Tafsir

Tafsir Tematik: Perempuan dan Keindahan (1)

Written by Panji Masyarakat

Para mukmin yang laki-laki dan para mukmin yang perempuan, sebagiannya pelindung yang sebagian. Memerintahkan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, serta mematuhi Allah berikut Rasul-Nya. Mereka itulah yang dirahmati Allah. Allah Mahaperkasa dan Mahabijak.

Allah memberi janji kepada para mukmin yang laki-laki dan yang perempuan dengan taman-taman yang mengalir di bawahnya bengawan-bengawan, kekal mereka di sana, dan tempat-tempat kediaman yang elok di kebun-kebun Aden, sedangkan keridhaan Allah terlebih besar. Itulah dia keberuntungan agung. (Q. 9: 71-72).

Ada kata-kata Leo Tolstoy, pengarang War and Peace dan Anna Karenina dari khazanah sastra Rusia sebelum revolusi Bolshevik. Bunyinya: “Makin jauh orang menuruti keindahan, makin jauh dia meninggalkan budi.” Agak mengejutkan, memang. Adakah hubungan ucapan itu dengan ayat di atas?

Tidak. Tapi ada hubungannya dengan perempuan. Dan perempuan bisa dikatakan berhubungan dengan keindahan (dan puisi, dan erotisme, dan pelecehan, dan pornografi), sementara semua itu menyangkut harkat dan status, sedangkan harkat dan status disiratkan dalam ayat di atas.

Di salah satu teater Broadway, New York, ada satu nomor pertunjukan yang tidak pernah berhenti dimainkan – entah sudah berapa tahun, setiap malam, mungkin juga sampai kini. Judulnya, Og, Calcutta! Bukan kisah tentang orang-orang Indiia, dan tidak ada hubungannya dengan kota India yang miskin itu. Ini cerita hiburan sehari-hari, diselingi nyanyi dan gerak-gerak koreografis, dan – paling penting —  dengan semua pemain telanjang bulat.

No, ini bukan pornografi. Ini seni. Art,” kata mereka. Memang tidak ada adegan pornografis, apalagi sampai ke model film-film biru. Tapi itu yang disebut art, demikian biasa dipersoalkan, sebenarnya tergantung konsep estetika (teri keindahan yang menjadi landasan karya)-nya. Pada Tolstoy, boleh ditebak, seniman yang di akhir hidupnya menjadi semacam sufi agnostik, keindahan seperti itu tak lain adalah karya syaitan adanya.  

Juga terhadap penolakan mereka bahwa Oh, Calcutta! tak lain adalah tontonan yang mengeksploitir tubuh perempuan. Bukankah yang telanjang juga laki-laki? Bisa saja mereka beralasan bahwa yang ingin diketengahkan sejak mula memang keindahan paduan tubuh-tubuh laki-laki dan perempuan, dalam jalinan cerita yang ringan dan menghibur. Hanya, orang bisa saja menukas: andai yang main di panggung semuanya laki-laki, akankah pertunjukan itu  begitu laris?

Betapapun, itu erotisme namanya – pemunculan keindahan yang menimbulkan berahi, dan bisa menyangkut semua jenis pelahiran budaya. Di sinilah terdapat perdebatan pertama – sebelum pada pornografi:  bisakah rangsang erotis digolongkan ke dalam jenis rangsang puitik, yang melahirkan karya seni, sebab orang-orangnya sendiri cenderung mengklaim begitu. Hanya, kalau pertanyaannya seperti itu diajukan kepada para estetikus yang memandang seni betapapun bersentuhan dengan wilayah ketuhanan (Bergson, Iqbal, Tolstoy, misalnya), jawabannya, sudah tentu, tidak.  

Yang relevan ialah bahwa, seperti yang dilihat Iqbal, ilham kesenimanan (tetapi ia memakai istilah ilham kepenyairan) berada dalam daerah yang sama dengan daerah ilham kenabian, hanya saja berbeda dalam gradasi – meski gradasi itu bisa besar sekali. Dan bahwa perasaan-perasaan (“pengalaman”) yang ditimbulkan seni sama dengan yang ditimbulkan oleh agama pada dimensinya yang paling dalam, yang bisa ditandai dengan “istilah yang tidak menguntungkan, yakni mistik.”

Itu cara Iqbal untuk menerangkan bahwa, seperti yang bisa kita lihat sendiri, pada tingkatan yang paling tinggi terdapat faktor haru di dalam seni, hal yang tidak terdapat di dalam ilmu,. Tangis yang kita dapat di dalam sembahyang, atau pembacaan Kitab Suci, yang bukan karena sedih, adalah tangis yang sama, manakala perasaan kebesaran ketuhanan melingkupi seseorang, dengan tangis yang menyesak di dada ketika menyaksikan seekor anjing betina melahirkan anak-anaknya – atau, dalam satu hadis Nabi mengenai cinta Allah, ketika melihat :ibu kuda mengangkat kaki belakangnya agar anaknya tidak terinjak.” Juga tangis yang sama dengan yang bisa disediakan sebuah karya seni yang bagus.   

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli  1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda