Tafsir

Tafsir Tematik: Bagaimana Minoritas Mengalahkan Mayoritas (2)

Written by Panji Masyarakat

Berkata mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Allah, “Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok yang besar dengan perkenaan Allah. Allah beserta mereka yang tahan uji.” (Q. 2:249)

Tetapi komponen mutu yang paling layak disebut sehubungan dengan kelompok yang bisa terbayang dari doa Umar ibn Al-Khattab bukan disiplin. Melainkan, misalnya keluasan wawasan. Atau kemampuan kepemimpinan. ‘Umar adalah tokoh yang dalam buku popular Michael Hart, The 100, tentang orang-orang yang dinilainya paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah, disebut sebagai salah satu dari hanya dua tokoh yang mewakili kalangan Islam—selain Nabi Muhammad SAW. sebagai tokoh pertama dari semua. Dalam kepustakaan Hadis terdapat berbagai riwayat yang memuat kelebihan para sahabat Nabi, dari kata-kata Nabi sendiri. Adapun di antara kelebihan Umar, diriwayatkan setidak-tidaknya oleh Turmudzi (lihat Kitab Manaqib), adalah: “Andai saja ada nabi setelah aku, dia itulah Umar.”

Memang, doa Umar sebenarnya tidak menunjuk kepada satu golongan. Bukan sejatinya permohonan agar “dimasukkan ke dalam”, melainkan agar “dijadikan dari jenis” : “Allah, jadikan aku seseorang dari jenis yang sedikit (yang jarang) “ –-terjemahan yang malah lebih tepat. Hanya saja, diandaikan orang-orang dari jenis yang sama ini berhimpun, katakanlah misalnya, dalam konteks politik, dalam satu partai, partai minoritas ini akan menjadi yang paling bermutu. Akankah mereka menang dalam pemilihan umum?

Tidak, sudah tentu. Sebab konteks kemenangan kelompok kecil atas kelompok besar, seperti yang dimaksudkan ayat itu, bukan konteks demokrasi seperti yang menampakkan dirinya secara paling dalam pemilu. Demokrasi adalah sistem yang akan selalu memenangkan golongan yang paling tidak bermutu, kalau strata antargolongan digambarkan sebagai kerucut, dengan partai paling bermutu berada di paling puncak. Yang akan menang tentu saja golongan yang paling bawah. Lain halnya jika kerucut itu kerucut sebuah partai—dan pribadi-pribadi paling bermutu berada di posisi-posisi paling pucuk. Maka partai ini boleh menjadi paling bermutu—sejalan dengan bunyi ayat tentang betapa kelompok kecil (bermutu) mengalahkan (mempengaruhi, malahan menentukan) kemauan kelompok besar.

Itu berarti, jika kemenangan dalam pemilu yang diinginkan, orang-orang bermutu justru dituntut menyebar di sebanyak mungkin partai dan bukan mengumpul menjadi satu. Cerita tentang bagaimana kelompok minoritas (yang idealnya bermutu) “menggarap” sebuah partai besar dengan cara memasukinya, berperan di dalamnya dan turut mengendalikannya, juga di Indonesia pasca-Reformasi, sejalan saja dengan cerita tentang bagaimana lobi Yahudi yang kuat dan cerdas (atau culas, menurut ukuran pihak lawan) turut menentukan atau memberi warna dalam pengambilan keputusan di Washington sampai pada tingkat tertentu. Justru pemilihan umum yang terbuka dan “luber-jurdil” tidak menguntungkan mereka sebagai satu kelompok.

Itulah sebabnya demokrasi sama sekali bukan prasyarat kemenangan kelompok kecil atas kelompok besar seperti dimaksudkan ayat, setelah konteksnya kita luaskan dari sekadar konteks perang. Justru dalam iklim tak demokratis, seperti dalam era Soeharto yang tiga dasawarsa, pernah orang bicara tentang “tirani minoritas”—kekuasaan kelompok kecil yang dikatakan mampu memaksakan kehendak, dalam iklim tidak transparan, atas yang mayoritas. Contoh jelasnya adalah usaha “pemaksaan” RUU Perkawinan yang (sebagiannya) seperti dicangkok dari masyarakat lain untuk diwajibkan atas masyarakat Islam, yang hanya sampai-sampai mengacak-acak gedung DPR (sebuah pemaksaan kehendak jenis lain, khas di negara tak demokratis), dan berakhir dengan ditetapkannya UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang relatif disetujui semua pihak.

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).Sumber: Panji Masyarakat, 14 Juli1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda