Mutiara

Ali Syariati Sang Marxis Muslim

Written by A.Suryana Sudrajat

Ayahku membentuk dimensi-dimensi yang pertama bagi semangatku. Dialah yang mengajarku seni berpikir dan seni makhluk manusiawi. Saya berangsur besar dan matang dalam perpustakaannya yang baginya merupakan keseluruhan hidupnya dan keluarga.

Iran sebelum revolusi sering digambarkan sebagai sebuah oase di Timur Tengah yang penuh gejolak. Di bawah Mohammad Reza Syah Pahlevi yang mewarisi takhta dari ayahnya, Reza Syah, pada 1941, Iran  memang menjadi sekutu yang paling loyal pada Amerika Serikat. Berkat bantuan persenjataan, latihan militer, dan latihan polisi rahasia dari Amerika, Syah berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan membungkan musuh-musuhnya. Dengan cepat pula ia melakukan pembaruan di berbagai lapangan kehidupan, meskipun modernisasinya hanya menguntungkan lapisan masyarakat tertentu. Ia memerintah dengan tangan besi dan korup, namun orang luar terutama Barat menganggapnya sebagai representasi dari masyarakat modern dan progresif di Timur Tengah.

Revolusi Iran memang identik dengan Ayatollah Khomeini. Tapi, umumnya disepakati bahwa Syariatilah yang memungkinkan berlangsungnya revolusi itu. Dialah tokoh yang disebut-sebut bisa mempersatukan berbagai arus reformasi di Iran pada masa-masa itu. Kecenderungan sosialis pada tokoh kiri semacam Jalal Al-Ahmad, sastrawan dan mantan anggota Partai Tudeh (komunis), dan reformasi Islam pada Mehdi Bazargan (kelak perdana menteri), menyatu pada doktor sosiologi lulusan Sorbone ini. Semangat Islam Syariati yang revolusioner memikat kaum sekuler, kaum kiri, lebih-lebih para mahasiswa Iran yang tidak begitu yakin akan tradisionalisme para pemuka agama dan modernism sekuler yang diberikan guru-guru mereka di kampus.

Ali Syariati lahir pada 1933 di sebuah desa dekat Mashdad, belahan timur Iran. Ayahnya, Muhammad Taqi Syariati, seorang khatib dan sarjana yang beroleh latihan secara tradisional, tetapi juga, dalam pandangan Syariati, seorang reformis. Pada sang ayahlah, Syariati menemukan model dan pengaruh bagi pandangan sosi politiknya. Katanya, “Ayahku membentuk dimensi-dimensi yang pertama bagi semangatku. Dialah yang mengajarku seni berpikir dan seni makhluk manusiawi. Saya berangsur besar dan matang dalam perpustakaannya yang baginya merupakan keseluruhan hidupnya dan keluarga.”

Syariati menerima pendidikan yang mula-mula di Mashhad. Ketika duduk di bangku SLTA, dia aktif dalam gerakan remaja asuhan ayahnya, Pusat Penyebaran Ajaran Islam. Lembaga ini bertujuan menanamkan semangat Islam dalam Angkatan muda Iran dan menanamkan kesadaran akan relevansi Islam dengan kehidupan bangsa Iran pada waktu itu.

Pada 1940-an, Syariati bersama ayahnya bergabung dengan Gerakan Sosialis Penyembah Tuhan yang berikhtiar melakukan sintesis antara Syiah dan sosialisme Barat. Mereka pun aktif dalam gerakan nasionalis di bawah Dr. Mossadeq dan kudeta yang gagal pada 1953. Setelah menyelesaikan studi pada sekolah tinggi pendidikan guru, Syariati mengajar di sekolah dasar. Pada masa inilah ia menemukan pahlawan kedua atau model bagi kehidupan Islam. Yakni Abu Dzar Al-Ghiffari, sahabat yang paling lantang menentang ketidakadilan dan kesenjangan yang merebak terutama setelah enam tahun kekhalifahan Utsman.

Pada 1959 Syariati berangkat ke Paris. Kurang lebih enam tahun ia mempelajari sejarah Islam dan Sosiologi. Pengetahuannya tentang sumber-sumber Islam klasik sekarang dilengkapi oleh gagasan-gagasan Emile Durkheim, Max Weber, Che Guevara, Albert Camus dan Franz Fannon. Seperti tahun-tahun permulaan di Iran, tahun-tahun selama berada di Paris itu memberikan sumbangan-sumbangan bagi perkembangan dalam bidang inetektual dan politik. Waktu itu adalah masa-masa pemberontakan Aljazair dan pemberontakan Kuba. Syariati tertarik dan menerjemahkan karya-karya Guevara dan Fannon. Sekitar tahun 1960-an dia aktif dalam Gerakan Pembebasan Iran yang dibangun oleh Bazargan dan Ayatollah Taliqani. Ia lalu menerbitkan berkala Free Iran.

Syariati pulang ke Iran pada 1965. Waktu itu Syah menganggapnya suatu ancaman. Dia pun ditangkap dan dipenjarakan dengan tuduhan menentang pemerintah yang sah ketika di Paris. Setelah bebas, Syariati ditolak mengajar di Universitas Teheran. Kemudian ia mendapat posisi di Universitas Mashhad. Tapi popularitasnya dalam kalangan mahasiswa beserta gagasan-gagasannya yang inovatif membawanya berhadapan dengan dua konflik: dengan para ulama konservatif dan konflik dengan para administrator promonarki di Universitas.

Pada 1972 Syariati berangkat ke Teheran. Di sini ia memimpin Husayniyah Irshad Religious Centre. Bagi Syariati, lembaga ini melambangkan situasi rakyat Iran yang tertindas pada waktu. Dampak dari kuliah-kuliah Syariati cepat meluas. Ribuan orang datang mendengarkan dia bicara dan ribuan mahasiswa menghadiri kuliah-kuliah musim panas. Kumpulan kuliah dan kumpulan karyanya diterbitkan besar-besaran. Ia pun cepat mendapat pengikut yang luas dari kalangan intelektual, mahasiswa, dan kalangan kiri. Pemerintah menuduhnya “marxis muslim”, yang disusul dengan penangkapan dan pemenjaraannya, serta penutupan Husayniyah Irshad pada 1973. Setelah 18 bulan mendekam di bui, Syariati dibebaskan dan diharuskan tinggal di desanya, Marzinan, di bawah pengawasan ketat. Akhirnya, pada 1977 pihak pemerintah memberi izin berobat di Inggris. Ia wafat tidak lama setelah tiba di Inggris akibat serangan jantung. Para pendukungnya menuduh SAVAK, polisi rahasia Syah, berada di balik kematiannya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda