Aktualita

Meributkan Jalan Kemal Attaturk

Written by Arfendi Arif

Memberi nama sebuah jalan ternyata bisa membuat heboh dan memicu ketersinggungan. Itulah yang akhir-akhir ini menjadi silang pendapat di masyarakat.

Berawal dari keterangan Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria, pemerintah berencana merubah nama salah satu jalan di kawasan Menteng,Jakarta Pusat menjadi jalan Mustafa Kamal Attaturk. Mustafa Kemal Attaturk merupakan tokoh militer Turki yang dikenal membawa Turki menjadi negara sekuler.

Menurut Wakil Gubernur DKI,  rencana tersebut merupakan keinginan dari pemerintah Indonesia dan Turki. “Jadi memang ada keinginan  kita dan  pemerintah Turki agar ada nama dari kita yang ada di Turki dan juga nama tokoh Turki di negara kita.  Jadi sama-sama,”katanya.

Ahmad Riza menambahkan, Indonesia telah bekerjasama dengan Turki. Penggunaan nama tokoh Turki sebagai nama jalan di Indonesia bagian dari kelanjutan kerja sama kedua negara.

Riza bilang , kantor KBRI di Turki telah diganti dengan nama Presiden Sukarno. “Kebetulan nama jalan yang diusulkan dari mereka Attaturk. Ya kita saling menghormati antar negara,” ungkapnya.

Menuai kritik

Nama Kemal Attaturk memang kurang mendapat simpati di negara kita. Dan ini sudah berlangsung lama sejak zaman penjajahan.  Ada dua hal yang menjadi biang ketidaksukaan umat kepadanya, pertama, karena ia yang mengambil alih kekuasaan kekhalifahan di Turki dan lalu membubarkannya.

Turki di masa dinasti  Osmani saat pemerintahan Muhammad Al Fatih berpusat di Istanbul, setelah Kemal Attaturk mengambilalih kekuasaan dan merubahnya menjadi negara republik ia memindahkan ibu kota Turki  ke Ankara.

Kedua, setelah Kemal Attaturk memerintah ia melancarkan program ” penghapusan segala yang berbau Islam” di Turki. Wanita Turki dilarang pakai cadar dan harus dibuang; huruf Arab diganti hurul Latin, tarbust dan sorban dianggap kuno dan diganti topi pet gaya Barat, bahkan azan yang berbahasa Arab diganti bahasa Turki.

Tidak hanya sampai disitu, setelah berubah jadi negara republik, Kemal Attaturk juga merubah sebagian undang-undangnya. Antara lain, Islam tidak lagi disebut sebagai agama resmi negara. Dalam bersumpah tidak ada lagi kalimat “Demi Allah”, ditukar dengan ucapan, “Saya bersumpah demi kehormatan diriku”.

Rekam jejak Mustafa Kemal Attaturk yang alergi dan tidak simpati pada Islam itulah yang membuat para tokoh dan pemuka Islam berang untuk mengabdikan namanya di lintasan jalan di Jakarta.

Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas, menanggapi soal nama Mustafa Kemal Attaturk yang akan dijadikan nama jalan di Jakarta mengatakan, sosok tersebut adalah tokoh yang sudah mengacak-acak ajaran Islam dan melakulan  hal bertentangan dengan sunnah.

Anwar merasa, jika pemerintah Indonesia akan tetap menghormatinya  dengan mengabadikan namanya menjadi nama salah satu jalan di Jakarta, maka hal itu jelas akan sangat menyakitkan hati.

“Itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif serta jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam,” tegasnya 

Sementara itu sejarawan Islam dari Universitas Indonesia Tiar Anwar mengatakan, tidak setuju jika nama Mustafa Kemal Attaturk digunakan untuk nama jalan di Indonesia.

” Dia tokoh kontroversial, sebagian orang Turki mungkin menganggapnya pahlawan, tapi sebagian menganggapnya tokoh antagonis yang penuh intrik,  dan dia juga sudah menghancurkan khilafah dan sebagainya, “tuturnya.

Tiar menambahkan, Mustafa Kemal tidak memiliki nama terlalu baik untuk masyarakat Indonesia. ” Sebaiknya kalau memang pemerintah Indonesia mau memasang nama salah satu tokoh Turki, banyak tokoh Turki yang tidak kontroversial bisa diterima oleh semua masyarakat,” sarannya.

Bagi politisi Gerindra Fadli Zon, jika memang ada figur tokoh Turki yang lain, maka nama Muhammad al Fatih lebih tepat. Muhammad al Fatih adalah pahlawan Turki yang sangat dikenal sebagai penakluk Konstantinopel. ” Sementara kalau  Muhammad al Fatih, pasti diterima mayoritas masyarakat Indonesia,” ujar anggota DPR-RI Komisi 1 ini.

Di tengah masyarakat kita yang sedang terpuruk karena pandemi Covid 19, isu baru yang mengundang polemik dan kontroversi selalu muncul tidak pernah habis.  Masalah virus ini saja  belum tuntas tertangani,  selayaknya para tokoh dan pejabat kita memikirkan dengan matang membuat  kebijakan. Jika yang muncul hanya kegaduhan dari sebuah kebijakan,  kapan masalah Covid 19 yang membuat rakyat menderita ini berakhir. Kini arwah Mustafa Kemal Attaturk pula yang diributkan Tobat deh!

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda