Aktualita

Memaknai Berita di Tengah Pandemi Covid 19

Written by Arfendi Arif

Sudah hampir dua tahun  kita hidup di tengah pandemi  Covid 19. Penderitaan dan kesulitan yang dirasakan cukup melelahkan. Kehidupan ekonomi terpuruk karena untuk berusaha terhambat oleh berbagai peraturan yang membelenggu ; anak- anak tidak bisa bersekolah karena dilarang berkumpul dan keramaian. Akhirnya terpaksa belajar di rumah melalui gadget yang membuat ribet dan menambah biaya untuk beli paket. Belum lagi orang tua repot ikut mengajar, bahkan orang tua yang “sekolah” menggantikan anaknya.

Di masa pandemi banyak orang sakit dan meninggal, yang wafat mencapai 138 ribu orang. Situasi selama covid ini sungguh mencekam, setiap orang dihantui was-was dan ketakutan. Ketakutan orang saat ini bukan hanya pada ketularan virus berbahaya dari Wuhan Tiongkok ini, tapi kehidupan ekonomi yang dirasakan cukup sulit. Tentu yang merasa kecemasan ini kebanyakan adalah masyarakat kecil, menengah ke bawah, yang hidup di sektor informal dan mereka yang bekerja secara mandiri. Kalau pekerja formal, kantoran dan  ASN (pegawai negeri) masih bisa tersenyum sumringah karena punya gaji tetap bulanan. Tetapi, mereka yang bekerja di sektor mandiri mendapat pukulan yang berat dengan aturan yang membatasi.

Keadaan yang memprihatinkan di masa pandemi ini selayaknya semua orang peduli pada kondisi bangsa yang terpuruk dan kehidupan rakyat yang tertekan. Terutama rasa prihatin ini sejatinya muncul dari para petinggi masyarakat  baik dari kalangan pemerintah, orang yang mampu secara ekonomi, mereka yang hidup dengan  gaji besar dan yang hidupnya sudah mapan. Rasanya, dari mereka diharapkan muncul sikap empati  dan mau menyisihkan sedikit hartanya untuk membantu mereka yang menderita karena situasi ini.

Rasa simpati selain ditunjukkan sikap dermawan dalam membantu mereka yang  terdampak Covid 19, juga harus diperlihatkan oleh para pertinggi sikap kompak dan serius ikut memikirkan mengatasi covid 19. Ini misalnya harus ditunjukkan dan menahan diri dari perilaku dan perbuatan yang bisa mengurangi konsentrasi pada penanganan Covid 19 dan menjauhkan usaha untuk membantu orang yang menderita karena Covid 19 ini.

Tetapi, apakah kepedulian, kekompakan dan rasa keprihatinan itu menjadi perilaku kalangan elit kita di tengah kesengsaraan ini?

Membaca beberapa berita yang menonjol dan menjadi perhatian publik harus kita akui bahwa elit kita masih belum bisa mengesampingkan diri dari kepentingan diri, kelompok, partai dan kekuasaan. Kita bisa melihat misalnya meskipun rakyat didera penderitaan karena Covid 19  tidaklah itu  mengurangi para politisi untuk memikirkan suksesi kekuasaan 2024. Sebagian dari mereka mulai mempromosikan diri, memajang foto atau baliho memperkenalkan wajah dan namanya agar dikenal secara luas, dan tentunya nanti berharap terpilih apakah sebagai presiden atau anggota DPR. Jelaslah bahwa di saat rakyat menderita dan kesulitan untuk bertahan hidup di tengah wabah ini, sikap elit kita yang kepincut dan memperlihatkan egonya untuk mengejar jabatan yang masih 3 tahun lagi menunjukkan  mereka tidak peduli pada apa yang dirasakan rakyat. Seharusnya mereka menahan diri dulu dan bukannya membangun opini politk di tengah suasana merisaukan seperti ini.

Hal yang sama juga membuat kita bertanya dengan munculnya berita beberapa waktu lalu bahwa pemerintah menganggarkan dana  Rp2 miliar untuk pengecatan pesawat kepresidenan,  demikian juga pemerintah mengalokasikan dana Rp 5 miliar untuk renovasi ruang kerja Menteri  Pendidikan Nadiem Makarim. Semua ini menjadi pertanyaan publik mengapa hal seperti ini harus menjadi prioritas. Bukankah di tengah banyak korban Covid 19 ini menolong rakyat yang mulai terseok-seok hidupnya dan terancam jiwanya harus lebih diutamakan ketimbang mengutamakan pengecatan pesawat dan renovasi ruang kerja, yang itu mestinya ditunda dulu. Kebijakan ini bisa saja dipahami oleh rakyat bahwa elit kita tidak perduli dan lalai dalam soal yang menyangkut keselamatan orang banyak.

Ada juga berita menarik yang ini juga  mengungkap transparansi dan keterbukasn anggota dewan. Penyanyi papan atas Krisdayanti yang sekarang menjadi anggota DPR membuka suatu yang cukup mengejutkan bahwa anggota dewan ternyata memiliki gaji dan tunjangan yang lumayan besar, termasuk besaran dana aspirasi dan uang kunjungan ke dapil. Gaji bulanan yang diberikan sebanyak dua kali mencapai Rp 75 juta rupiah, uang atau dana aspirasi Rp 450 juta, dan uang kunjungan ke dapil (daerah pemilihan) Rp 140 juta.

Data ini yang menunjukkan fasilitas yang didapatkan anggota dewan sangat memadai seharusnya memberikan tekanan kepada anggota dewan untuk bekerja lebih baik dan keras untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebab, di tengah kesulitan rakyat saat ini dengan beban ekonomi dan keluarga yang harus dipikul,, anggota dewan bisa hidup dengan nyaman dan terjamin kehidupannya. Maka, selayaknya mereka bekerja dengan baik untuk rakyat yang telah memilih mereka.  Paling tidak mereka harus menunjukkan sikap peduli  pada rakyat dengan meringankan beban mereka, apakah secara moril atau materiil menyumbangkan sebagian dari penghasilannya untuk membantu rakyat. Jadi, kedekatan itu jangan diperagakan hanya pada saat kampanye untuk menarik suara mereka, tapi juga harus dibuktikan kedekatan dengan rakyat itu di saat kesulitan seperti saat ini.

Yang juga harus diingatkan sebaiknya petinggi kita di saat suasana guncang seperti sekarang tidak lagi menambah beban dengan mengeluarkan ide-ide yang menyulut kontroversi dalam masyarakat. Seperti apa yang dilontarkan seorang pejabat belum lama ini bahwa semua agama sama di mata Tuhan, jelas membuat suasana menjadi riuh. Soal agama adalah masalah yang peka, menyangkut keyakinan dan kepercayaan,  dan semua orang akan cepat memberikan respon atau reaksi. Karena itu  menyampaikan pikiran dan pesan keagamaan harus ekstra hati-hati. Di tengah suasana kehidupan sosial yang sedang tidak kondusif sekarang,  tentu dituntut siapapun juga untuk bijak menyampaikan sesuatu sehingga tidak menambah permasalahan baru di tengah masalah yang masih dihadapi dan belum bisa diselesaikan.

Membangun kebersamaan, kekompakan dan  persatuan di saat menghadapi masalah yang berat merupakan ciri bangsa yang berkarakter dan memiliki budaya yang kuat untuk mengatasi masalah. Di negara kita tampaknya kita masih lemah dengan pola budaya ini. Meski jelas Covid 19 sudah menjadi ancaman nasional, tapi konsentrasi perhatian elit kita masih bisa pecah pada persoalan lain yang sekunder, terkadang tidak mendesak untuk disegerakan.

Bangsa yang memiliki karakter yang kuat biasanya cepat mengatasi masalah. Bangsa Jepang, misalnya, meski hancur setelah Perang Dunia II di bom Amerika Serikat, tapi cepat pulih membangun negaranya hingga menjadi negara industri yang maju.

Demikian juga negara Korea Selatan berubah menjadi negara industri yang kuat setelah Perang Dunia II. Padahal Korea juga mengalami persoalan yang hampir sama dengan Indonesia, dijajah Jepang dan mengalami perang saudara yang hebat, tapi kini menjadi salah satu negara yang kuat di bidang ekonomi dan industri ( lebih luas bisa dilihat dalam Arief Budiman, Negara dan Pembangunan, Studi tentang Indonesia dan Korea Selatan, Yayasan Padi dan Kapas, Jakarta, Juni 1991).

Jika sebuah negara ingin maju maka kemampuan menahan diri sangat diperlukan.  Dalam bidang ekonomi, misalnya, suatu negara yang tingkat pendapatan masyarakatnya  meningkat diperlukan budaya menabung,  yang itu tentu bermanfaat untuk membiayai pembangunan, bukan membelanjakan dan boros pada sektor yang konsumtif.

Hal ini juga berlaku ketika bangsa sedang menghadapi krisis ekonomi dan pandemi Covid19 saat ini, untuk fokus mengatasi masalah, bukan mengeluarkan kebijakan yang  tidak prioritas dan melempar wacana yang bisa  mengalihkan dari persoalan dan masalah pokok yang sedang dihadapi. Semoga.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda