesan kemanusiaan yang lintas sektoral. Atau kearifan, kebijakan, wisdom – juga kalimat-kalimat witty seperti dari Shakespeare maupun Khaiyam. Paling tidak, ada pesona – yang mungkin kecil, hanya dua baris, hanya satu sketsa dari beberapa goresan, tapi seperti memancar-mancarkan dan menyiratkan yang di belakang, yakni berbagai kualitas yang disebut di atas.

“Yang di belakang” itulah, memang, yang menentukan kesenian sebuah karya. Dengan kata lain, ia bukan karya yang berhenti pada gambar itu sendiri, foto itu sendiri, dengan hanya tak lebih kekuatan memancing birahi – menurut mazhab ini, yang harus dikatakan sebagai estetika kalangan agama. Adapun munculnya beberapa arus pemikiran seni di belakang hari merupakan produk modern Barat dengan gejala-gejala negatifnya yang lazim dikatakan sebagai  kehilangan rasa makna hidup, kehilangan kepercayaan kepada keagungan, kepada keilahian, bahkan kepada surprise dan klimaks. Hidup menjadi rutin, rata, sementara semua hanya ditangkap sekejap-sekejap bagai kilatan-kilatan lampu reklame. Dan tanpa isi.

Maka ketika semua habis di-explore, ketika tabu seks dikoyak-koyak dan segala yang sakral dan misteri dibuat ludes, termasuk ke dalamnya ide keindahan dan kesucian perempuan, tumbuh estetika “kelenjar” dan “estetika” lendir. Bentuknya yang paling brutal adalah penjajaan berbagai tontonan seks, sampai ke tingkat live show hubungan badan di depan hidung atau penjualan “tarian” gadis-gadis di atas meja, dengan pakaian yang dicopot satu demi satu. Dan itulah pornografi – ketika erotisme diperturutkan sampai ke bentuk-bentuk yang paling tidak senonoh.

Dan dengan kiblat itulah bangkit di kalangan kita di Indonesia kebebasan mencetak dan menyebarkan aneka gambar perempuan telanjang, yang tampak sebagai bentuk pemanfaatan culas pertama iklim demokrasi yang diperjuangkan dengan susah, oleh mereka yang memposisikan diri sebagai agen-agen para pedagang daging busuk, dengan helah “seni” yang tak lebih dari suatu nonsense dan suatu bullshit. Itu baru langkah pertama, bila “demokrasi” dijadikan alasan, ke arah kebebasan lebih besar bagi penyiapan generasi picisan yang manja, loyo oleh seks dan madat, tanpa rasa makna hidup dan kekuatan harapan, seperti yang dengan mata nanar dan letoy mengisi bagian kota-kota metropolitan Barat.

Adakah semua ini berhubungan dengan ayat di atas? Tidak. Tapi ada hubungannya dengan perempuan. Dan perempuan berhubungan dengan keindahan (dan puisi, dan erotisme, dan pelecehan dan pornografi), sementara semua itu menyangkut harkat dan status. Ayat di atas bicara tentang yang terakhir itu.             

Bersambung.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli  1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda