Mutiara

Ahmad Syah Abdalli, Bapak Afghanistan

Written by A.Suryana Sudrajat

Membangun benteng parit hanya memperlihatkan ketakutanmu dan akan mengundang musuh-musuhmu dari jauh merebut ibu kotamu

“Untuk apa kamu membangun benteng parit?” tulis Zarghuna Bibi. “Itu hanya memperlihatkan ketakutanmu dan akan mengundang musuh-musuhmu dari jauh merebut ibu kotamu.”

Ahmad Syah Abdalli pun mengurungkan niatnya, begitu membaca surat ibunya itu. Ia memang sedang merancang pembangunan Qandhar (yang dihancurkan Nadhir Syah) berikut benteng parit sekeliling kota.

Lahir pada tahun 1743 di Multan, Ahmad Syah ditabalkan menjadi raja Afghanistan, menyusul pembunuhan Nadhir Syah pada 1747. Ia menjadi alternatif dari sejumlah calon yang sebagiannya adalah kepala suku yang lebih senior dan berpengalaman. Ia dipromosikan oleh Sabir Syah, seorang yang dikenal luas kesalehannya, pada pertemuan ke-9 para penguasa lokal Afghan. Waktu itu Ahmad, anak suku Abdalli yang mantan komandan paswal Nadhir Syah, baru berusia 25. Upacara pelantikannya berlangsung sederhana. Hanya ada penyematan setangkai gandum oleh Sabir Syah kepada raja terpilih.

Sampai menjelang akil balig, kehidupan Ahmad Syah boleh dibilang penuh cobaan. Ia sudah ditinggal mangkat ayahnya, Zaman Khan, penguasa Herat, ketika masih kanak-kanak. Kota ini diserbu Nadhir Syah pada masa abangnya Zulfikar Khan. Mati-matian si Abang mempertahankan Herat selama lima bulan, sebelum akhirnya melarikan diri  menyusul konspirasi sejumlah pemuka Abdalli. Bersama adiknya, ia meminta perlindungan penguasa Qandhar, eh malah ditawan. Setelah kota itu dikuasai oleh Nadhir Syah, mereka dibuang ke Mazandran. Zulfikar wafat setibanya di kota yang sekarang masuk wilayah Iran itu.

Adapun Ahmad Syah, pemuda 16 tahun berperawakan atletis yang karakternya banyak dibentuk ibunya, kembali ke Qandhar dan melamar jadi tentara. Nadhir terkesan—seumur-umur konon ia belum pernah melihat calon perwira segagah Ahmad. Di samping itu, Ahmad menunjukkan kecakapannya dalam peperangan di Kaukasia, selain loyalitasnya kepada raja. Bahkan, ketika Nadhir dibunuh, ia pasang badan untuk melindungi anggota keluarga raja dari ancaman pembantaian.

Sejarah Afghanistan adalah sejarah peperangan antarsuku. Ahmad Syah mencatatkan dirinya sebagai pemersatu bangsa Afghan. Pada masa tiga dasawarsa kekuasaannya, Afghanistan menjadi sebuah kerajaan yang kuat, membentang dari Oxus ke Oman, dan dari dataran tinggi Tibet hingga pantai Samudera Hindia. Toh, Ahmad Syah, yang punya reputasi menempuh jarak 135 mil dalam dua hari dengan berkuda, tidak mencerminkan dirinya sebagai maharaja. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Ahmad dibantu oleh sebuah “dewan perwakilan” beranggotakan sembilan orang. Ia tidak mengenakan mahkota, menolak duduk di singgasana, dan melarang praktik mencium lantai dalam menghadap raja. Sebutan “Ahmad Syah Baba” alias Ahmad Syah Sang Bapak (Bangsa Afghan) merupakan pantulan dari hidupnya yang saleh dan merakyat.

Syahdan, pada abad ke-18 itu juga Kerajaan Moghul di India sedang mengalami kemorosotan luar biasa. Selain menghadapi kekisruhan internal, Delhi mendapat ancaman dari kekuatan Eropa dan kekuasaan baru dari Maratha Hindu. Maharaja Delhi, yang punya kegemaran berasyik-masyuk, segera berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Maratha. Banyak yang menggambarkan bahwa kaum Muslimin di India pada waktu itu sedang menghadapi badai besar dari orang-orang Maratha, yang tengah bersiap menyapu mereka dari Anak Benua.

Syah Waliullah, ulama di Delhi, yang paling gundah melihat ketidakseimbangan kekuasaan yang merugikan kepentingan kaum Muslimin di India itu. Melalui berbagai tulisannya, ia menyeru kaum muslimin yang sudah terpecah-pecah untuk Bersatu, sebab perpecahan itu hanya memperlemah Islam. Itu yang pertama. Kedua, ia mengundang Ahmad Syah Abdalli untuk menghancurkan kekuatan Maratha.

Pada tahun 1761, dalam pertempuran di Panipat, dekat Delhi, pasukan Ahmad Syah yang berkekuatan 60.000 personil berhasil menghancurkan pasukan Maratha yang sekitar 500.000 tentara. Sekitar 200.000 tentara Maratha terbuhuh. Kekalahan telak ini tak syak melemahkan semangat orang-orang Maratha menguasai Mughal dan wilayah Islam lainnya di India Utara. Syah Waliullah pun tetap membina persekutuannya dengan Ahmad Syah. Usaha itu pada akhirnya memang hanya menangguhkan Moghul dari kehancurannya, sebab pada akhirnya kerajaan itu tidak berkutik menghadapi serangan Inggris pada abad ke-19.

Ahmad Syah, wafat 1773, memang tidak melulu dikenang sebagai pemersatu suku-suku Afghan, atau pahlawan Perang Panipat, tetapi juga peminat sastra yang serius. Waktu-waktu senggangnya tidak ia gunakan untuk berburu atau bersenang-senang sebagaimana galibnya kaum bangsawan, tetapi untuk mempelajari kesusastraan. Ia menulis puisi dan prosa dalam bahasa Arab, umumnya tentang kebajikan, cita-cita, pengorbanan, dan semangat kebangsaan. Tak heran jika para penulis riwayatnya sering menggambarkan Ahmad sebagai pribadi yang mampu menyatukan keberanian dan perikemanusiaan sekaligus dalam dirinya. Bayangkan, 22.000 tawanan yang tertangkap dalam Perang Panipat, seluruhnya dibebaskan, bahkan masing-masing mendapat hadiah uang dan pakaian. Hanya satu yang dihukum mati. Dialah Ibrahim Gardi, tentara bayaran, pemimpin pasukan artileri Maratha, dan yang terbukti mengkhianati bangsanya sendiri.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda