Cakrawala

Dari Yasinan ke Lembaga Filantropi

Written by Iqbal Setyarso

Saya ingin berbagi cerita. Tentang filantropi etnik. Sebagaimana diketahui,  bagi mayoritas perantau beretnik Madura, kesuksesan berkarya dirantau tidak hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat pendidikan formal. Sukses yang diraih dengan susah-payah umumnya tumbuh melalui ikatan persaudaraan yang diikat kesamaan daerah asal, merangkak dari kelas pekerja sampai eksis sebagai pengusaha, khususnya pengolah limbah besi. Di tengah ikhtiarnya menghidupi dirinya, komunitas Madura begitu solid memadukan aktivitas spiritual dan sosialnya tanpa pernah melupakan daerah asalnya. Sekelumit kisah komunitas Madura asal Sukolilo, sebuah kecamatan di Bangkalan, Madura Barat yang sudah bertahun-tahun bermukim di Ibukota.

Merantau merupakan realitas sosial budaya universal. Aktivitas merantau di berbagai etnik di Indonesia, banyak berlatar belakang ekonomi dan pendidikan. Kaum perantau dalam masa tertentu, membentuk komunitas sedaerah asal. Komunitas kedaerahan ini dibentuk untuk mengokohkan semangat kekeluargaan dan tolong-menolong antaranggota komunitas. Komunitas kedaerahan juga dapat berperan sebagai wadah yang nyaman bagi para anggota pemula, mereka yang baru datang dari rantau, baru memulai usaha atau pendidikannya. Perantau pemula butuh banyak dukungan untuk beradaptasi dengan dunianya yang baru, yang dalam hal ini, komunitas kedaerahan banyak menawarkan solusi. Kebersamaan yang muncul dalam sebuah komunitas lebih banyak diwarnai motif sosial, meskipun terpancar juga motif lainnya, baik ekonomi, keagamaan bahkan politik. Biasanya, setiap komunitas eksis berkat peran perantau pendahulu. Baik yang telah sukses maupun yang sedang merintis karirnya.

Perantau yang merantau karena motif pendidikan cenderung tidak lebih terikat kepada daerah rantauannya ketimbang mereka yang merantau karena alasan ekonomi dan sosial. Sepulang belajar, para pelajar perantau punya alternatif pilihan untuk kembali ke daerah asal, merantau ke daerah lain, atau menetap di daerah tersebut secara relatif tersebar dan lebih individualistis. Sementara mereka yang datang ke suatu daerah untuk menyambung nasib secara ekonomi dan sosial, dalam banyak kasus cenderung merapatkan diri dalam komunitas kedaerahan yang lebur dalam bentuk penguasaan ruang tertentu. Perantau sedaerah membentuk semacam perkampungan seperti kampung Cina di berbagai daerah rantauan. Naluri saling melindungi dan menjaga sesama, menjadi dorongan yang dapat meluaskan penguasaan ruang sebuah komunitas perantau di sebuah daerah. Salah satu komunitas yang secara signifikan tumbuh meluas, adalah komunitas perantau Madura di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Perantau Madura di wilayah ini awalnya adalah para perantau yang berangkat dengan dua motivasi utama: ekonomi dan sosial.

Secara statistik, diperkirakan Madura rantau di sejumlah kota di Indonesia mencapai 50 juta orang. Di daerah Jakarta dan sekitarnya, jumlah anggota komunitas ini melejit dalam empat dasawarsa terakhir. Kesetiakawanan, nampak menguat di kalangan sesama perantau. mengatakan, rasa setia kawan mampu melembaga dan membuat mereka yang diliputinya merasa sebagai kawan dan atau kerabat, dan ini merupakan modal yang berharga bagi sebuah negara yang stabil dan demokratis.  Glaser dan Moynihan (1981) menilai unsur primordial merupakan pengikat utama dalam pembentukan identitas etnis. Unsur primordial yang dimaksud antara lain meliputi genealogi dan kekerabatan (kinship), sistem kepercayaan (religion), dan bahasa/dialek serta kebiasaan sosial lainnya.  Kesamaan unsur primordial ini mengantarkan para perantau Madura ke dalam unit-unit kesatuan sosial. Mereka menggabungkan diri dalam sejumlah paguyuban, antara lain: Yayasan Ikatan Keluarga Madura (Ikama), Yayasan Rampak’ Naong (YRN), Majelis Ta’lim Al-Amin, dan Majelis Yasinan Al-Miftah. Dua komunitas terakhir ini berpusat di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebagian lainnya, membentuk kelompok-kelompok tanpa nama organisasi tertentu kecuali sebagai mitra atau pemasok tetap kebutuhan pengusaha tertentu di kawasan Tanjung Priok.

Tanjung Priok berangsur-angsur tumbuh menjadi kawasan padat penduduk setelah kedatangan kaum perantau, termasuk para perantau Madura. Sebagai kawasan pinggiran, beberapa etnik pendatang itulah perintis pengembangan komunitas sehingga kawasan yang asalnya sepi penghuni ini tumbuh menjadi pemukiman padat penduduk. Komunitas Madura di kawasan Tanjung Priok ini hadir dengan ciri khas kemaduraannya. Antara lain, tumbuhnya spiritualitas mengimbangi gairah menambah pendapatan dari sektor pengolahan limbah besi.

Kesalehan Sosial Perantau Bangkalan

Alam berpikir kebanyakan masyarakat Madura, menghormati ulama, guru – dalam makna sempit ustadz atau penguasa pengetahuan keislaman. Menurut Taufikurrahman, kepatuhan orang-orang Madura kepada figur guru berposisi pada level-hierarkis selanjutnya. Penggunaan dan penyebutan istilah guru menunjuk dan menekankan pada pengertian Kiai-pengasuh pondok pesantren atau sekurang-kurangnya ustadz pada “sekolah-sekolah” keagamaan. Peran dan fungsi guru lebih ditekankan pada konteks moralitas yang dipertalikan dengan kehidupan eskatologis ─ terutama dalam aspek ketenteraman dan penyelamatan diri dari beban atau derita di alam kehidupan akhirat (morality and sacred world). Oleh karena itu, ketaatan orang-orang Madura kepada figur guru menjadi penanda khas budaya mereka yang ─ mungkin ─ tidak perlu diragukan lagi keabsahannya. Menjiwai budaya ini, pengusaha Madura memberi ruang pula bagi para ustadz dengan menyediakan wahana mengajar. Hal ini diekspresikan dalam ritual dan budaya keislaman. Ekspresi spritual ini berlangsung rutin, berkembang sedemikian rupa sampai melahirkan organisasi sosial-keagamaan dan menyumbangkan peran sosialnya yang positif, baik untuk sesama etnik Madura maupun untuk masyarakat pada umumnya. Dengan itu perantau Madura yang berkemampuan ekonomi antara lain memberi sumbangsihnya dalam wujud pendidikan agama.

Peningkatan jumlah perantau Madura di Jakarta sendiri sejatinya tidaklah sistematis. Tidak ada model perekrutan formal yang mengarahkan regulasi penambahan pendatang Madura di Jakarta, atau di daerah lainnya. Kehadiran perantau asal Madura, berlangsung spontan, meskipun dalam kurun waktu tertentu telah menghadirkan kawasan tersendiri di sebuah wilayah, salah satunya di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Menetapnya perantau asal Madura di Jakarta, sejatinya sama saja dengan perantau asal daerah lainnya di Indonesia. Tidak ada larangan bagi warga Indonesia untuk berusaha di mana pun di wilayah Indonesia. Sebuah pemetaan global, pernah dijelaskan Dumaery, alumnus sebuah pesantren di Sumenep yang melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta. Menurutnya, perantau yang membentuk komunitas di Jakarta, bisa dipilah berdasarkan daerah asalnya. Di antara empat kabupaten di Madura, pendatang asal Bangkalan dan Sampang, biasanya menguatkan komunitas sektor informal, seperti yang ada di Tanjung Priok (umumnya dalam usaha limbah besi), dan Pulogadung (limbah kayu dan bangunan).  Mereka umumnya tidak ditopang pendidikan formal tertentu. Belum ada komunitas perantau sedaerah asal dan membangun organisasi sosial dengan jumlah massa sebesar komunitas asal Bangkalan.

Sementara itu, pendatang asal Pamekasan dan Sumenep, umumnya berlatar belakang pendidikan formal. Motif perantau Madura asal Sumenep dan Pamekasan ke Jakarta umumnya meneruskan pendidikan atau bekerja di sektor formal seperti instansi pemerintah atau perusahaan. Karena bekal pendidikannya, perantau asal dua kabupaten ini biasanya tidak terdorong menghimpun diri pada komunitas. Meskipun demikian, bukan berarti tidak membentuk paguyuban atau organisasi kedaerahan. Munculnya organisasi perantau Sumenep atau Pamekasan, tidak otomatis karena kedekatan tempat mereka bermukim. Bahkan, perantau Sumenep/Pamekasan melibatkan diri dalam sebuah paguyuban sesama asal Madura yang ada meskipun pendirinya berasal dari kabupaten yang berbeda.  Hanya saja, peran mereka tidak dominan, sebatas merawat persaudaraan.

Komunitas perantau Bangkalan yang dibahas di sini, khususnya yang bermukim di Tanjung Priok, Jakarta Utara, bermula dari ikhtiar sejumlah perintis usaha pengolahan limbah di wilayah ini tahun 1960-an. Ketekunan pelaku usaha limbah besi tua asal Madura ini membuahkan keberhasilan. Hal ini salah satunya karena belum banyak yang terjun di sektor ini.  Keberhasilan ini mendorong keinginan untuk mengembangkan usaha di satu sisi, dan membuka lapangan usaha bagi sesama warga Madura yang kurang beruntung di lain sisi. Sejak itu, secara gradual jumlah perantau Bangkalan yang berusaha di sektor informal pengolahan limbah besi, terus meningkat. Mengimbangi keberhasilan ekonominya, para perantau asal Bangkalan di kawasan Tanjungpriok ini menyelenggarakan aktivitas keagamaan yang disebut Yasinan, yaitu pembacaan surat Yaasiin dan barzanji (sastra berbahasa Arab tentang do’a, puji-pujian dan kisah Nabi Muhammad), yang berlangsung bergiliran sesuai kesepakatan. Kegiatan Yasinan biasanya berlangsung Kamis malam (malam Jumat). Yasinan  dipimpin seorang sesepuh atau kyai. Biasanya di sela pembacaan ritual, diselipkan permohonan dari shahibul bait (pemilik rumah, orang yang rumahnya sedang ditempati Yasinan) kepada jamaah untuk mendoakan anggota keluarga  yang sakit, meninggal, atau dalam kesulitan. Bisa juga mendoakan kelancaran usaha. Yasinan dihadiri pemilik usaha dan para pekerjanya.

Berbuat Tanpa Pamrih

Sebelum Yasinan dimulai, jamaah biasanya bercakap-cakap tentang keseharian dan masalah mereka. Berbagai masalah mereka ungkapkan di sini, termasuk masalah ekonomi. Dari sinilah muncul semacam inisiatif untuk berderma. Jumlah penderma disesuaikan dengan berat masalah yang dikemukakan. Dari sini, jika masalahnya bisa ditanggulangi satu orang pengusaha, biasanya tidak berkembang menjadi pembahasan khusus. Tetapi jika berat, bisa dipikul beberapa pihak sekaligus.

Perantau yang berhasil meningkatkan status ekonominya di daerah perantau umumnya tetap peduli dan tidak melupakan kampung halamannya, dimana sanak saudaranya masih menetap. Kepedulian itu diwujudkan dengan menyisihkan pendapatan yang didapat di perantauan untuk kampung halaman. ’Tradisi’ pemberian bantuan dalam komunitas Yasinan ini secara sadar merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah. Kebiasaan untuk berderma secara perorangan ini kemudian berkembang menjadi keinginan membentuk sebuah wadah untuk berderma secara kolektif.  Bentuk pertama yang terpikir di benak pengusaha Bangkalan saat itu adalah mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, terutama pendidikan agama. Hal ini merupakan pengejawantahan pesan para kyai yang sangat disegani para perantau dan umumnya orang Madura. “Orang Madura di manapun, membawa tradisinya, yaitu, di manapun, bisa mandiri, tidak menyusahkan orang lain, dan menegakkan dakwah Islam sesuai kemampuan.”

Menurut penjelasan H. Syafi’i, kecenderungan terhadap Islam merupakan hal utama yang melatarbelakangi karakter etnis Madura. Umumnya anak Madura  wajib masuk pondok pesantren tradisional. Sekalipun tidak sempat masuk sekolah formal, setidaknya mereka memiliki dasar-dasar agama Islam. Inilah bekal yang menjaga karakter mereka. Dari dasar inilah, tradisi bernuansa keislaman terbawa kemana pun mereka pergi, termasuk di perantauan. Para pengusaha peyelenggara Yasinan ini sadar bahwa mereka hanya memiliki bekal pendidikan pesantren. Ketiadaan bekal pendidikan formal ditambah kemiskinan di masa lalu mendorong para pengusaha Madura mempersiapkan pendidikan yang lebih baik bagi generasi penerus. Kesadaran ini ditindaklanjuti dengan mendirikan sebuah yayasan pendidikan. Inilah fase penting perubahan perkumpulan Yasinan menjadi lembaga filantropi.

Filantropi dimaknai sebagai sebuah cara membantu sesama di mana ‘saling memberi perhatian dan saling membagi’ adalah esensi utamanya.  Sebuah organisasi filantropis menuntut dicapainya esensi tersebut melalui pengembangan perhatian dan kepekaan pada orang lain, membuat orang lain peduli pada sesamanya di dalam suatu komunitas, dan mewujudkan kepedulian itu melalui tindakan nyata untuk menjawab kebutuhan mereka. Filantropi atau kedermawanan sosial ini adalah aksi sukarela.

Yayasan ini pada awalnya dioperasikan oleh tenaga relawan, bentuk dasar filantropi, sebelum berkembang menjadi sekolah formal sampai tingkat menengah atas kejuruan. Menurut Syaiful A’la  Kepala Sekolah SMP Daarul Ma’ruf yang dinaungi Yayasan Ikama, perkumpulan Yasinan yang beranggota perantau Bangkalan di Tanjung Priok ini, resmi menjadi sebuah yayasan tahun 1974. Awalnya, Yayasan Ikama bergerak di bidang sosial keagamaan dan pendidikan nonformal diniyah, ta’lim dan santunan sosial. Aktivitas pendidikan dirintis di tanah milik Haji Ma’ruf, sehingga lembaga pendidikannya diberi nama yang dinisbahkan kepada nama beliau. Haji Ma’ruf menolak penamaan dengan namanya, sehingga sehingga nama lembaga ini sedikit dimiripkan saja, menjadi Daarul Ma’arif. Pada perkembangannya, lembaga pendidikan ini membuka tingkat Taman Kanak-kanak sampai SMEA.

Tentang SMP Daarul Ma’arif sendiri, sejak 2015, Kepala Sekolahnya, sudah berganti. Saat ini Kepala Sekolah guru yang pernah menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Sedangkan Kepala Sekolah sebelumnya pindah tugas, mutasi ke SMP Negeri.

Seperti pernah dipaparkan kepada penulis, Syaiful ‘A’la mengatakan, sampai 1980-an awal, pengelolaannya SMP itu masih amatiran, mengandalkan kerelawanan, baik pengurus maupun tenaga pengajarnya. Para guru yang rajin mengajar, memperoleh subsidi pengusaha besi tua asal Sukolilo, Bangkalan. Secara teknis belum ada struktur kepengurusan yang operatif. Subsidi diberikan untuk insentif pengajar dan seragam siswa. Pada tahun 1974 itu, siapa saja yang bisa dan bersedia mengajar, direkrut untuk memberi pelajaran diniyah. Meskipun kegiatan belajar mengajar tetap harus berlangsung, tidak ada guru tetap.  Rata-rata tenaga pengajar, mengalokasikan waktunya di sela kesibukan mereka bekerja di tempat lain.  Baru pada tahun 1986, didirikanlah SMP formal dengan izin operasional dari instansi yang berwenang. SMP Daarul Ma’ruf tetap eksis, seiring waktu, sang Kepala Sekolah, Syaiful A’la telah diterima di sebuah sekolah negeri, juga di kawasan Jakarta Utara.

Haji Syafi’i, mantan Sekjen Ikama (konon kini beliau karena tuntutan pekerjaan, masih kerap ke Jawa Timur), menjelaskan, dirinya dan sesama pengusaha pengolahan limbah besi asal Madura menyadari, mereka terpaksa harus bekerja keras karena tidak menyandang bekal pendidikan formal. Namun pun demikian, mereka ingin generasi penerus bisa mengenyam pendidikan. Dalam ungkapan sederhana, Haji Syafi’i mengatakan,“Kami memang tidak bersekolah, jadinya seperti ini. Bekerja mengolah apa yang dibuang orang lain. Kami merasakan bagaimana beratnya merintis usaha seperti ini. Untuk generasi selanjutnya, biarpun kami tidak bersekolah, kami terdorong untuk memberi kesempatan generasi penerus, memperoleh pendidikan yang lebih baik dari kami.”

Dari waktu ke waktu, Ikama kian kokoh mewadahi filantropi pengusaha perantau Bangkalan. Seiring meningkatnya peran dalam bidang pendidikan, komunitas yang dipayungi Ikama juga kian besar, terdiri dari para profesional (pemasok limbah besi dan tenaga pengolahnya) dan pengusaha (pemilik pengolahan limbah besi). Karena keluasan kiprahnya, Ikama kerap menerima undangan sejumlah tokoh nasional, terutama yang memiliki kedekatan emosional.  Filantropi yang terlembaga, relatif memperkuat performa sebuah komunitas. Apalagi, dengan semangat yang sama, komunitas ini bisa bertemu secara massal minimal satu tahun sekali pada Hari Raya Idul Fitri, yaitu saat Halal bi Halal pada bulan Syawal, bermaaf-maafan satu sama lain.

Ahmad Farid Shanhadji, seorang pelukis lulusan SMSR Yogyakarta yang tinggal di Bogor dan berkiprah di Jakarta, mengakui sepak terjang Ikama. Kemajuan Ikama menurut Farid, banyak dipengaruhi sosok Haji Syafi’i, baik dalam peranan maupun dalam kekuatan relasi. Komunitas Madura rantau mengenal beliau sebagai tokoh yang secara internal berperan merekatkan komunitas, dan di lingkungan eksternal komunitas mampu menembus lapisan elit politik dan kekuasaan. Hal itu sangat efektif dalam menjaga harmoni komunitas Madura rantau, terutama mereka yang terlibat dalam lingkaran usaha pengolahan limbah besi tua. Sesekali, tanpa direncanakan, ada saja konflik yang terjadi. Biasanya dengan komunitas lokal (Betawi) atau komunitas etnik pendatang lainnya (misalnya dari Maluku). Haji Syafi’i dengan pengaruh dan kemauan kuatnya menjaga harmoni, biasa diminta untuk mencegah meluasnya konflik.

Ahmad Farid Shanhadji

Tidak sebatas di kawasan Jakarta dan sekitarnya, reputasi Haji Syafi’i dikenal sampai ke wilayah lain seperti Sampit, Kalimantan Tengah, yang pernah menghebohkan Indonesia dan dunia saat pecah kerusuhan berlatar belakang etnik tahun 2001 silam. Saat itu, banyak warga keturunan Madura yang tewas atau dipaksa meninggalkan Sampit. Pasca kerusuhan, Haji Syafi’i bersama Ikama demikian intensif berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah, mencegah terjadinya aksi balas dendam. Hasilnya, sampai hari ini tidak terdengar ada gelombang pembalasan etnik Madura terhadap etnik Dayak yang jelas-jelas telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Haji Syafi’i, menurut Ahmad Farid Shanhadji, punya wawasan luas dan merupakan sosok pemikir yang kerap menjadi rujukan komunitas Madura rantau. Karena keluasan wawasan dan akseptabilitasnya yang baik, Haji Syafi’i punya hubungan baik dengan sejumlah tokoh nasional, terutama asal Madura.

Haji Syafi’i menceritakan bagaimana pengusaha etnik Madura melancarkan tindak ‘balasan’ atas kerusuhan Sampit. Seorang rekanannya, diam-diam membangun sejumlah sarana pendidikan di Kalimantan Tengah yang didedikasikan untuk siapa saja, tidak eksklusif untuk etnik Madura saja. Pembangunan sarana pendidikan itu dibarengi dengan penyiapan sarana kewirausahaan. Keduanya dibangun di lokasi yang sama, agar kelak, kewirausahaan yang dirintis ini bisa membiayai operasional aktivitas pendidikan. Bentuk wirausaha yang digagas misalnya perkebunan, yang keberlangsungannya tidak selalu tergantung donasi. Contoh filantropis yang dikemukakan Haji Syafi’i menunjukkan filosofi orang Madura, ‘hidup tidak untuk merepotkan orang lain, sedapat mungkin di mana saja membawa maslahat (kebaikan) bukan mudharat (keburukan).’

Sikap dan ekspresi keseharian seperti ini meluaskan pergaulan, baik Ikama sebagai paguyuban sosial-keagamaan maupun sosok Haji Syafi’i sebagai organisatornya. Meskipun jaringan Ikama terbilang luas, Haji Syafi’i sendiri tidak memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan politik praktis. Tak heran, tokoh nasional seperti mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D. yang berasal dari Pamekasan, pernah mengundang Haji Syafi’i untuk membahas gagasan pembangunan perguruan tinggi. Kedekatannya dengan sejumlah elit pemerintah, atau elit politik, lebih banyak diarahkan pada kepentingan sosial. Ikama sebagai sebuah yayasan berbasis komunitas beretnik Madura, tidak menjadi eksklusif dalam peran sosialnya. Pendidikan yang digagas tokoh-tokoh Ikama, tidak hanya bertujuan mendidik generasi sedaerahnya melainkan juga untuk mendidik pelajar di luar etnis mereka.

Bukti lain kuatnya daya rekat Ikama di Jakarta dan sekitarnya, dapat dilihat pada momentum Halal bi Halal. Penyelenggaraan halal bi halal biasanya membutuhkan ruang pertemuan yang luas, misalnya Istora Senayan. Hal tersebut disebabkan banyaknya undangan yang hadir. Pembiayaan kegiatan ini disokong iuran bersama sebagai wujud kuatnya persaudaraan. Yusuf Syafi’i, Pengurus Ikama Bidang Kesenian menuturkan, “Ikama tidak punya uang kas, tapi kalau ada keperluan bersama,  bisa terpenuhi dalam waktu singkat karena para anggotanya dengan ikhlas mengulurkan bantuan.”  

Yusuf Syafi’i juga menjelaskan, pada perkembangannya, Ikama mulai menyediakan bantuan lainnya seperti penyediaan ambulans tahun 2010, untuk warga Bangkalan rantau yang memerlukan kendaraan pengantaran jenazah dari bandara Juanda (Surabaya) sampai ke kampung halaman di Bangkalan. Kontribusi ini bahkan dirintis pengurus Ikama asal Sukolilo, salah satu kecamatan di Kabupaten Bangkalan, melanjutkan aktivitas sosial paguyuban “Bolo” (Persaudaraan) yang ada di Sukolilo bersama Majelis Al-Miftah di Jakarta. Al-Miftah, diambil dari nama seorang wali yang dihormati di Sukolilo.

Tidak hanya pendidikan, Ikama juga mewujudkan bentuk filantropi lain. Perantau yang punya minat wirausaha (mandiri), menurut Yusuf, memperoleh bantuan modal usaha membuka warung sate, soto dan bebek goreng khas Madura. Sudah puluhan pedagang sate, soto dan bebek goreng Madura (kadang untuk perluasan pasar, disebut Khas Jawa Timur) eksis berkat dukungan modal dari Yayasan Ikama, tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Hal ini karena tidak semua perantau asal Bangkalan yang ingin mengubah nasibnya, berminat di bidang pengolahan limbah besi. Haji Imam Syafi’i sendiri filantropis yang bederma dengan menyantuni anak yatim melalui Majelis Al Amin yang berpusat di dekat kediamannya, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Rata-rata 700 juta rupiah pertahun dikeluarkannya untuk didistribusikan melalui tujuh lembaga mitra majelis ini.

Secara kelembagaan, Ikama menunjukkan transformasinya dari sekadar organisasi informal keagamaan, menjadi lembaga filantropis formal tanpa mengubah peran sosial saat belum menjadi lembaga formal.

Tafsir Munculnya Filantropi

Fase informal Yasinan perantau Madura di Tanjung Priok, berlangsung satu dasawarsa sebelum eksis menjadi lembaga formal, terkait dengan kapasitas dan kapabilitas tokoh-tokoh perantau sendiri. Pada masa itu, para perantau Madura di kawasan Tanjung Priok tengah berjuang membangun kemandirian usaha masing-masing. Ketika kemandirian mulai terbangun, kemauan berhimpun dan mengokohkan persaudaraan menjadi landasan pendirian institusi sosial-keagamaan formal yang melahirkan Yayasan Ikama.

Dari kemandirian bisnis, terpicu kemauan berbagi dalam wujud pendirian sekolah bernuansa keagamaan (madrasah diniyah). Fenomena filantropi pengusaha besi tua asal Madura ini, mendahului tren alokasi keuntungan korporat sebagai bentuk tanggungjawab sosial. Masyarakat bisnis dunia memandang, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) sebagai perubahan paradigma dari motif menumbuhkan ekonomi semata, menjadi motif menjaga kesinambungan usaha. Hal ini dimaknai sebagai pemenuhan kebutuhan masa kini tanpa mengurangi atau merugikan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya.

Ada tiga pilar utama pendukung keberhasilan CSR dalam pembangunan berkelanjutan: dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat sipil lokal. Ketika gagasan ini dimasyarakatkan ke kalangan bisnis, sempat muncul resistensi. Misalnya, dari pakar manajemen seperti Friedman dan Drucker yang mengatakan, keterlibatan perusahaan dalam kegiatan di luar bisnisnya merupakan perluasan eksekutif melebihi kekuasaan para pengusaha di bidang ekonomi. Penentangan itu terkalahkan oleh sebuah business roundtable yang mewakili 200 perusahaan besar di Amerika tahun 1981, yang mengeluarkan pernyataan bahwa mengejar keuntungan dan tanggungjawab secara sosial adalah dua hal yang selaras, bukan bertentangan. Dari sinilah lahir program pemberdayaan masyarakat (community development).

Perantau Madura yang berprofesi sebagai pengusaha limbah besi, sudah lama melakukan apa yang di Barat sempat dipertentangkan, yaitu antara motif bisnis semata dan paduan bisnis dan sosial. Barat mendorong kearifan berbisnis, antara lain dengan menjadikan kawasan sekitar lokasi usaha (masyarakat sipil) ikut memetik manfaat. Proses bisnis limbah besi, disadari atau tidak, bergerak dengan azas itu: lingkungan sekitar pusat usaha pengolahan limbah besi ini, diberdayakan sebagai pemasok bahan baku, maupun sebagai pengolahnya. Otomatis, stabilitas dan keamanan usaha pengolah limbah besi, berkelanjutan. Warga sekitar  pabrik pengolahan limbah cenderung memperkuat kinerja perusahaan.  Tak cukup dengan membuka lapangan kerja untuk lingkungan sekitarnya, ketika terbentuk menjadi komunitas, perantau Madura ini sekaligus memberi layanan sosial dan menggelar aktrivitas keagamaan secara rutin melalui paguyuban yang mereka bentuk.

Aktivitas sosial perantau Madura di Tanjung Priok ini berwujud kegiatan keislaman dan pendidikan. Dorongan utamanya ada dua : Pertama, masyarakat Madura menempatkan ulama (kyai) sebagai representasi penyampai/pengawal ajaran Islam, demikian tinggi. Maka, ketika merantau,  tuntutan agama harus dikedepankan. Berkiprah dalam nuansa (dan naungan) Islam, mengokohkan eksistensi seorang Madura. Maka, menyeimbangkan proses kemandirian usaha yang dicapai penuh perjuangan bahkan ‘nyerempet bahaya’ karena beratnya persaingan antar kelompok di tengah kerasnya kehidupan Jakarta. Mereka harus beramal saleh, membantu dakwah Islam di bumi mana pun mereka berpijak.

Kedua, sejumlah konflik yang melibatkan perantau Madura, menempatkan perantau Madura sebagai korban adu-domba, kebanyakan karena rendahnya pendidikan sehingga mudah tersulut provokasi, ditunggangi dan dipolitisasi pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. Mereka merantau untuk mengubah nasib, tanpa bekal pendidikan dan wawasan sehingga terjebak situasi yang tidak diinginkan. Melihat nasib saudaranya, sebagai sesama orang Madura, para pengusaha  limbah besi di Tanjung Priok yang sudah mapan, terpanggil berbuat sesuatu dan memilih kegiatan sosialnya di bidang pendidikan.

Paduan semangat mengedukasi sesama, dorongan keagamaan dan sosial di satu sisi, dihadapkan keterbatasan sosial-ekonomi perantau Madura di Tanjung Priok, juga kondisi keterbatasan di kampung halaman, menjadi landasan berkembangnya kedermawanan. Semakin bermanfaat seseorang, terlebih yang hidup di rantau, semakin eksis dirinya baik di hadapan sesama manusia – khususnya sesama orang Madura, maupun terutama di hadapan Sang Maha Pencipta.

Filantropi perantau Madura dengan demikian, lahir dari akar budaya Madura sendiri yang kental dengan spiritualitas (tradisi pesantren). Kaum santri perantau menjadi motornya, sementara perantau yang ‘bukan santri’ tetap terimbas kultur santri sehingga mudah membaur dengan arus besar keagamaan dan filantropi. Dua pengaruh memang tarik-menarik, antara filantropisme yang bersumbu kesadaran spiritual, dan pragmatisme – bahkan  premanisme, yang dirangsang kerasnya hidup di Ibukota, kemiskinan dan lemahnya ketahanan spiritual.

Potret komunitas perantau Madura yang sukses, melahirkan dua respon yang berlawanan pula. Pertama, kehendak sukses sebagai pengusaha dengan meneladani pengusaha sukses yang dikenalnya (biasanya sedaerah asal). Kedua, kaya bergelimang harta, tapi tidak mau hidup berliku dan bersusah –payah, bersebab mereka bertemu komunitas yang juga tumbuh dan besar dalam pragmatisme. Sepanjang temuan penulis, dua kelompok ini tidak tergabung dalam satu paguyuban. Kecuali melalui law enforcement, ikhtiar berat melakukan  penyadaran “kelompok pertama” kepada “kelompok kedua” yang masih mengedepankan pragmatisme dan kekuatan massa (fenomena serupa juga terjadi pada komunitas perantau dari daerah lainnya di Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia yang seolah-olah berbagi lahan eksploitasi bernuansa premanisme).

Rujukan:

Glaser, N & Moynihan, DP (Eds.) 1995. Etnicity: Theory and Experience. Cambridge:  Harvard  University Press

Taufiqurrahman, https://www.maduracorner.com/islam-dan-budaya-madura diakses 7 Oktober 2021

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda