Bintang Zaman

Soekiman Wirjosandjojo : Alami Penyitaan Alat-alat Medis (2)

Written by Iqbal Setyarso

Menjadi dokter yang telah ia tekadkan sebagai wujud pengabdiannya dalam hidup, merupakan dinamika. Kenyamanan yang ia reguk sejak kanak-kanak hingga menjadi dokter, pada masa penjajahan Jepang, hal itu hanya kenangan indah. Tak lagi ada kendaraan yang mengantar kemana-mana, juga fasilitas riset yang pernah ia rasakan. Penjajah Jepang telah menyita semuanya, bahkan ikat pinggang bertahta permata yang jarang dia bawa-bawa, hari itu justru disita tentara Kepang.

Kustami adalah anak kelima putri dari Dr. Keramat. Pertemuan Soekiman dengan Kustami berawal dari kongres Jong Java yang berlangsung di Bogor. Kustami lahir pada 1906 di Barabai, Kalimantan Timur. Kelahiran putra pertama Soekiman yaitu Sakri, tidaklah menghalangi Soekiman untuk melanjutkan pendidikanya ke Negeri Belanda. Selama kurang lebih empat tahun, di sana ia memilih untuk mendalami ilmu kedokteran tentang penyakit dalam (internis). Dengan ini ia dapat menunjukkan prestasinya kepada dunia dan khususnya pada bangsa Belanda yang menjajah Indonesia. Bahwa bangsa Indonesia juga mampu berbuat, kecerdasan otaknya tidak kalah jika dibandingkan dengan bangsa penjajah. Tidak benarlah anggapan Belanda, bahwa otak Indonesia belum matang mendapat pelajaran yang setinggi-tingginya. Soekiman tidak membuang-buang waktu, segala daya dan upaya yang ditempuhnya dicurahkan untuk kesuksesan studinya. Meskipun di samping itu banyak kegiatan pemuda Indonesia di Negera Belanda, tetapi semua itu tidak melalaikan Soekiman terhadap studi. Semua itu merupakan cambuk yang keras untuk lebih semangat cepat menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Akhirnya dengan kerja keras yang maksimal, Soekiman berhak memakai gelar Art penuh seperti orang Belanda.

Ditentir Bapak Bangsa

Dalam diri Soekiman untuk menyukseskan setiap kegiatan, terutama dalam kesuksesan belajar jalan yang dilakukan Soekiman yaitu dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Untuk mencapai tujuan ini Soekiman tidak hanya mengandalkan otaknya saja. Tetapi ia selalu memohon kepada Tuhan untuk meminta kelapangan jalan, kemudahan kerja, ketenangan dan keterangan hati. Perbuatan ini biasanya dilakukan Soekiman pada saat sepi, yaitu pada malam hari, dengan khusuk ia mendekatkan kepada Tuhan.

Ketika bekerja di Yogyakarta, Soekiman mulai tertarik untuk meneliti atau mencari tahu mengenai penyakit paru-paru. Dengan bekal pengetahuan tentang penyakit dalam, ia melakukan penelitian dari kasus-kasus yang terjadi khususnya di Yogyakarta. Ketertarikan Soekiman pada penyakit paru-paru karena pada saat itu penyakit ini sangat menakutkan, dan biasanya penderita penyakit paru-paru akan berakhir dengan kematian. Oleh sebab itu ia ingin mendalami penyakit ini sebagai spesialis paru-paru. Kesempatan baik datang pada Soekiman, ketika itu dokter spesialis paru-paru yang bertugas mengawasi rumah Rumah Sakit paru-paru di Pacet Cianjur dipanggil pulang oleh DVG (Diens Van Gezoundheid) ke negeri Belanda. Di sini dokter Soekiman mendapatkan kepercayaan penuh selama tiga bulan untuk menggantikan posisi dokter tersebut. Kesempatan ini sangat dimanfaatkan oleh Soekiman. Ia melakukan penelitian lebih mendalam tentang penyakit paru-paru baik penyebab, gejala, perawatan serta pencegahan. Soekiman mengajak Soewito Prawirowihardjo sebagai asisten dalam penelitiannya. Peraturan di rumah sakit ini orang laki-laki tidak boleh masuk kecuali dokter, karena rumah sakit ini khusus untuk kaum wanita. Jadi penghuni rumah sakit ini mulai dari dokter, perawat serta pasiennya adalah wanita. Oleh karena itu Soekiman mengaku bahwa asistennya yaitu Soewito Prawirohardjo juga seorang dokter. Sebagai asisten, Soewito bertugas untuk menyusun kertas kerja dari hasil penelitian dan penemuan Soekiman. Jika berbicara mengenai agama, Soekiman juga memiliki ilmu dan pengetahuan luas tentang agama. Ia mendalami ilmu agama dengan cara belajar sendiri dan berguru pada ulama-ulama. Memang pengetahuan agama sudah ada dalam dirinya sejak kecil, jadi tinggal mengembangkan. Untuk mendalami ilmu agama ia membaca dari berbagai sumber, yang bersumber dari barat ia dapat memahaminya karena ia menguasai bahasanya. Sedangkan yang bersumber dari bahasa Arab ia kurang faham, sehingga ia mendalaminya melalui terjemahan dari para ulama. Soekiman juga tidak pernah malu untuk berguru pada ulama yang luas ilmu pengetahuanya. Jika ada sesuatu yang kurang faham ia selalu bertanya hingga ia dapat memahaminya. Tercatat nama gurunya yang ternama yaitu Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim. Sehingga tidak mengherankan, Soekiman yang berpendidikan barat itu juga menguasai dalam ilmu agama.

Cikal bakal pemikiran politik Islam Soekiman Wiryosandjojo dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini berawal ketika ia menempuh pendidikan di Stovia dan ke Belanda yaitu ketika ia ikut bergabung dalam Tri Koro Darmo dan Perhimpunan Indonesia. STOVIA merupakan perkembangan dari Sekolah Dokter Jawa yang didirikan pada 1851 dan sekolah ini merupakan pendidikan tertinggi di Indonesia yang menjadi tujuan utama para pemuda dari segala penjuru Tanah Air untuk meneruskan studi. Karena itu para pemuda Tanah Air berebut agar bisa melanjutkan studinya di Stovia, begitu juga dengan Soekiman Wirjosandjojo. Setelah menyelesaikan studinya di ELS Boyolali, Soekiman mengikuti kakaknya yaitu Satiman untuk melanjutkan ke Stovia. Ketika menempuh pendidikan di Stovia, terjalin pendekatan antara Soekiman dengan para pemuda-pemuda yang datang dari segala penjuru tanah air. Sehingga banyak menambah pengalaman dan pengetahuan Soekiman, dengan itu ia juga dapat mengetahui bahwa teman-temanya ini juga bernaung dibawah kekuasaan penjajah Belanda.

Stovia dan Kebangunan Intelektual Indonesia

Kehidupan di Stovia telah memberi corak dalam perjalanan sejarah bangsa, karena di Stovia para pemuda digembleng menjadi manusia terpelajar dan lebih matang. Tempat ini bukan hanya melahirkan dokter muda Indonesia, akan tetapi di tempat ini juga tercetus rasa kesadaran terhadap apa arti dari persatuan dan kebangsaan. Dari tempat inilah asal mula tumbuhnya semangat untuk mengikat persatuan dan kebangsaan. Karena mereka merasa bersaudara dan adanya kesatuan perasaan, untuk itu mereka bersama-sama berusaha mengangkat nama bangsanya ke tingkat yang layak yaitu menjadi manusia yang mempunyai martabat seperti bangsa lainnya di dunia. Begitu juga dengan Soekiman, ia terus mengikat persaudaraan dan persahabatan yang baik dengan semua pemuda, baik dengan yang lebih tua maupun sesama tingkatnya. Untuk lebih mendekatkan diri dalam hubungan kekeluargaan, para pemuda ini mempunyai ide membentuk ikatan perkumpulan menurut asal daerah masing-masing. Perkumpulan ini dibuat sebagai tempat untuk menyalurkan inspirasi dari pemuda yang belajar di Stovia.

Di Stovia inilah merupakan asal mula lahirnya semangat dan berkembangnya kesadaran nasional yang dicetuskan oleh pemuda pelajar.81 Jika kita lihat dalam perjalanan sejarah bangsa tentang kebangkitan nasional di tempat inilah Budi Utomo yang dipelopori oleh Sutomo berdiri pada 20 Mei 1908, dan ini merupakan cikal bakal dari kebangsaan. Kemudian menyusul pula organasisasi pemuda lainnya dan begitulah terus sambung menyambung dalam bentuk-bentuk kedaerahan yang kemudian bergabung menjadi satu, menjadi satu kekuatan yang nyata yaitu Indonesia. Seperti yang dikatakan Soekiman di Een Protest (Sebuah Protes) yaitu: “Boedi Oetomo yang telah memercikkan nyala api yang sekarang menerangi seluruh Jawa. Sebab setelah Boedi Oetomo benar-benar berdiri, lingkungan kerjanya mengembang sedemikian rupa, sehingga masalah pendidikan di negeri ini telah mendapat perhatiannya pula, dan pada saat itulah dapat dikatakan bahwa suatu zaman baru telah dimulai dalam sejarah rakyat kita.”  Awalnya rasa itu mulai timbul dan mereka miliki secara lokal, secara regional, secara daerah demi daerah. Lalu timbul keinginan pada mereka untuk bersama-sama berjuang memperbaiki nasib dan meningkatkan taraf hidup rakyat di daerah mereka masing-masing. Di dalam jiwa mereka mulai tertanam semangat persatuan. Lahir dan berkembangnya perkumpulan-perkumpulan atau organisasiorganisasi pemuda yang berasas kedaerahan merupakan hal yang wajar serta tidak mengherankan lagi. Pemuda-pemuda dari suatu daerah tentu saja merasa dirinya lebih dekat dan lebih akrab dengan pemuda-pemuda sesuku atau sedaerah dari pada dengan pemuda-pemuda yang berasal dari daerah atau suku lain.

Soekiman tidak hanya mementingkan studi dalam mengejar jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi ia selalu melibatkan diri di setiap aspek kehidupan yang bernaung dalam organisasi pemuda pelajar. Semuanya dapat ia ikuti dengan seksama dan dilakukannya dengan aktif.86 Tujuh tahun setelah berdirinya Budi Utomo, berdiri pula perkumpulan pemuda pelajar yaitu Tri Koro Darmo yang didirikan oleh Satiman (saudara Soekiman) bersama Kadarman dan Sudarsono. Perkumpulan ini berdiri tepatnya pada 7 Maret 1915. Arti dari Tri Koro Darmo ialah tiga tujuan mulia yaitu Sakti, Budi dan Bakti. Akan tetapi anggotanya masih terbatas hanya untuk Jawa dan Madura. Tri Koro Darmo ini mempunyai tujuan yaitu “Menumbuhkan pertalian antara murid-murid bumiputra pada sekolah menengah dan kursus perguruan kejuruan, menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya, membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan.” Perkumpulan ini dibentuk hanya bersifat sementara saja, karena itu Satiman tidak berambisi untuk menarik pemuda-pemuda lainnya yang diluar suku Jawa, akan tetapi ia tidak berpandangan sempit. Ia memberikan kesempatan kepada pemuda-pemuda Indonesia untuk merubah Tri Koro Darmo menjadi tempat perkumpulan pemuda Indonesia pada umumnya. Karena semakin banyak pemuda yang berminat masuk menjadi anggota, maka pada saat kongres Tri Koro Darmo di Solo pada 1918, semua pikiran-pikiran dan kehendak dari para anggotanya dituangkan. Dalam kongres ini memutuskan untuk mengubah perkumpulan Tri Koro Darmo menjadi Jong Java. Untuk itu anggota yang diterima semakin luas meliputi Sunda, Jawa, Madura Bali dan Lombok. Jong Java mempunyai prinsip untuk mempersatukan seluruh pemuda pelajar Indonesia. Melihat perkembangan kegiatan yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa Jong Java merupakan sebuah perkumpulan kedaerahan yang terbesar dan terorganisir dengan baik. Kegiatannya meliputi bidang sosial, kebudayaan, dan juga diberikan teori politik.

Terbentuknya perkumpulan ini cukup mendapat simpati dari para pemuda pelajar khususnya pemuda pelajar dari Jawa. Begitu juga Soekiman, pemuda yang berasal dari Jawa. Ia turut berpartisipasi dan ikut andil dalam pertumbuhan Jong Java. Dalam setiap kesempatan ia selalu menyampaikan buah pikirannya. Ide dan pikirannya merupakan pendorong yang kuat dalam memupuk semangat dalam menuju arah persatuan, dan juga merupakan tenaga pembangkit akan kesadaran menuju arah kesadaran nasional. Ide yang disampaikan Soekiman selalu mempunyai makna yang sangat berguna bagi para anggota, dan apa yang ia sampaikan merupakan tali pengikat dalam menjalin persatuan yang lebih luas yaitu persatuan bangsa. Karena keaktifan, dedikasi dan perhatianya terhadap perkembangan Jong Java, maka dalam kongres Jong Java di Solo pada 21-27 Mei 1922 mengambil sebuah keputusan yang menyangkut Soekiman. Keputusannya ialah memutuskan untuk menawarkan anggota kehormatan kepada Soekiman. Pada 1922, setelah menyelesaikan studi di STOVIA dengan mendapat gelar Indische art (Dokter Pribumi), ia melanjutkan studinya ke Belanda. Ia meneruskan studinya pada fakultas kedokteran pada tingkat doktoral di kota Amsterdam.

Kehadiran Soekiman di Belanda, membawa perubahan dalam perkembangan perkumpulan pemuda, pelajar dan mahasiswa yang telah berdiri di Belanda. Ia disana bukan hanya berkeinginan keras untuk mengejar gelar sarjana kedokteran yang sederajat dengan dokter Barat, akan tetapi ia turut aktif berperan dalam perkumpulan pemuda, pelajar dan mahasiswa di negeri Belanda. Soekiman juga tidak lupa untuk berjuang dalam lapangan politik, ikut menyiapkan kemerdekaan bangsanya.  Soekiman bergabung dalam Perhimpunan Hindia Belanda yang saat itu dipimpin Iwa Sumantri, berdirinya perhimpunan ini dipelopori oleh Dr. Sutomo pada 1908. Tujuan pertama perkumpulan ini yaitu untuk mengurus kepentingan orang-orang Indonesia di negeri Belanda seperti Sumatra, Jawa, Minahasa, Ambon, Madura dan suku-suku lainnya. Dengan berjalannya waktu, perkumpulan ini mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Perhimpunan ini mengalami perubahan yang sangat cepat, karena setiap tahun hadir para pemuda-pemuda dari Tanah Air untuk meneruskan studi ke Belanda. Perubahan ini dapat melahirkan gagasan dan pemikiran untuk kepentingan Tanah air dan bangsa.

Periode selanjutnya yaitu pada 1923-1924 dipimpin oleh Nazir Datuk Pamuncak. Ketika kepengurusan ini tidak mengalami perubahan,94 hanya mempertahankan yang dicetuskan oleh periode sebelumnya. Jadi para pemuda pelajar dan mahasiswa mencurahkan perhatiannya untuk meningkatkan semangat persatuan untuk mencapai tujuan yang nyata. Periode kepengurusan pada 1924-1925, Soekiman Wirjosandjojo terpilih menjadi ketua perkumpulan yang melahirkan banyak pemimpin di kemudian hari. Patut diketahui pada masa kepengurusan Soekiman nama perkumpulan pemuda, pelajar dan mahasiswa berubah menjadi “Perhimpunan Indonesia (PI)”. Pada awal kepengurusanya, Soekiman dengan bantuan kawan-kawan menyusun keterangan azas yang disampaikan dalam pidatonya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Semenjak itulah bahasa Indonesia dipakai secara resmi dalam rapat atau pertemuan para pemuda di negeri Belanda. Keterangan azas yang disampaikan oleh Soekiman ialah: 1. Hanya Indonesia yang bersatu yang mengesampingkan perbedaan-perbedaan golongan dapat mematahkan kekuatan kolonialisme. Untuk tujuan bersama, kemerdekaan Indonesia, kita perlu membentuk suatu massa yang percaya pada diri sendiri dan mempunyai rasa kebangsaan atas kesatuan sendiri, 2. Ikut sertanya seluruh lapisan bangsa Indonesia adalah syarat untuk dalam memperjuangkan kemerdekaan untuk mencapai maksud dan tujuan kita. 3. Ciri-ciri yang menonjol dan penting dari soal-soal politik kolonial adalah kepentingan yang bertentangan antara yang memerintah (kolonial) dan yang diperintah. Kecenderungan dalam politik yang memerintah untuk menjelekkan dan menutupi ciri-ciri ini diimbangi oleh yang diperintah mempertajam dan menyebarkan segala pertentangan tersebut. 4. Mengingat akibat yang mematahkan dan menghilangkan semangat dari kolonialisme atas keadaan mental dan fisik dalam kehidupan Indonesia, harus ada usaha menormalisasi keadaan mental dan material ini.

PNI, Rivalitas Politik

Pada saat kepengurusan ini juga majalah yang bernama Hindia Poetra yang merupakan sebagai media perkumpulan namanya beralih menjadi “Indonesia Merdeka” dan isinya bahasa Indonesia. Majalah ini sangat berperan, karena para mahasiswa dapat menyalurkan ide-ide, gagasan dan pikiran mereka melalui tulisan. Tulisan yang dimuat dalam majalah ini banyak memberikan inspirasi bagi perkembangan mahasiswa di Indonesia.98 Pernyataan yang telah dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia dalam kepengurusan Soekiman ini mendapat simpati yang cukup besar dari kalangan pelajar dan sastrawan, dan mendapat dukungan moral dari kaum pergerakan buruh. Suaranya terus menyebar luas dan sangat populer di kalangan perhimpunan mahasiswa Asia dan Afrika. Pernyataan ini juga terdengar hingga kota-kota besar di Eropa seperti di Paris, Berlin, Wina dan London.99 Nama Indonesia yang telah ditetapkan oleh pemuda, pelajar, mahasiswa di negeri Belanda ini terinspirasi dari tulisan seorang antropolog Inggris dan sarjana Jerman yang bernama Herr Adolf Bastian. Sarjana ini menulis kata Indonesia dalam bukunya yang berjudul Indonesian Order die inseln des Malalyischen Archipells, yang menerangkan di daerah yang sama dalam hukum adat yang meliputi Lautan Hindia dan Pasifik. Karena itulah dalam rapat perhimpunan memutuskan untuk memakai istilah tersebut, dan sebagai politis wilayahnya meliputi kawasan yang dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda dan penduduk yang mendiami wilayah ini disebut bangsa Indonesia.

Karena orang Barat tidak dapat membedakan orang Asia, sehingga pemuda yang mengakui dirinya bangsa Indonesia sering dikatakan Cina dan Jepang. Untuk mengenali identitas bangsa Indonesia, para pemuda Tanah Air menggunakan kopiah sebagai ciri khasnya. Sehingga setiap anggota diharuskan memiliki kopiah untuk dipakai dalam rapat. Sejak itulah secara resmi kopiah dipakai oleh para pemuda, pelajar dan mahasiswa. Dengan ini tidak mengenal suku dan perbedaan agama, semuanya memakai kopiah dalam menuju persatuan bangsa. Demikianlah kegiatan-kegiatan dalam periode 1924-1925, ketika Perhimpunan Indonesia dalam pimpinan Soekiman yang turut memberikan corak dan warna pada perkumpulan yang telah dirintis oleh para pemuda di negeri Belanda. Dalam rapat akhir tahun, sebelum menyerahkan jabatan pada penggantinya, Soekiman mengusulkan pada sidang Perhimpuanan Indonesia supaya mengangkat Ahmad Subardjo menjadi pimpinan periode selanjutnya. Tetapi dengan alasan yang kuat dan argumentasinya yang meyakinkan usul Soekiman tersebut secara bijaksana dan halus ditolak oleh Ahmad Subardjo. Karena itu ia menunjuk Mohamad Hatta sebagai pengurus perhimpunan dalam periode selanjutnya.  Perlu diketahui, ketika Soekiman hendak pulang ke Indonesia, para pemuda-pemuda menitipkan kepada Soekiman untuk disampaikanya di pertemuan penyambutan kedatangan para pemuda dari Belanda bahwa disana mereka mengalami krisis ekonomi, yang disampaikan Soekiman yaitu: “Rupanya krisis ekonomi dunia yang menjelang sejak tahun 1929 itu ada memberi pengaruh jelek juga pada nasib studen kita di sana, karena sejak itu waktulah sokongan yang mereka dapat dari orang tua atau sanak keluarganya dari Indonesia makin lama makin kurang hingga tak dapatlah buat ongkos hidup yang sekedar pantas bagi kaum studen itu negeri Belanda. Sebagaimana orang tentu mengetahui, bahwa tingkat penghidupan di sana ada lebih tinggi daripa di Indonesia, lebihlebih dalam musim salju di mana antara lain-lain orang menghendaki pemanasan hawa dan lain-lain alat pakaian yang serba tebal, yang semuanya itu meminta ongkos yang sangat tinggi. Maka untunglah, bahwa sebagian besar dari kaum studen kita di sana itu sudah sementara tahun berjalan telah berhasil mendirikan sebuah clubhuis dengan nama clubhuis “Indonesia”, dalam mana dapat memberi kesempatan kepada kaum studen kita buat membikin pertemuan dan menyediakan makanan dengan ongkos yang seringan-ringannya, hingga dapat menolong hidupnya beberapa studen yang tidak cukup mendapat bantuan dari Indonesia atau yang sama sekali tidak mendapat bantuan dari sanak keluarganya.

Sungguh sangat berhargalah pendirian clubhuis ini karena kecuali dibuat amal, pun dapat mengibarkan nama “Indonesia” di negeri Belanda, tetapi mengingat beratnya beban yang menjadi tanggungannya pendirian ini, terutama dalam musim perang seperti sekarang, maka bagi menjaga tegak berdirinya pendirian tersebut sudah barang tentu tidak saja menghendaki sepenuh-penuh perhatian daripada rakyat kita di sini, tetapi pun sokongan tenaga dan harta dari mereka yang agak mampu sangatlah diharapkan oleh kaum studen dan clubhuisnya di sana itu. Demikian itulah pesan dari kaum studen kita di Nederland pada waktu kami hendak bertolak dari sana, buat disampaikan kepada sidang ramai di sini, dan alangkah besar hati mereka itu mendengar kabar, bahwa sekarang ini kami telah tiba kembali dengan selamat di Indonesia dan merasa girang atas segala apa yang telah kami lakukan kepadanya.” Jadi pemikiran politik Soekiman Wirjosandjojo ketika masih muda atau pada masa mudanya saat ikut aktif dalam Jong Java di STOVIA dan Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda yaitu masih nasionalis, artinya perkumpulan yang diikuti tidak ada unsur berdasarkan Islam akan tetapi berdasarkan persatuan bangsa Indonesia dengan tujuan Indonesia merdeka. B. Pemikiran Soekiman Wirjosandjojo Setelah Kepulangan dari Belanda (1927-1942) Setelah Soekiman pulang dari Belanda ia bergabung dengan Partai Serikat Islam hingga ia mendirikan partai baru yaitu PARII yang berubah nama menjadi PII. Ketika itu pemikiranya yang awalnya hanya nasionalis artinya hanya berdasarkan persatuan Indonesia, kini pemikiran Soekiman Wirjosandjojo mulai berkembang menjadi nasionalis berdasarkan Islam. Setelah Soekiman menyelesaikan pendidikanya dan memperoleh gelar dokter yang setara dengan orang Belanda, ia kembali ke Tanah Air dan memilih kota Yogyakarta sebagai tempat tinggalnya. Di sini mulailah Soekiman ikut aktif dalam bidang politik, seperti yang ia cetuskan dalam statemen politik Perhimpunan Indonesia ketika di Belanda yaitu untuk menuju cita-citanya “Indonesia Merdeka”.

Sebagai seorang sarjana, Soekiman sadar akan tugas dan kewajibannya. Seorang sarjana yang diharapkan masyarakat sebagai penggerak untuk menggempur kekuasaan kolonial yang ada di Indonesia. Ia harus bisa mengumpulkan kekuatan di Tanah Air yang telah terpecah belah oleh kekuasaan penjajah dengan cara ia harus mampu menjadi juru bicara yang dinamis dan memiliki karakter yang kuat sehingga dengan itu bisa dengan mudah menyatukan kekuatan. Sebagai nasionalis dan taat beragama, Soekiman memilih jalan yang berdasarkan Islam (padahal waktu itu juga berdiri PNI). Memilih jalan berdasarkan Islam, karena itulah keyakinannya dan ia melihat bahwa saat itu yang menderita atas penjajahan mayoritas adalah umat Islam. Ia tidak memilih masuk ke PNI, karena pada saat itu Partai Nasional Indonesia sudah diposisi paling depan dalam mengikat persatuan bangsa. Sedangkan PSI (Partai Sarekat Islam) mulai mengalami kemunduran, untuk itu Soekiman masuk dalam partai ini untuk membawa perubahan ke arah yang lebih maju sebagai satu wadah untuk umat Islam Indonesia. Semua strategi ini diatur dan disepakati oleh para pemuda yang bergabung dalam Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda, bahwa strategi ini dilakukan untuk berjuang menghadapi kolonial sehingga dianjurkan supaya para pemuda masuk memperkuat partai politik, baik itu agama maupun nasional. Soekiman masuk sebagai anggota PSI pada 1927, bertepatan dengan saat itu berdiri pula PNI yang dibentuk Soekarno pada 4 Juli 1927 di Bandung dengan dukungan para kalangan muda terpelajar yang baru pulang dari Belanda. PNI dan PSI ini berdiri untuk menentang kekuasaan kolonial dan merupakan kawan untuk menuju cita-cita yang sama yaitu Indonesia Merdeka.

Dengan berdirinya PNI ini juga mendorong terjadinya perubahan dalam tubuh PSI, karena dengan berdirinya PNI ini merupakan saingan terberat bagi PSI dalam menambah jumlah anggota dan pendukungnya.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda