Cakrawala

Edward Said, Orientalis Pembela Arab dan Islam

Written by Panji Masyarakat

Di kalangan orientalis, tanggal 25 September mempunyai makna yang mendalam karena bertepatan dengan meninggalnya salah satu orientalis besar dunia, yaitu Edward Said. Ia meninggal pada  25 September 2003, dalam usia 67 tahun di New York City.

Kepergiannya memang sudah diperkirakan banyak orang jauh-jauh hari sebelumnya, karena dia menderita penyakit leukemia atau kanker darah. Ia meninggalkan seorang istri, Mariam C. Said, putranya, Wadie Said, dan putrinya, Najla Said. Said dimakamkan di Pemakaman Protestan di Broumana, Jabal Lubnan, Lebanon..

Dikenal dengan nama lengkapnya Edward Wadie Said, lahir pada 1 November 1935, dari Hilda Said dan Wadie Said, seorang pengusaha di Yerusalem, yang saat itu merupakan bagian dari mandat Inggris untuk Palestina. Wadie Said adalah seorang Palestina yang bergabung dengan Pasukan Ekspedisi Amerika dalam Perang Dunia I. Dinas militer masa perang ini memperoleh kewarganegaraan Amerika untuk ayah Said dan keluarganya. Ibu Edward, Hilda Said, adalah keturunan Palestina dan Lebanon, lahir dan besar di Nazareth, yang waktu itu merupakan wilayah kekuasaan Turki Utsmani (Ottoman).

Kritikus Ulung

Edward Said dikenal sebagai seorang kritikus ulung terhadap pikiran-pikiran para orientalis Barat yang telah banyak memutarbalikkan fakta tentang dunia Arab dan Islam.  Said adalah sosok yang turut memberi warna dalam pencitraan dan pembelaan bangsa dan rakyat Arab, tanah kelahirannya.

Gagasan-gagasan Said, yang tertuang dalam dua buku penting, Orientalism dan Culture and Imperialism, telah menimbulkan perdebatan yang sengit di kalangan para orientalis dan sarjana Barat. Ia mengakui dengan jujur bahwa buku tersebut ditulis dengan begitu emosional dalam menghadapi para sarjana Barat, khususnya Inggris, Prancis dan Amerika Serikat. Tidak heran, dalam latar belakang “sejarah pribadi” seperti ini, fokus studi Said adalah ”perlawanan” dan ”pemberontakan” terhadap karya para orientalis tiga negara besar tersebut, yang dianggap sebagai ”biang kerok” terhadap berbagai masalah dunia, bukan saja bagi Palestina, tetapi juga bagi dunia Islam.

Dalam kacamata Said, orientalisme adalah ilmu dengan kepentingan untuk “menguasai” bangsa-bangsa di luar Barat, terutama kawasan Arab dan Islam. Karenanya, pena para orientalis seolah-olah sama kedudukannya dengan para tentara perang, pedagang, dan pegawai pemerintah kolonial  yang datang untuk menyerbu dan menjarah bangsa lain.  Hal ini juga didukung dengan adanya dogma yang menyatakan bahwa ciri dunia Barat adalah rasional, berpikiran maju, berperikemanusiaan dan karenanya lebih unggul dari dunia orient (Timur, termasuk Islam) yang disebut memiliki ciri statis, irasional dan terbelakang.

Bagi sementara orang tidak mudah memahami antara orientalisme yang menjabarkan Islam sebagai fenomena kesejarahan dan antropologi struktural yang mempertunjukkan naturalisasi Islam. Ada sebagian kalangan yang menganggap Islam adalah Arabisasi Yudaisme. Atau juga seperti Islam yang dilihat dan dipahami oleh Geertz dalam memahami Islam di Maroko dan Islam di Indonesia.

Dalam kritiknya terhadap orientalisme, Said mengatakan bahwa Barat meletakkan identitas tunggal, esensial dan baku atas segala sesuatu yang berbau ketimuran; bahwa karakterisasi budaya ini keliru; dan bahwa ini mengandung kepentingan politik Barat, termasuk pembenaran imperialisme dan penegakan kembali kristianitas.

Banyak kalangan yang memuji terhadap ide-ide maupun aktivitasnya dalam membela rakyat Arab, khususnya Palestina, namun tidak sedikit pula yang marah dengan sikap Said tersebut karena dianggap akan menghalangi keinginan mereka. Dimata lawan-lawannya, analisis Said mengandung biasnya sendiri, dan kadang mengandung obsesi yang sangat berlebihan. Akan tetapi dimata para pembelanya, Said merupakan tokoh yang gigih membela dunia Arab dan Islam dalam melawan “kolonialisme intelektual” Barat.

Wajah Islam Dimata Orientalis

Tidak mudah untuk memetakan bagaimana respon kalangan Islam terhadap para orientalis. Hal ini disebabkan karena berbagai pengalaman sejarah telah memberi warna terhadap perkembangan umat Islam itu sendiri. Namun paling tidak ada tiga respons yang dapat dipetakan. Pertama, ekstrem menolak; Kedua, agak toleran tetapi kritis; ketiga, menerima seluruh pemikiran mereka. 

Kaum muslim yang mengkritik orientalisme mengatakan bahwa mereka tidak memiliki keraguan terhadap apa yang mereka yakini, dan mereka melihat ini sebagai konflik antara orang non Islam dengan orang Islam, yang diperuncing oleh beraneka ragamnya motivasi orang-orang non Islam, misalnya motivasi agama, politik atau budaya. Selain itu ada juga lapisan masyarakat yang melihat masalah tersebut sebagai bagian dari tantangan masa depan Islam.

Pertama, pandangan para orientalis yang meragukan keampuhan tradisi Islam untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen.

Kedua, adalah pandangan kelompok Islam konservatif (tradisional) yang ingin untuk menghidupkan kembali tradisi serta kejayaan masa lalu dalam setting modern masa kini. Kelompok ini berupaya menggali kembali khazanah intelektual Islam untuk dapat diterapkan dalam konteks kekinian, tanpa harus meminjam konsep-konsep Barat modern.

Ketiga, posisi ”jalan tengah” atau dikenal juga sebagai kelompok modernis, yang menganjurkan pendekatan interaksi positif antara tradisi Islam dan tradisi Barat modern, dalam pengertian menyaring konsep-konsep Barat yang positif untuk memperkaya dan memperkuat tradisi Islam sehingga mampu sebagai kekuatan alternatif.

Pengaruh pemikiran Barat (orientalis) terhadap pemikiran Islam juga cukup menonjol. Sejumlah tokoh muslim, antara lain Ali Syariati terpikat oleh fenomenologi Perancis dan Marxisme, Fazlurrahman tertarik dengan hermenutika, Sayyid Qutb meminati eksistensialisme, Zaki Najib Mahmud adalah eksponen pargamatisme yang terkemuka di dunia Arab, Muhammad ’Imara menggunakan rujukan historisme, sekalipun tidak secara konsisten, dan Khalid Muhammad Khalid menjadi salah satu eksponen rasionalisme liberal ternama di kalangan pakar Islam. 

Hasan Hanafi yang dikenal kalangan muslim tradisional sebagai seorang cendekiawan muslim sekuler dilihat dari pikiran-pikiran dan karya-karyanya, namun di mata Barat, ia dikenal sebagai seorang cendekiawan muslim yang kritis dan gigih dalam mengkritisi karya-karya mereka tentang Islam.

Dalam satu pertemuan tahunan cendekiawan ilmu-ilmu agama tahun 1997 yang diselenggarakan di New Orleans, Amerika Serikat,  yang dihadiri sekitar 8.000 peserta, ia menggugat panitia kenapa topik-topik dalam diskusi cenderung memojokkan Islam. Ia mempertanyakan apa motivasi panitia yang memilih beberapa topik yang sudah tidak relevan lagi dalam Islam? Mengapa panitia mengangkat contoh yang memberi kesan negatif terhadap tradisi Islam, padahal masih banyak topik yang relevan dan berarti dalam Islam yang patut disorot?

Harus diakuri bahwa Barat dengan kekuasaan globalnya tampaknya tidak mudah, atau tidak mungkin, untuk didikte atau diperintah oleh kalangan Islam. Hal ini disebabkan, baik karena kelemahan di kalangan negara-negara Islam, atau karena kekuatan atau kedigdayaan negara-negara Barat yang tidak Islam tersebut. Apalagi bila melihat fenomena saat ini bagaimana Amerika Serikat begitu amat berkuasanya, super power, di mata dunia dan hampir tidak ada dunia Islam yang berani melawan.

Belajar Memahami Islam

Menurut Ahmed, kalangan Islam saat ini harus mendorong Barat agar mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh kalangan Islam, dan  mau mencoba memahami Islam.  Mendengarkan dan memahami adalah dua sikap yang sangat penting dalam membangun peradaban dunia tanpa harus ada satu pihak yang mendominasi dan pihak lain yang merasa dijajah. Kemungkinan terselenggaranya dialog terbuka antara Islam dengan Barat sangatlah terbuka, walau harus diakui hal ini merupakan tugas yang tidak ringan, karena masih adanya kesenjangan pemahaman di Barat.

Kajian yang dilakukan oleh kalangan orientalis akan memberi manfaat bagi upaya untuk memahami, meskipun tidak mudah, mengenai politik budaya Barat, kekuatan yang terlampau sering disalahpahami sebagai sesuatu yang dekoratif dan elitis.

Atau seperti yang diungkapkan dengan bijak oleh Muhammad Naquib Al-Attas, bahwa kita tidak belajar Islam dari orientalis, tetapi hanya belajar aspek-aspek Islam tertentu dari mereka.

Yang pasti, katanya, kajian orientalis adalah kajian outsider, dan mustahil memiliki niatan yang baik untuk menegakkan kalimat Allah (li i’lai kalimatullah) atau untuk kejayaan Islam dan muslimin (’izzul Islam  wal muslimin).

Tugas Kalangan Muslim

Banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh kalangan Islam untuk menghadapi gerakan orientalisme.

 Mahmud Hamdi Zaqzug dalam bukunya ”al-Islam fi Fikr al-Gharbi” menyebutkan, bahwa kalangan muslim harus membuat proyek besar antara lain proyek ensiklopedia Islam, membentuk lembaga ilmiah Islam berskala internasional, menyediakan sarana untuk dakwah berskala internasional, melakukan dialog, mendirikan badan penerbitan Islam.

Hal ini juga didukung oleh Nasr, bahwa kalangan Islam mesti juga memperkuat bidang pendidikan, ekonom, sains dan teknologi,  dan seterusnya.  Wallahu a’lam.

Penulis : Agus Sholeh, alumni Pesantren Pabelan,  Magelang,  Jawa Tengah; pembina Pesantren Al Ihsan Anyer Banten, bekerja di Kementerian Agama. Penulis dapat dihubungi di email : agussholeh@yahoo.com

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda