Cakrawala

Umar dan Abu Bakr dan Soal Kepemimpinan

Written by A. Mustofa Bisri

Ketika dalam keadaan sakit menjelang kewafatannya, Khalifah Abu Bakr Shiddiq sempat memanggil “tangan kanan”-nya, Umar ibn Khattab. Khalifah berterus terang mengemukakan keinginannya agar Umar bersedia menggantikannya.

“Jangan, Abu Bakr,” kata Umar. “Aku tidak memerlukan jabatan itu.”

“Tetapi kekhalifahan memerlukanmu, Umar,” sahut Khalifah. “Aku khawatir maut menjemputku dan meninggalkan rakyat tanpa khalifah, lalu terjadi seperti yang di Saqifah dulu.”

“Tunjuklah selain aku.”

“Siapa?”

“Abu Ubaidah, misalnya. Dia amirul ummah, kepercayaan umat.”

“Itu sudah aku pikirkan juga. Namun aku tidak melihat pada Ubaidah ibn Jarrah kekuatan seperti yang ada pada dirimu. Dia memang dapat dipercaya, tapi aku ingin orang kuat yang dapat dipercaya.”

“Allah akan menyempurnakan cahaya Islam, betapapun orang-orang kafir tidak senang.”

“Allah akan menyempurnakan cahaya Islam melalui hamba-hamba-Nya yang patut, yang berjuang, yang ikhlas.”

“Bagaimana kau memilihku, wahai Khalifah, sedang aku sering berbeda pendapat denganmu?”

“Justru itu yang memperkuat pilihanku. Aku ingin seorang yang bila mengatakan tidak, ia mengatakannya dengan sepenuh hati; bila mengatakan ya, ia mengatakannya sepenuh hati.”

Mereka terus berdebat. Yang satu berkeras meminta, yang lain kukuh menolak. Didesak terus, akhirnya Umar yang perkasa itu pun menangis. “Abu Bakr, aku mengkhawatirkan diriku, agamaku, dan akhiratku….”

“Wahai Umar, dalam urusan kekuasaan ini ada dua orang yang celaka. Pertama, orang yang berambisi menjadi penguasa padahal dia tahu bahwa ada orang lain yang lebih pantas dan lebih mampu daripada dirinya. Kedua, orang yang menolak ketika diminta dan dipilih padahal dia tahu dirinyalah yang paling pantas dan paling mampu. Dia menolak semata-mata karena lari dari tanggung jawab dan enggan berkhidmat kepada umat.”

“Wahai Abu Bakr, demi persahabatan dan kecintaanku kepadamu, jauhkanlah aku dari beratnya hisab di hari Kiamat kelak.”

“Kau lupa, Umar, imam yang adil kelak akan dipayungi Allah di hari tiadanya payung kecuali payung-Nya.”

Umar makin keras menangis, “Imam yang adil, ya. Tapi aku?”

“Kau juga. Kau juga, Umar.”

“Besok, di hari Kiamat, kau tidak bisa menolongku apa-apa, Abu Bakr, bila Allah menghendaki menghukumku.”

“Wahai Umar, bukan demikian Allah ditakwai dengan sebenarnya. Bukankah kau tahu ayat yang longgar turun selalu dibarengi dengan ayat yang keras dan sebaliknya, agar yang mukmin selalu dalam harap dan cemas. Tidak mengharap dari Allah sesuatu yang dia tidak berhak atasnya, dan tidak cemas atas sesuatu yang diletakkan Allah di tangannya. Bila setiap orang yang memiliki tanggung jawab   tidak melaksanakannya karena takut kepada Allah, niscaya takut kepada Allah akan menjadi buruk sangka kepada-Nya.”

“Apakah tidak ada yang lain?”

“Baiklah, mari kita nilai dirimu.”

“Baik.”

“Katakan, demi Allah yang mengetahui apa yang ada dalam hatimu, apakah kau melihat orang yang lebih pantas memegang jabatan ini melebihimu?”

“Pasti.”

“Jawab pertanyaanku, wahai Umar, apakah kau melihat di antara kaum muslimin setelah aku, ada orang yang lebih kuat ketimbang dirimu dalam mempertahankan kedaulatan mereka”

Umar menahan deras air matanya dan menjawab lirih, “Allhumma Laa. Memang tidak.”

“Alhamdulillah!”

“Tapi kau harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan orang-orang,  wahai Abu Bakr.”

“Aku akan melakukannya, Umar. Hambatan yang terberat sudah kulalui, insya Allah yang lain akan lebih mudah.”

Kisah di atas saya nukil-sarikan dari Malhamah Umar-nya Ali Ahmad Baktsir. Siapa tahu dalam suasana demam menjelang  plipres, pilgub, pilbup/pilwakot, ketika banyak orang ngiler mencalonkan diri menjadi penguasa, orang dapat mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh salaf kita itu.

About the author

A. Mustofa Bisri

Ulama dan budayawan, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Taman Pelajar Islam), Rembang, Jawa Tengah.

Tinggalkan Komentar Anda