Cakrawala

Asa Bafagih, Guru Agama yang Jadi Wartawan, Diplomat dan Tokoh Pers

Asa Bafagih atau nama lengkapnya adalah Abdillah bin Syech Bafagih, yang kemudian disingkat menjadi Asa. Ia juga dikenal dengan panggilan Wan Asa. Ia dilahirkan di Tanah Abang, pada tanggal 14 Desember 1918. Nama Bafagih sendiri merupakan salah satu nama keluarga Indonesian keturunan Arab, yang tergolong dalam keluarga besar Alawiyyin. Bafagih merupakan pecahan dari keluarga besar  Al-Aidid, yang berasal dari kata faqih atau orang ahli fikih  atau ulama. Karena keluarga ini terkenal sebagai keluarga ahli agama.

Pada awalnya Asa Bafagih,   yang berlatar belakang pendidikan pesantren, adalah  seorang guru agama. Kemampuan dan keahliannya dalam bidang agama  dan bahasa Arab mengantarkan dirinya ke dunia kewartawanan. Berawal sebagai penerjemah berita-berita atau artikel berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia/Melayu di Surat Kabar Pemandangan. Hingga kemudian ia menjadi penulis pada harian yang sama dan juga majalah mingguan Pandji. Wan Asa pun sempat menjadi pemimpin redaksi   Pemandangan. Surat kabar ini mula-mula  Saeroen dan pertama kali terbit pada  8 April 1933. Pada tahun 1940, koran tersebut dibredel oleh Belanda karena tulisan-tulisannya yang terlalu pedas.

Koran Pemandangan 12 April 1934

Ketika Jepang masuk, Wan Asa bergabung dengan Kantor Berita Domei sebagai editor. Setelah Indonesia merdeka,  Domei   berubah menjadi Kantor Berita Antara.  Wan Asa pun memiliki peran dalam menyebarkan berita Proklamasi yang lolos dari pengawasan Jepang pada waktu itu.  Adam Malik, yang memimpin Antara  waktu itu, menelepon Asa Bafagih dari tempat persembunyiannya di Bungur Besar, Jakarta Pusat, dan membisikkan isi proklamasi. Dan memintanya untuk meneruskan berita itu diteruskan kepada Pangulu Lubis untuk disiarkan. Hingga akhirnya kabar proklamasi berhasil tersiarkan dan menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Pada  29 Agustus 1945 Presiden melantik Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Bafagih pun menjadi anggota dalam Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) untuk wilayah Jakarta. Pada tahun 1946, KNID berubah menjadi Badan Perwakilan Rakyat Kota dan diketuai oleh Walikota Suwiryo. Pada 1 September 1945, Asa Bafagih menjadi tokoh dalam berdirinya Angkatan Pemoeda Indonesia (API), sebuah organisasi yang aktif mengkampanyekan Kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh lainnya diantaranya adalah Ali Sastroamidjojo dan Wikana, bermarkaskan di Menteng 31.

Di  Antara Asa Bafagih sempat menjadi kepala editor  dan dibantu Mochtar Lubis, kelak mendirikan Harian Indonesia Raya dan masyhur sebagai tokoh pers dan sastrawan. Ia juga kemudian bergabung dengan koran nasionalis pimpinan BM Diah, Merdeka. Dan ketika Pemandangan muncul dan terbit kembali ia aktif lagi di harian Pemandangan. Pada tahun 1953, Bafagih memuat laporan berita tentang rencana gaji baru PNS dan juga tentang beberapa perusahaan yang telah menerima investasi modal asing. serta tentang modal asing yang diterima 21 perusahaan industri. Hal tersebut dianggap sebagai tindakan pembocoran rahasia negara. Dan ia diminta untuk menyebutkan sumber beritanya, Bafagih menolak hal tersebut karena sesuai dengan prinsip etika jurnalisme dan ia mengaku bertanggung jawab sepenuhnya. Peristiwa tersebut menimbulkan demo besar-besaran dan akhirnya Kejaksaan membatalkan kasus dan tuntutan tersebut.

 Pada  1954 Asa  Bafagih menjadi penggagas dan pendiri Harian Duta Masyarakat sebagai media utama organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ia kemudian menjadi Pemimpin Redaksi. Surat Kabar tersebut merupakan wahana bagi kader NU dalam belajar jurnalistik sekaligus media aspirasi politik NU pada waktu itu. Bafagih tercatat sebagai salah satu tokoh dalam organisasi NU. Ia juga menjadi anggota DPR-GR mewakili PWI (jurnalis) tahun 1959-1960 dan tahun 1968-1971 mewakili Nadhlatul Ulama (NU).

Tahun 1960, Bafagih ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Duta Besar Indonesia untuk Srilanka dan kedudukannya sebagai Pemred Duta Masyarakat digantikan oleh KH Saifuddin Zuhri. Kemampuannya sebagai jurnalis dan diplomasi mendukung kesuksesannya sebagai diplomat RI di Srilanka. Hingga akhirnya ia diutus kembali menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair merangkap Tunisa (1964-1968). Ia berjasa dalam proses awal Konferensi Bandung dan KTT Nonblok 1966.

Asa Bafagih termasuk dalam deretan jurnalis Indonesia angkatan pertama, bersama-sama dengan Adam Malik, BM Diah, Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis. Bafagih juga seorang polyglot, menguasai Bahasa Inggris, Arab, Singhalese dan juga Perancis. Selain aktif menulis artikel dan berita, ia juga sempat menulis tentang persekusi yang dihadapi oleh umat muslim di Cina dalam kunjungannya ke Cina pada tahun 1954. Ia bahkan menulis sebuah buku yang berjudul RRT dari Luar dan Dalam. Wan Asa meninggal pada  1978 di Solo, Jawa Tengah,  ketika dalam sebuah penugasan pers. Menurut penuturan sang keponakan, Syakib Hoesin Bafagih, ia  bersama Nuri Kamil, putra almarhum,  menuju ke Solo untuk menjemput jenazah Asa Bafagih dan membawanya ke Jakarta. Ia dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Bivak, Jl. KH Mas Mansyur, Tanah Abang. Almarhum menikah dengan Salmah binti Thohir Shahab dan memiliki delapan orang anak, yaitu: Achmad (alm), Habibah Kusuma Wardhani, Nuri Kamil, Ramzi, Yusri, Muhammad Wardi (alm.), Rusdi Jayaputra dan Fitri Budi Satria. Kedua anak terakhirnya dilahirkan di Kolombo, Srilanka.

Pada tahun 1982, tepatnya 19 April 1982, Menteri Penerangan  memberikan Tanda Penghargaan Dewan Pers untuk Asa Bafagih. Tanda penghargaan tersebut diberikan berdasarkan SK Menteri Penerangan RI No 55 Tahun 1982 yang diterima langsung oleh istri Asa Bafagih dan putra bungsunya, Fitri Budi Satria.  

Dalam sambutannya Sekretaris Dewan Pers menyebutkan bahwa tanda jasa itu diberikan sebagai penghargaan atas jasa-jasa almarhum sebagai seorang perintis pers Indonesia yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan bangsa dan tanah air. Sedangkan Harmoko,  yang waktu itu menjabat sebagai Ketua PWI Pusat,  menyatakan bahwa penghargaan kepada almarhum juga merupakan penghargaan untuk korps wartawan Indonesia. Karena perjuangan Asa Bafagih tidak bisa dilepaskan dari perjuangan pers Indonesia. Selanjutnya Harmoko juga menyebutkan bahwa almarhum layak disebut sebagai “Perintis Pers Indonesia” mengingat peranannya cukup memberikan arti bagi perkembangan pers Indonesia.

About the author

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda