Bintang Zaman

Ali Assagaff : Ulama Nasionalis Penghubung Habib Kwitang dengan Bung Karno

Mungkin nama Ustadz Ali Assagaff, tidak begitu terdengar namanya selama ini oleh kita. Juga namanya tidak setenar dan sekondang sahabat-sahabat keturunan Arab yang lain, seperti A.R.  Baswedan atau Hoesin Bafagieh. Tetapi perjuangan dan pengabdiannya bagi bangsa dan umat, tidak-lah kecil, terutama dalam perjuangan nasionalisme dalam Persatuan Arab Indonesia (PAI), tahun 1934.

Teringat oleh amanat dan suara hati A.R.  Baswedan, yang pernah menyatakan bahwa selama ini perjuangan PAI dan tokoh-tokohnya sering kali terlupakan dalam wacana sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dan juga pengakuan Baswedan bahwa sebenarnya keberhasilan perjuangan PAI selama ini, bukanlah semata karena ia pribadi, melainkan buah perjuangan tokoh-tokoh PAI yang selama ini terlupakan. Salah satunya adalah Ustadz Ali Assagaff ini, yang merupakan sahabat seperjuangan Baswedan.

Pada  1947, Baswedan menjadi salah satu  anggota misi diplomasi Kemerdekaan RI ke Mesir. Bersama-sama dengan H. Agus Salim, Dr.  Nasir Pamuntjak dan H.M.  Rasjidi. Misi diplomasi pertama Indonesia ini membuahkan hasil: Mesir  tercatat dalam sejarah sebagai negara pertama yang mengakui  kemerdekaan Indonesia. Setelah perjuangan diplomasi beberapa waktu di Mesir dari April hingga Juni, akhirnya Baswedan pun terbang kembali ke Indonesia dengan membawa dokumen perjanjian kerja sama. Setelah melalui beberapa transit dan kendala, akhirnya Baswedan pun mendarat di Lapangan Terbang  Kemayoran, Jakarta,  dan selamat melewati pengecekan tentara Belanda, dengan dokumen berhasil disimpan di dalam sepatu.

Tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa sesampainya di Kemayoran, Ustadz Ali Assagaff adalah orang yang pertama kali Baswedan telepon dan kemudian menjemputnya di Kemayoran. Dan kemudian mereka berdua langsung menuju ke rumahnya di Kwitang. Menurut penuturan putra Ustadz Ali, Baswedan dan ayahnya memiliki hubungan yang sangat dekat. Bahkan di rumah tersebut disediakan sebuah kamar khusus untuk Baswedan menginap setiap kali ke Jakarta.  

Sosok  Ali Assagaff

Nama lengkapnya adalah Ali bin Abdullah Assagaff, lahir di Kampung Margi Surabaya diperkirakan pada tahun 1900-an. Sedangkan sang ayah, Abdullah,  dilahirkan di Padang, Sumatera Barat.  Selama 10 tahun Ali belajar di Rubat Tarim, Yaman, dengan berguru kepada Habib Salim Abdullah As-Satri.  Setelah pulang ia diangkat menjadi kepala sekolah dan pengajar di Sekolah Oenwanoel Falah yang didirikan oleh Habib Ali Kwitang pada tahun 1918. Ia lalu diambil menantu oleh Habib Ali Kwitang, dengan menikahi putrinya Syarifah Zahrah binti Ali bin Abdurrahman Al Habsyi. Ustazd Ali pun menjadi murid dan orang terdekat kepercayaan Habib Ali Kwitang. Di tangannya pula, Sekolah Oenwanoel Falah menjadi sebuah sekolah Islam yang maju dan berkembang, bahkan membuka sekolah putra dan putri. Unwanul Falah sendiri telah banyak menghasilkan sejumlah ulama seperti KH Abdullah Syafi’i, KH Thohir Rohili, KH Zayadi Muhadjir, KH Ismalo Pendurenan, KH M. Naim Cipete dan masih banyak lainnya. Di antara mereka tidak hanya kondang di lingkungan masyarakat Betawi, tetapi juga masyhur di pentas nasional, bahkan sampai ke negeri jiran.

Ustadz Ali  sempat mendirikan sebuah majalah, yang diberi nama As-Shomil, hingga terkenal dengan nama Ali Shomil. Sayangnya sampai saat ini copy dari majalah tersebut belum pernah ditemukan.

Pada tahun 1934, Ustadz Ali bergabung dengan Baswedan dan sahabat-sahabatnya dalam  PAI, atau Persatuan Arab Indonesia yang kemudian berubah menjadi Partai Arab Indonesia. Hingga kemudian ia menjadi salah satu sahabat dan pendukung utama dari pergerakan PAI di Indonesia. Walaupun Ustadz Ali memiliki latar belakang pendidikan Islam tradisional  (Tarim),  ia memiliki cara berpikir dan pandangan yang cukup progresif pada zamannya.

Ia kemudian menjadi Pengurus Pusat PAI Cabang Jakarta dan dengan kemampuan berbahasa Arabnya yang luar biasa ia menjadi pembantu majalah terbitan PAI  Insaf, bagian Bahasa Arab. Dalam salah satu edisi majalah Insaf dituliskan sosok Ustadz Ali Assagaff sebagai seorang alim atau ahli dalam soal agama Islam yang memiliki banyak pengalaman dalam pesuratkabaran Bahasa Arab. Yang dimaksudkan di sini mungkin pengalamannya dalam majalah  As-Shomil.


Foto Ustadz Ali Assagaff & Lambang PAI yang masih tersimpan  (Koleksi Keluarga)

dI majalah Insaf  Ustadz Ali banyak menulis artikel tentang keislaman, khususnya dalam perayaan-perayaan hari besar Islam. Bahkan dalam majalah yang sama dikutip bahwa pada salah satu peringatan kelahiran PAI di Batavia di Gedung Muhammadiyah Kramat, Ustadz Ali menyampaikan pidatonya yang luar biasa tentang Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW. Selain tulisan tentang agama, ia juga menulis sebuah cerpen yang berjudul “Zainab, Isteri Yang Setia”. Cerpen ini menceritakan kehidupan putri sulung Rasulullah SAW, yang menikah dengan Abul ‘Ash bin Al-Rabi’. Selain juga tulisan dan artikel lain tentang perjuangan dan nasionalisme dalam menyebarkan semangat perjuangan PAI.

Setelah  PAI bubar pada tahun 1942, bertepatan dengan masuknya Jepang ke Indonesia, Ustadz Ali kembali mengurus Majlis Ta’lim Kwitang dan juga menjadi seorang penerjemah Bahasa Arab profesional. Menurut pengakuan salah satu cucunya, yaitu Ali Sharqi bin Muhammad Al Bagir Assagaff, sebagai seorang pakar Bahasa Arab, sang kakek juga pernah menjadi penerjemah Presiden Soekarno dalam beberapa kesempatan. Kedekatannya dengan presiden pertama RI inilah yang menjembatani kedekatan hubungan antara mertuanya, Habib Ali Kwitang dengan Soekarno tersebut. Menurut sebuah sumber, Ustadz Ali juga pernah menuliskan pembukaan salah satu ceramah Presiden Soekarno di lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas)  dalam perayaan  idul Fitri.

Sampai saat ini sang cucu masih menyimpan logo PAI yang terbuat dari kayu yang didapat dari ayahnya. Ustadz Ali bin Abdullah Assagaff meninggal pada 19 Agustus 1974 dan dimakamkan di Pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan, berdekatan dengan makam sang istri, Syarifah binti Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi.

About the author

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda