Cakrawala

Konservasi Lingkungan: Isu Kekinian

Written by Iqbal Setyarso

Ada masanya, lembaga kemanusiaan terutama yang berkiprah di kebencanaan, cukup mewarnai negeri ini. Seiring waktu, kebencanaan datang dan pergi, tapi dalam perkembangannya, panggilan kepedulian pada lingkungan mengemuka dan menjadi realitas senyap. Bencana sebenarnya dari kerusakan lingkungan hadir tanpa suara. Tahu-tahu sejumlah satwa endemic seperti ikan-ikan di sungai dan danau, tanaman tertentu di hutan punah. Semua bermuara pada perilaku manusia yang kurang aware pada kelestarian alam.

Konservasi, berasal dari kata serapan conservation yang artina pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, artinya adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh manusia guna melindungi atau melestarikan bermacam hal yang dianggap penting untuk kehidupan manusia, termasuk diantaranya; lingkungan hidup (air, tanah, udara). Semesta urusan konservasi adalah sasaran berikutnya dari aktivitas kemanusiaan. Kita melakukan konservasi terutama demi kemaslahatan umat manusia. Manusia, vektor memiliki besaran dan arah. Pada kedua aspek itu (besaran dan arah), menjadikan aktivitas organisasi mendedikasikan diri mendalami dan “membangun” kebermanfaatan. Jadi ada unsur will saat melakukannya. Tidak sekadar berbuat “setelah semuanya terjadi”.

Pada perkembangan itu bertautlah saya dengan komunitas pelaku konservasi. Benar melakoni aktivitas tanggap bencana sebuah perbuatan yang kurang popular. Namun menekuni konservasi, sebuah aktivitas sadar yang dilibati lebih sedikit orang. Meski demikian, sebagai tema aktivitas, maslahat yang diraih menurut saya amat kekinian. Ya, konservasi itu isu kekinian. Sadar atau tidak, degradasi alam disumbang aspek perilaku terutama manusia. Karena manusialah yang paling banyak pergerakannya. Karena itu pula manusialah penyumbang terbesar kerusakan lingkungan.

Membincang rusaknya lingkungan di satu sisi, berimpit dengan kelangkaan pangan di sisi lainnya. Konservasi menjadi keharusan aktivitas dalam situasi itu. Saya ingin menyampaikan contoh tentang sebuah komunitas, Negeri Loh Jinawi. Mereka ini menekuni konservasi sudah lama. Selama itu, aktivitas mereka “melulu” konservasi. Menyelamatkan lingkungan. Mereka membuat saya takjub dan respek atas aktivitasnya. Mereka melalui banyak tahap dan proses, akhirnya menemukan cara sekaligus solusi. Yang mereka lakukan, mengangkat sedimen yang akhirnya memenuhi sungai. Kian lama, sungai pun penuh sedimen. Sedimentasi dari “atas” (permukaan tanah yang lebih tinggi) akhirnya, salah satunya, karena buruknya pola pertanian, tanah itu mengisi sungai dan menjadi sedimen. Yang jadi menarik, sedimentasi itulah yang dimanfaatkan dengan sedemikian rupa (lewat serangkaian ujicoba), menjadi bahanbaku blocksoil, secara manual dibuat sebagai media tanam berbagai bibit. Patut disyukuri, dengan media tanam blocksoil , semua bibit (karena demikian kaya nutrisi), tumbuh menjadi bibit unggul. Pada gilirannya, bibit itu ditanam petani, dan hasilnya memberi keuntungan bagi petani.

NLJ (Negeri Loh Jinawi), telah lama berkiprah. Mereka melakoni aktivitas konservasi itu secara diam-diam. NLJ melakukan konservasi senyap: mengangkat dan memanfaat sedimentasi – terutama di kawasan pegunungan Dieng, menjadikannya bahan baku pembuatan blocksoil dan menjadi media tanam banyak bibit pertanian khususnya tanaman pangan, yang hasilnya bisa dikatakan unggul. Inisiasi ini, seharusnya menjadi solusi bagi: sungai, yang tentu saja menjadi tumpuan pertanian sawah di Jawa Tengah (di mana NLJ berkiprah). Aktivitas pengambilan sedimen itu, mengurangi timbunan luncuran topsoil (tanah permukaan teratas), yang biasanya subur.

Blocksoil penting dan signifikan dalam upaya konservasi. Dalam aktivitas itu, sejumlah hal akan terdorong secara gradual: hasil pangan meningkat, terjadinya pola baru pertanian yang eco-friendly. Satu step yang bisa diteropong ujungnya, memperlihatkan masa depan yang cerah. Sejumlah problem secara gradual akan teratasi. Kuncinya, kekompakan penanganan semua lini, antara lain petani  dan pemasaran hasil pertanian.  Yang dilakoni NLJ, sejatinya smart farming. Bukan smart farming biasa-biasa. NLJ mengembangkan greenhouse sebagai titik pembibitan. Bukan pembibitan biasa, namun menghasilkan tanaman unggul.

Greenhouse memproduksi blocksoil dan bibit unggul. Semaian bermedia tanam blocksoil itu, didistribusikan untuk petani. Pada gilirannya, tanaman dari bibit yang unggul, memberi keuntungan ganda: pola tanam relatif lebih eco friendly di satu sisi, di sisi lain, produksi pertanian meningkat (perbaikan ketahanan pangan). Bahwa pengadaan pangan menjadi hajat semua orang. Dengan bibit unggul itu, petani akan memperoleh penjualan hasil pertanian (meningkatkan nilai tukar petani/NTP). Secara makro, ekonomi berputar dan aktivitas manusia pun terjadilah. Lesson learnt aktivitas NLJ ini, memang konteksnya Jawa Tengah, namun apa yang dilakukannya sangat mungkin diduplikasi dengan tujuan meluaskan maslahat di tempat lain – khususnya yang juga dilanda krisis pangan. Maka, kita belajar dari (pertanian di) Jawa, Indonesia benar-benar mengubah Jawa dari gemah ripah loh jinawi, jadi mengalami krisis pangan. Jadi, tidak lengkap aksi pembagian pangan, tanpa mengirinya dengan konservasi pertanian. Konservasi adalah step yang niscaya dilakukan untuk mengatasi krisis pangan.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda