Relung

Ingin Beragama Secara Tidak Biasa

Written by Panji Masyarakat

Agama mati. Maka tumbuhlah agama di mana-mana.” Itu satu kutipan yang dipasang Lama Surya Das dalam bukunya, Awakening to the Sacred. Agama yang pertama agama formal (organized religions), sementara yang kedua agama yang dicerminkan oleh pelatihan-pelatihan spiritual yang dewasa ini tumbuh di mana-mana. Surya Das sendiri adalah lama (pendeta Budha Tibet) asli Amerika yang memberikan ceramah dan memimpin latihan-latihan seperti itu di negaranya dan di Eropa.

Tentang bahwa agama sudah mati di Barat, semua orang tahu. Adapun sebab yang menonjol, yang berhubungan dengan lahirnya gelombang yang kemudian dikenal sebagai tuntutan kerohanian abad baru (new age), adalah kenyataan bahwa agama tidak mengantarkan orang ke pencerahan rohani yang sebenarnya, melainkan justru kepada pembeda-bedaan, konflik, dan kekerasan.

Dan itu tidak hanya terjadi di soft countries di Timur, tempat hukum seperti tidak pernah bisa teguh. Tetapi contoh yang khas memang di situ. Latar belakang Anand Krishna, guru yoga kelahiran Solo Jawa Tengah, misalnya, bisa menjadi contoh.

Ayah Anand lahir di bagian India yang penuh agama dan penuh pertentangan, dan keluarganya sendiri terpecah-pecah dari segi agama. Ketika terjadi  pemisahan Pakistan dan India, sang ayah tidak bisa memilih salah satu. Ia akhirnya hijrah ke Indonesia.

Dapat dipahami bila tema pokok gerakan seperti  itu adalah kasih sayang. Pada Anand, bahkan “se muanya” (dalam tafsirnya untuk surah Fatihah, misalnya) ditank ke tujuan kasih sayang. Lintas agama Sebab, apa, sih, yang membedakan agama dengan agama? Padahal, int ajarannya kasih sayang juga dan tuhan mereka tuhan yang sama, meski disebut dengan berbagai nama. Dari itu segala aturan agama sebenarnya sekadar metoda untuk menggapai Tuhan yang Satu. Termasuk tata ibadah, yang baik sekali  kalau dilaksanakan, tapi sekadar sebagai metoda.

Ini memang sikap yang menolak kesakralan aga. ma, Dilihat dari anggar-anggar masing-masing agama, meski harus diingat agama-agama yang “longgar” seperti model Cina, para new ager dari jenis yang seperti itu tentu sudah kehilangan iman. Mereka ingin mengambil sebagian saja dari masing-masing agama (ada yang ditolak bagian ajarannya yang “keras”, ada yang ditolak kepercayaannya yang “tidak bisa dipahami”) lalu mengeditnya menjadi baru, sambil mereka tetap bisa kalau mau pulang ke induk.  

Hanya, pengaruh India terasa kuat. Meskipun misalnya, sebagian grup tarekat Islam memperkenalkan metode tafakur tertentu, meditasi dengan yoganya  lebih berwibawa di sini. Dari segi akidah, banyak dari mereka tak lagi percaya akhirat, tetapi inkarnasi. Tak berarti inkarnasi kepercayaan kontemporer: agama Sikh dikatakan lahir karena penolakannya kepada dua hal dari Hinduisme: struktur sosial berdasarkan kasta, dan inkarnasi. Tetapi bahkan Lia Aminuddin, yang kemunculannya tidak digerakkan sebab-sebab yang sama dengan pada new agers, percaya inkarnasi. Paling tidak yang menyangkut dirinya, putranya, dan “imam besar”-nya, yang dikatakan sebagai penjelmaan Bunda Maria,  Yesus a.s., dan Nabi Muhammad SAW.

Susah. Ini zaman rusak-rusakan, kata orang agama, kembali ke zaman sinkretisme, takhayul, dan ramal-ramalan. Baik kalangan New Age maupun, lebih-lebih, Lia Aminuddin, suka sekali ramal-ramalan. Karena itu menjadi susah untuk menanggapi sebab-sebab kemunculan mereka—antara yang layak dipertimbangkan dengan serius dan yang hanya karena kebodohan dan yang hawa nafsu.

Yang serius itu yang menyangkut penafsiran rcsmi agama. Dalam Islam, itu berhubungan baik dengan dakwah penyebaran “teologi baru” yang memberikan kriteria iman dan kufur kepada hati nurani (Q. 27:14), yang menyebabkan hanya jumlah lebih sedikit’ dari nonmuslim yang bisa dihukumi sebagai ‘kafir hakiki’, maupun keharusan restrukturisasi fikih hubungan internasional dan hubungan antaragama,  seperti yang berkenaan dengan pembelahan dunia menjadi Darul Islam dan Darul Harb.

Ke dalam yang terakhir itu masuk segi-segi aktual syariat jihad—dan dari sinilah, tanpa perombakan pemahaman, bisa muncul kelompok-kelompok kecil dan ganas seperti yang melakukan pengeboman.

Itu yang penting dari yang serius. Adapun yang karena kebodohan bisa diambilkan contoh tidak disebarkannya ajaran mengenai ijtihad (penyimpulan hukum), yang menyatakan bahwa siapa yang melakukannya, dan benar dalam kesimpulan, mendapat dua pahala, sementara yang keliru mendapat satu (dan bukan dosa), bersama hadis Nabi yang lain bahwa hakim terakhir dalam kasus-kasus perbedaan amalan agama adalah hati nurani (kalbu). Itu dua ajaran yang mestinya melahirkan pluralisme, yang tidak bakal menyebabkan, seperti yang dikeluhkan Anand Krishna dalam rangka “kekerasan agama”, orang bertarung hebat karena berbeda dalam praktik, walau mereka satu agama.

Tetapi kemungkinan kekurangan informasi yang “monumental” adalah yang menyangkut keimanan kepada “Jibril”, yang dikatakan terkadang diperlihatkan Lia Aminuddin lewat gambaran dirinya  yang tiba-tiba berubah, sebagaimana ia juga bisa berubah menjadi “Bunda Maria”. Masalahnya, kaji yang tidak sampai mungkin tidak mendapati hadis-hadis seperti yang memuat penuturan Aisyah — bahwa Nabi sendiri menyaksikan Jibril dalam rupanya yang asli hanya dua kali seumur hidup: waktu mikraj, dan di bukit-bukit sekitar Makkah sebelumnya. Dan bahwa Jibril yang asli “mempunyai enam ratus sayap dari cahaya yang saling melempar kilau” — sehungga Nabi sendiri  pun, pada kali pertama, tak mampu bergerak oleh cengkeraman keindahannya. Jibril apa yang konon sering muncul di Salamullah situ?

Bukan meremehkan — tetapi dalam tradisi orang Islam, jin diyakini bisa menjelma apa pun. Karena Itu pikiran orang santri  simpel saja: itu jin Ibu Lia jin kelas satu — lebih hebat dan jin Gus Dur dulu, ‘kali. Sedangkan mengenai kebenaran segala hiruk pikuk ajaran baru, ukurannya juga gampang: lihat saja buahnya.  Nabi SAW, yang jadinya “tak sehebat” Lia dalam hal perjibrilan, pelas mewariskan agama mahabesar dan wahyu-wahyu Jibril. Nah. Jibril yang ini memberi apaan, untuk kemanusiaan?

Ada cerita tentang Syekh Abdul Qadir Jailani. Suatu ketika, centanya, ia mendengar suara. Bukan dari Jbril. Katanya, kira-kira, “Ya Abdal Qadir, akulah Allah, tuhanmu. Hari ini sudah aku angkat (hapuskan) segala kewajiban atas pundakmu dan Aku halalkan segala larangan akan semua yang haram.”

Abdul Qadir terhenyak. Tapi kemudian membentak: “Setan kamu! Iblis kamu”

Terdengar suara tangis. Lalu pertanyaan: “Bagaimana kamu tahu saya Iblis?”

Jawabnya: “Andai benar dari Allah, tapi pasti tidak, tidak mungkin Allah menentukan begitu.”

Saudara, di dalam beragama, pilihlah yang biasa-biasa saja.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah-majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panjimas, September 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda