Mutiara

Hasan Al-Banna, Nasser dan Sadat

Written by A.Suryana Sudrajat

Pendiri dan pemimpin Ikhwanul Muslimin mati di tangan polisi. Begitulah revolusi akhirnya memakan anak-anaknya sendiri ketika Nasser menolak keinginan Ikhwan mendirikan negara Islam Mesir. Bagimana dengan Sadat, dan kemudian Husni Mubarak?

Revolusi Juli 1952, di bawah Gamal Abdel Nasser, menggulingkan Raja Farouk. Sejak era Nasser inilah, Mesir menganggap diri mereka benar-benar merdeka. Meski sudah merdeka pada 1922, negeri ini sesungguhnya berada di ketiak Inggris. Nasser – memerintah sampai 1971 – pula yang mendefinisikan kembali hakikat nasionalisme Mesir dan mempromosikan nasionalisme serta sosialisme Arab, baik di dalam maupun di luar negeri.

Revolusi ini disambut baik oleh rakyat banyak dan tentara, karena berhasil menyingkirkan kepemimpinan yang tidak dapat dipercaya di bawah raja Farouk yang menjadi boneka Inggris, dan terbukti tidak berdaya di Palestina. Revolusi ini juga disokong oleh Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslim). Tapi, Ikhwan pulalah yang menjadi penentang utama gagasan nasionalisme dan sosialisme sekuler Naser. Organisasi yang didirikan Imam Hasan Al-Banna ini kecewa karena “pemimpin keramat bangsa Arab” – demikian Sadat menyebut Nasser – ternyata tidak mendirikan negara Islam, tetapi mempromosikan nasionalisme dan sosialisme Arab sekuler.

Ketika hubungan dengan Ikhwan memburuk, pemerintah dan Ikhwan terlibat perang sporadis, yang dalam beberapa kesempatan meledak menjadi tindakan kekerasan. Nasser dan para menterinya menjadi sasaran usaha pembunuhan, yang oleh pemerintah dituduhkan kepada Ikhwan. Lalu, terjadilah penangkapan besar-besaran terhadap kelompok Ikhwan oleh pemerintah. Akhirnya, pada 1966 Nasser memberangus Ikhwan sampai ke akar-akarnya, menghukum mati Sayyid Quthb (1906-1966), ideolog utamanya, serta tokoh-tokoh lain, memenjarakan beribu-ribu orang, dan mengejar anggota lain sehingga mereka bersembunyi  atau lari ke luar negeri.

Ikhwan kembali bangkit setelah Arab Spring pada tahun 2010, yang membuat Presiden Husni Mubarak terjungkal, dan kemudian mengantarkan tokoh  Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi,  sebagai presiden Mesir ke-5 lewat pemilu demokratis pada 2012. Pendukung Mursi kemudian merayakan kemenangan tersebut di Midan Lapangan Tahrir. Ia pun mengundurkan diri dar kepemimpinan Ikhwanul Muslimin. Pihak yang kalah rupanya tidak bisa menerima kemenangan Mursi. Maka pada  30 Juni 2013 terjadi demonstrasi  di beberapa tempat di Mesir,  menuntut Mursi mundur. Demonstrasi anti-Mursi, kemudian direspons  para pendukungnya dengan mengadakan demonstrasi tandingan di tempat yang berbeda. Inilah yang kemudian mendorong Angkatan Bersenjata Mesir menerbitkan ultimatum 1 Juli 2013, agar dalam waktu 48 jam Mursi menyelesaikan pertentangan di kalangan rakyat Mesir itu. Mereka juga mengancam akan turut campur bila perselisihan tersebut tidak diselesaikan. Sejumlah menteri mengundurkan diri,   menyisakan pemerintahan dari Ikhwanul Muslimin saja. Presiden Mursi menolak ultimatum 48 jam dan bersumpah untuk menjalankan rencananya sendiri untuk rekonsiliasi nasional dan menyelesaikan krisis politik. Akhirnya Pada 3 Juli  Abdul Fattah el-Sisi, perwira Angkatan Bersenjata Mesir, mengumumkan Mursi telah dilengserkan dan mengangkat kepala Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang jabatan sementara Presiden Mesir.

Kembali ke pendiri Ikhwan, Hasan Al-Banna (1909-1949). Ia lahir di Mahmudiah, kota kecil sebelah tenggara Kairo. Ayahnya, Ahmad Abdurahman Al-Banna, meski tukang arloji, sempat menjadi mahasiswa Al-Azhar ketika Muhammad Abduh mengajar di situ. Karena itu, sejak kecil Hasan sudah berkenalan dengan gagasan-gagasan pembaruan. Setelah menyelesaikan sekolah pendidikan guru, Hasan berangkat ke Kairo, melanjutkan studi di Darul Ulum College. Di sini ia menjalin kontak dengan Rasyid Ridha. Ia banyak dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Ridha dalam Al-Manar mengenai aspek sosial dalam rangka pembaruan Islam, kebutuhan bagi pembentukan negara Islam dengan pelaksanaan hukum Islam. Selama kuliah, ia menjadi anggota dari berbagai perkumpulan Islam., seperti Society Ethical Education dan Society for Prevention of Prohibited Actions.

Setelah menyelesaikan studi pada 1927, Al-Banna mengajar pada sebuah sekolah dasar di Ismailiah. Sebagai orang yang memiliki kharisma dan jiwa keagamaan yang kuat, Al-Banna dapat mengikat para pengikutnya, dan pada 1928 ia mendirikan Ikhwanul Muslimin.

Pada awal-wal pendiriannya, Ikhwan memfokuskan diri pada kegiatan perbaikan moral dan sosial. Aktivitasnya, antara lain, mendirikan klinik, rumah sakit, masjid, sekolah, balai pertemuan, dan industri kecil di pedesaan. Pada 1933 kantor pusat dipindahkan ke Kairo. Lambat laun Ikhwan berkembang menjadi organisasi keagamaan dan politik yang tangguh, memiliki jaringan cabang, ranting, dan sel-sel yang terbina rapi. Setiap anggotanya diwajibkan mengikuti program latihan dan pendidikan ideologi yang menitikberatkan pada ketahanan moral dan jasmani. Semula anggotanya terbatas pada orang-orang desa dan orang kota lapisan bawah, tetapi kemudian meluas sampai golongan menengah. Pada 1949 Ikhwan sudah punya 2.000 cabang yang tersebar di seluruh penjuru Mesir, beranggotakan sekitar 500.000 orang, tidak termasuk simpatisan yang hampir sama dengan jumlah anggota.

Akhirnya, Ikhwan terlibat langsung dalam pergolakan politik Mesi, seperti menentang kekuasaan Inggris dan berdirinya negara Israel di Palestina. Mereka juga mulai menyuarakan pendirian negara Islam. Pada akhir 1948, menyusul serentetan aksi berdarah, Raja Farouk memberangus kegiatan Ikhwan. Kecuali Al-Banna, sejumlah tokoh pentingnya ditangkap. Tidak lama, PM Nuqrashi Pasha dibunuh seorang mahasiswa sekolah tinggi kedokteran hewan, yang konon anggota Ikhwan. Meski Al-Banna, baik diri maupun organisasinya menyangkal berada di balik pembunuhan itu, pemerintah tetap menyalahkan Ikhwan dan membubarkan organisasi ini. Ikhwan pun bergerak di bawah tanah. Al-Banna sendiri, pada 12 Februari 1949, dibunuh seorang polisi rahasia ketika meninggalkan kantornya di Kairo.’

Ikhwan kembali ke kancah setelah undang-undang darurat dicabut pada 1952. Mereka juga mendukung kelompok “Perwira Merdeka” (Free Officer) pimpinan Nasser, menggulingkan Raja Farouk. Tapi begitulah, revolusi akhirnya memakan anak-anaknya sendiri ketika Nasser menolak keinginan Ikhwan mendirikan negara Islam Mesir.

Adapun Sadat, penerus Nasser, mengalami nasib nahas pada 6 Oktober 1981. Dalam satu defile yang gagah daan bangga, untuk memperingati ulang tahun kekuasaannya yang ia tetapkan sebagai “Hari Kemenangan dan Kehormatan”, berondongan peluru dari tengah prajurit yang berbaris menghantam penggung kehormatan. Mereka adalah para militan dari sekitar pecahan sisa-sisa kelompok Ikhwan yang sudah lama menanggung dendam dan sudah memutuskan fatwa yang menghalalkan darahnya. Seperti bosnya Nasser, Sadat, bagi Ikhwan, adalah “musuh besar Islam”. Begitu pula dengan penggantinya, Husni Mubarak, yang tumbang oleh Arab Spring yang berawal dari Tunisia itu, di mana Ikhwanul Muslimin menjadi bagian di dalamnya. Mereka sempat  berkuasa sebentar, sebelum Mesir kembali dikuasai oleh kaum militer di bawah Abdul Fattah  el-Sisi.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda