Tafsir

Tafsir Tematik: Bagaimana Minoritas Mengalahkan Mayoritas (1)

Written by Panji Masyarakat

Berkata mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Allah, “Berapa banyak kelompok kecil menyalahkan kelompok yang besar dengan perkenaan Allah. Allah beserta mereka yang tahan uji. (Q. 2:249)

Ada banyak yang agak aneh, yang diriwayatkan diucapkan oleh Sayidina ‘Umar. Bunyinya: Allahummaj’alnii minal aqalliin. “Allah, masukkan aku ke dalam golongan yang lebih sedikit.” Golongan yang lebih sedikit  (atau yang paling sedikit), dalam pengelompokan sosial, adalah kelompok minoritas (al-aqalliyah). Tetapi doa ‘Umar, seperti juga ayat di atas, tidak pertama kali bicara dalam hubungan itu. Kalimat “Betapa sering kelompok kecil mengalahkan kelompok besar (atau jumlah yang sedikit mengalahkan jumlah yang banyak)” itu diucapkan, sebagaimana bisa menyata dari bagian pertama ayat yang mendahului terjemahan petikan akhir di atas, oleh Sebagian bala tentara Thalut (Raja Saul) kepada rekan-rekan mereka yang ciut hati ketika menghadapi kekuatan besar Jalut (Goliath) dan tentaranya, di masa Nabi Syamwil (Samuel) a.s. dan menjelang kebangkitan Daud a.s.

Jadi, dalam hubungan dengan peperangan. Tapi siapa bilang makna sebuah ayat, atau bagian ayat, dari jenis yang bisa berdiri otonom, dan yang menggunakan lafal yang umum, terpaku mati dalam ikatan rangkaiannya, yakni perang, dan tidak mencakup semua bidang yang paralel?

Yang pertama kali kelihatan, baik dalam ayat ini maupun dalam doa ‘Umar r.a., adalah penekanan pada mutu. Kelompok kecil yang mengalahkan kelompok besar, dalam konteks apa pun, jelas kelompok bermutu. Dan golongan kecil yang diinginkan ‘Umar menjadi golongannya adalah golongan yang paling bermutu. Dalam contoh yang diberitakan dalam kelengkapan ayat ini, faktor mutu itu—atau salah satu komponennya—bisa dipahami dari dilakukannya ujian. Yakni Raja Thalut, kepada bala tentaranya: siapa saja yang mampu menahan diri untuk tidak meminum air sungai yang akan mereka lewati, merekalah orang-orang pilihan, yang dihargai sang panglima sebagai “termasuk golonganku”. Sedangkan yang tidak mengindahkan larangan itu—“kecuali yang sekedar menciduk satu cidukan dengan tangannya”—derajat mereka “bukan golonganku”, meskipun mereka turut berperang.

Nah, mereka yang mampu menahan diri itulah orang-orang dengan keteguhan kepribadian yang memungkinkan mereka berkata kepada rekan-rekan mereka yang kecut:

“Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok yang besar…” Jadi, komponen mutu di sini adalah disiplin. Dan itu bersumber pada keimanan mereka yang, dinyatakan di awal petikan terjemahan di atas, “yakin bahwa mereka akan menemui Allah”.

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).Sumber: Panji Masyarakat, 14 Juli1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda