Mutiara

Raja Faisal, Yang Mencatat dan Yang Membuat

Written by A.Suryana Sudrajat

Tuhan memberi kita dua telinga dan satu lidah. Artinya kita harus mendengar dua kali lebih banyak dari berbicara.

Ada yang mencatat sejarah, ada yang membuat sejarah.

Tapi tidak banyak yang melakukan kedua-duanya. Raja Faisal termasuk di antaranya.

Sebelum menghadiri KTT Islam di Lahore, Pakistan, awal Januari 1973, Presiden Mesir Anwar Sadat melakukan umrah bersama pemimpin Libya Muamar Khadafi. Keduanya singgah di Riyadh, menemui Raja Faisal. Dalam pertemuan itu Faisal berbicara masalah Palestina. Tutur sadat kemudian, dalam memoarnya, salah satu data sejarah yang baru dalam pertemuan itu diungkap Faisal. Katanya, Inggris pernah mengusulkan kepada pihak Palestina agar menyetujui migrasi orang Yahudi. Tidak banyak, 50.000 jiwa saja. Kompensasinya, Inggris akan memberikan Palestina kepada Palestina. Tawaran itu dijawab, “Tidak!”

Bangsa Arab,  yang waktu itu memang dalam suasana politik yang tidak mengenal kata lain selain “tidak”, ikut mendukung sikap Palestina. Jawaban itu tidak memecahkan masalah, bahkan menambah rumit persoalan. Seandainya Palestina menyetujui usulan Inggris, kata Sadat, mereka akan membebaskan dunia Arab dari sejumlah masalah, kegelisahan, darah, malapetaka, dan kehilangan nyawa. “Lima puluh ribu di tengah jutaan orang tidaklah mengkhawatirkan. Mereka akan bisa dikendalikan sehingga tidak menjadi ancaman bagi bangsa Arab.”

Kita tidak tahu apakah Faisal ikut menyesali “kekeliruan” itu. Yang jelas, sekarang mungkin hanya sedikit orang yang optimistis ketika berbicara tentang prospek perdamaian Palestina-Israel.

Lalu, sejarah apakah yang dibuat Faisal, tokoh yang disebut Sadat “ensiklopedi berjalan” itu? Daya ingat pemimpin yang sejak usia 13 tahun sudah terjun ke dunia politik ini memang luar biasa. Ia masih sanggup menceritakan secara persis hal-hal detail, termasuk tanggal dan hari, juga merekonstruksi sebuah peristiwa atau percakapan yang terjadi 30-40 tahun sebelumnya.

Lalu sejarah apakah yang dibuat tokoh yang dalam berbagai pertemuan lebih banyak diam ini? “Tuhan memberi kita dua telinga dan satu lidah,” katanya, “Berarti, kita harus mendengar dua kali lebih banyak dari berbicara.” Akhir Agustus 1973, lima pekan sebelum Perang Oktober, Sadat kembali menekankan kepada Faisal bahwa dia dan Presiden Hafez Assad sudah sepakat melancarkan perang melawan Israel. Tapi, Faisal tidak begitu mantap. “Hafez itu bathis ( orang Partai Ba’ath) dan Alawi. Bagaimana Saudara bisa merasa aman terjun dalam satu kancah bersama dia?”

Toh, Sadat berusaha meyakinkan, sampai Faisal bertanya, “Baiklah, lalu peranan apa yang  diharapkan dari Saya?” Faisal juga meminta agar perang berlangsung panjang. Tidak hanya beberapa jam, atau satu dua hari, lalu  gencatan senjata.

Sejarah, kelak, memang mencatat bahwa  kemenangan Perang Oktober tidak ditentukan  tank-tank atau pesawat-pesawat tempur Mesir  dan Suriah maupun kehebatan taktik atau  kemampuan juang para prajurit Arab. Kuncinya  justru terletak pada keberanian Faisal.

Sebab, di bawah raja Arab Saudi itulah  negara-negara Arab pengekspor minyak melakukan embargo terhadap negara-negara  maju pengimpor minyak yang punya hubungan ekonomi dan politik dengan Israel. Banyak,  memang, yang meragukan keefektifan senjata  minyak yang digunakan Faisal dan kawan- kawan. Disangsikan juga apakah embargo bisa berlangsung lama. Amerika Serikat mencoba menyatukan sikap negara-negara Barat dan Jepang, di samping memecah negara-negara  Arab. Usaha itu gagal. Bahkan, barisan mereka berantakan. Prancis, Jepang, dan Jerman  Barat bahkan berpihak ke Arab. Mereka juga menuntut mundur pasukan Israel dari  wilayah-wilayah yang mereka duduki. Lebih  jauh, embargo yang dipelopori Raja Faisal  melumpuhkan perekonomian negara-negara  Barat.

Lahir 1906, Faisal adalah putra ketiga pendiri kerajaan Arab Saudi gelombang ketiga, Abdul Aziz bin Saud. Meski bukan putra mahkota, ia dipercaya menjadi panglima tentara. Dalam usia 19 tahun, ia sudah mencatat peranan besar, yakni dalam menaklukkan  Mekah (1925) dan kemudian Yaman (1934). Sesudah itu, ia diangkat menjadi menteri luar negeri. Berkat kemampuan diplomasinyalah Arab Saudi mendapat pengakuan dari negara-negara maju dan mempererat persahabatan dengan negara-negara Islam.

Ketika Abdul Aziz wafat, 1953,Putra Mahkota Saud bin Abdil Aziz naik tahta. Faisal menjadi perdana menteri. Saud, yang  suka foya-foya dan nyaris bikin negara  bangkrut, diminta mundur para ulama.  Kedudukannya digantikan Faisal pada 1964.  la memulai pemerintahannya ketika keuangan negara mengalami defisit. Tapi,10 tahun  kemudian ia bisa membukukan surplus USS 23 miliar. Pada akhir 1974 Faisal memang  mampu menaikkan harga minyak dari US$  1 menjadi US$ 10 per barel.

 Hidup, kata orang, tidak luput dari tragedi.  Pada 26 Maret 1975, Faisal roboh ditembak keponakannya sendiri. Ada yang mencatat sejarah. Ada yang membuat sejarah.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda