Adab Rasul

Adab Meminang Perempuan

Written by Iqbal Setyarso

Melamar, menjadi satu kewajiban orangtua, terutama bila anaknya telah mencapai usia pantas untuk menikah. Selayaknya, proses lamaran sebelum pernikahan menjadi proses yang bernilai keberkahan.  Adapun adab melakukannya sesuai dengan petunjuk Rasulullah adalah sebagai betikut.

Pertama, minta Izin pada wali perempuan  yang akan dilamar.

Saat seorang pria ingin melamar perempuan, ia harus meminta izin dan pendapat terlebih dahulu. Jika diizinkan, barulah proses lamaran akan berlanjut pada proses pernikahan antara kedua calon. Cara melamar perempuan  adalah dengan menanyakan pendapatnya. Jika ia diam saat ditanya, artinya ia mengizinkan dan ridha dengan laki-laki  yang melamarnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau menikahkah janda sampai engkau meminta pendapatnya dan janganlah engkau menikahkan perawan sampai engkau meminta izinnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kita tahu dia mengizinkan?” Beliau pun bersabda, “Dia diam saja.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kedua, dampingi wanita selama proses lamaran.

Perempuan yang baik akan selalu menjaga dirinya. Ia tidak akan berkumpul berduaan dengan pria mana pun selain suami atau mahramnya. Oleh karena itu, saat melamar perempuan , hendaklah dari pihak keluarga mendampingi perempuan untuk proses lamaran sehingga tidak menimbulkan fitnah. Cara melamar seperti  ini terbukti lebih menjaga kemuliaan keduanya sehingga setan enggan menghampiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah laki-laki berduaan dengan wanita di tempat yang sepi dan janganlah wanita bepergian, kecuali dengan mahramnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, melihat perempuan yang akan dilamar.

Pihak perempuan  boleh mengumpulkan informasi mengenai laki-laki  yang melamarnya, seperti tentang latar belakangnya, akhlaknya, juga ibadahnya. Begitu pun sebaliknya, pria yang melamar boleh melihat wanita yang akan ia lamar. Ini bertujuan agar muncul kebaikan yang akan makin menguatkan keputusan menikah tersebut.

Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata bahwa Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan, lalu Rasulullah SAW bersabda, “Pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua.” Setelah itu, ia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu.“ (H.R. Ibnu Majah: disahihkan oleh Ibnu Hibban dan beberapa hadis sejenis juga ada, misalnya diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Imam Nasai).

Keempat, tidak menyiarkan kabar proses lamaran

Adab melamar  yang ke-4 ialah, wanita yang sudah dilamar lebih baik tidak memberitahukan proses lamarannya kepada orang lain. Jika ternyata tidak terjadi pernikahan setelah batalnya lamaran yang sudah dilakukan, wanita tersebut tetap mulia. Tujuannya agar ia tetap terjaga kesuciannya dari fitnah. Jika lamaran batal, orang akan mengidentikkan wanita tersebut dengan calon suaminya. Namun, jika sudah menikah, siarkanlah kabar bahagia tersebut karena merupakan anjuran Rasulullah.

Cara melamar wanita, yaitu jika seorang wanita telah dilamar oleh orang lain, tidak diperkenankan pria lain melamar wanita tersebut karena wanita tersebut sudah ditanya lebih dahulu oleh orang lain. Jika lamaran tersebut tak mendapat sambutan dari pihak wanita, barulah pria lain boleh melamarnya. Tujuan pelarangan melamar di atas pinangan orang lain karena khawatir akan munculnya kebencian dan dendam di antara sesama muslim yang melamar wanita yang sama.

Hal itu dikuatkan dengan dalil:

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang lelaki tidak boleh meminang wanita yang telah dipinang saudaranya.” (H.R. Ibnu Majah). Disebutkan,

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya.” (H.R. Muttafaq Alaihi dan lafalnya menurut Bukhari) Dalil lainnya,

Dari Uqbah bin ‘Amir ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin itu adalah saudaranya orang mukmin sehingga tidak halal jika ia menjual atas jualan saudaranya itu dan jangan pula melamar atas lamaran saudaranya sehingga saudaranya ini meninggalkan lamarannya, misalnya mengurungkan atau memberinya izin.” (H.R. Muslim)

Adab melamar dalam Islam dianjurkan agar dapat dilakukan oleh pria pada wanita yang akan dilamar. Dengan cara yang lebih berkah, proses lamaran akan berjalan dengan lancar dan mendapatkan berkah untuk keluarga tersebut. Dalam proses lamaran ini, menegaskan urgensi menentukan pihak yang dilamar benar-benar “masih kosong: alias belum dilamar siapapun. Hal itu menjadi adab yang menjaga perasaan muslim lainnya.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda