Bintang Zaman

Syekh Al-Kalali: Pendiri Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara

Pada edisi Panji Masyarakat  No.  201, Juni 1976, Buya Hamka menulis sebuah artikel tentang majalah Islam pertama di Nusantara beserta tokoh pendirinya. Tulisan itu ditujukan untuk sahabatnya A.R. Baswedan. Mungkin sekali dikarenakan sang tokoh adalah seorang keturunan Arab dan juga memiliki semangat nasionalisme yang sama dengan Baswedan. Walaupun mereka berdua, berlainan masa.

Majalah itu  adalah  Al-Imam dan tokoh pendirinya adalah Syekh Muhammad bin Salim Al-Kalali. Majalah ini  terbit perdana pada 1 Jumadil Akhir 1324/ 23 Juli 1906,  dan dicetak di Percetakan Melayu Tanjung Pagar di Singapura, dengan menggunakan bahasa/tulisan Arab Melayu (Jawi). Tercatat Syekh Al- Kalali sebagai pendiri dan penyokong utama, sedangkan  penulisnya adalah Syekh Muhammad Thahir bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhariy. Seorang ulama Minangkabau, lulusan Al-Azhar, Kairo.

Dalam pendahuluannya, Syekh Al-Kalali menyatakan bahwa dia merasa terpanggil buat menerbitkan majalah Islam ini, untuk membangunkan bangsa dan kaumnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun. Rasa cintanya kepada wathan (Tanah Air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkannya, seperti dikutip dari tulisan Hamka dalam Panji Masyarakat edisi tersebut. Selain terlihat jelas semangat pembaruan Islam di dalam memerangi kebodohan, khurafat dan kejumudan di tengah-tengah umat Islam nusantara.

Al-Imam  tercatat sebagai majalah Islam pertama di Asia Tenggara dan disebut sebagai tonggak pembaru Islam di Nusantara atau Melayu-Indonesia. Sekaligus penerus dari ide-ide majalah sebelumnya, salah satunya majalah Al-Manar yang diterbitkan Rasyid Ridha di Mesir pada tahun 1315 H. Majalah tersebut mendapat respon yang cukup besar dan menjangkau wilayah-wilayah di luar Singapura. Tercatat sebagai agen-agen majalah tersebut:  Sayyid Muhammad bin Abdurrahaman bin Shahab di Batavia, Haji Abdullah bin Haji Ahmad di Padang Panjang, Dr. H. Abdul Karim Amrullah, ayah Hmka,  dan lain-lain. Al-Imam  berhenti terbit pada tahun 1909.

Dalam tulisannya, Hamka memperlihatkan kekagumannya pada Syekh Kalali. Ia memang pernah bertemu dengan sang tokoh pada 1930 dalam perjalanan dengan ayahnya ke Aceh. Saat itu ia barus berusia 22 tahun. Hamka menggambarkan bahwa wajah  Syekh Al-Kalali tampak  tua. Ia  juga menyebut bahwa Syekh Al-Kalali dapat disandingkan dengan nama-nama keturunan Arab yang lain, yang berjasa besar dalam perkembangan Islam di Nusantara,  seperti Syekh Abdush Shamad Al-Falimbani dan Syekh Muhammad Nuruddin Ar-Raniri.  

Syekh Al Kalali di Lhokseumawe

Bahkan Buya Hamka dalam ceramah ilmiah yang disampaikannya di hadapan hadirin Jam’iyyah Asy-Syubban Al-Muslimin di Kairo, Januari 1958,  mengenai pengaruh ajaran Syekh Muhammad ‘Abduh di Indonesia, ia juga tidak lupa menyebut peranan Al-Imam dan Syekh Al-Kalali. Dalam bukunya Ayahku, Hamka mengisahkan  majalah Al-Imam ini dalam satu bagian khusus.

Syekh Kalali atau nama lengkapnya adalah Syekh Muhammad bin Salim bin Mubarak Al-Kalali dilahirkan di Singapura pada tahun 1846. Ada beberapa sumber lain yang menyebutkan bahwa ia dilahirkan di Cirebon, tetapi sumber pertama dirasa lebih valid, yaitu Singapura. Keluarga (marga) Al-Kalali merupakan salah satu nama keluarga Hadhrami (yang berasal dari Hadhramaut, Yaman). Dalam catatan nasab keluarga Hadhramaut, disebutkan bahwa keluarga Al-Kalali (Kulali) ini berasal dari daerah Tubalah, Shihr.  

Syekh Kalali disebutkan sebagai seorang pengusaha besar yang sukses sekaligus seorang alim (ahli ilmu) yang gemar mengembara. Usahanya ada di Aceh, Cirebon dan juga Singapura. Ketika kecil ia sempat ke Hadhramaut dan juga melawat ke Madagaskar, di mana ia meneliti tentang kondisi umat muslim dan persamaan Bahasa Melayu dengan Bahasa Malagasi di sana. Sayyid Muhammad bin Abdurrahman bin Shahab banyak mengambil manfaat informasi darinya, khususnya tentang sejarah Alawiyyin di Madagaskar. 

Syekh Kalali juga dikenal sebagai seseorang yang banyak memiliki jasa dalam pengungkapan arkeologi Islam di Aceh. Bahkan disebutkan Snouck Hurgronje sering bertanya kepadanya tentang sejarah Aceh dan tulisan-tulisan di batu nisan Islam di Aceh. Dalam buku Arkeologi Islam di Nusantara karya Uka Tjandrasasmita disebutkan bahwa seorang peneliti Belanda, yaitu G.L. Tichelman (1940), dengan bantuan Syekh Kalali berhasil membaca nama sebuah nisan seorang wanita di Aceh yang selama itu belum bisa terpecahkan.   

Syekh Al-Kalali dan Al-Irsyad

Syekh Al-Kalali juga memiliki hubungan yang cukup kuat dan erat dengan organisasi pembaharu Islam yang lainnya di Indonesia, di antaranya  Al-Irsyad yang didirikan oleh Syekh Ahmad Surkati dan Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan.

Dikisahkan bahwa salah satu ulama besar Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, seorang ahli fikih & tafsir Al-Qur’an,  merupakan salah satu murid Syekh Al-Kalali. Di satu sumber disebutkan bahwa penambahan gelar Ash-Shiddiqi merupakan saran dari Syekh Al-Kalali. Bahkan disebutkan jika yang mengirimkan Hasbi ke sekolah Al-Irsyad pimpinan Syekh Surkati adalah Syekh Al-Kalali. Dari sumber lain diketahui bahwa pada tahun 1926, Syekh Al-Kalali mengantarkan langsung M. Hasbi berangkat  ke Madrasah Al-Irsyad di Surabaya. Hingga setelah pendidikannya dan kembali ke Aceh, M. Hasbi mendirikan sekolah Al-Irsyad di kampung halamannya dengan bantuan Syekh Al-Kalali, hingga akhirnya ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda.

Nasionalisme

Walaupun Syekh Kalali dilahirkan di Singapura dan memiliki darah keturunan Arab dari Hadhramaut, tetapi hal ini tidak mengurangi rasa cinta tanah air dan semangat nasionalismenya pada Aceh dan Indonesia. Bahkan hal itu terlihat jelas dalam salah satu tulisannya majalah Al-Imam:

“Sungguhpun kami ini bukan dari pada orang sini dari pihak keturunan, tetapi dari mereka itu dari pihak peranakan. Istimewa pula telah kami sukakan negeri mereka itu wathan (tanah air) bagi kami. Betapa tidak, padahal sudah meminum kami akan air susunya dan telah tumbuh daripadanya daging dan darah kami, dan telah terbit daripadanya ni’mat perhiasan kami. Tidaklah jadi terhutang kami kepada negerinya dan anak-anaknya?”.

Sungguh sebuah ungkapan dan pernyataan yang sangat dalam dan luar biasa. Pernyataan yang mengingatkan serta mengajarkan kepada kita semua untuk bagaimana mencintai tanah air. Pengakuan yang tulus dan sadar, berdasarkan keyakinan dan pemahaman Islam yang hakiki. Hal ini menunjukkan sebuah catatan baru, bahwa sebenarnya kebangkitan kesadaran nasionalisme di antara Indonesia keturunan Arab sebenarnya sudah ada jauh sebelum lahirnya Persatuan Arab Indonesia (PAI) oleh A.R. Baswedan, Husein Bafagieh dan yang lainnya, pada tahun 1934.   

Majalah Al Imam (koleksi Abdullah Batarfie)

Keluarga

Syekh Kalali sempat menikah dua kali. Yang pertama dengan Syaikha, wanita asal Penang dan yang kedua dengan seorang wanita asal Plered, Cirebon. Dari kedua pernikahan tersebut memiliki sembilan anak.  Anak laki-lakinya adalah As’ad, Abdul Muin, Abdul Hamid, Ahmad dan Umar, sedangkan yang perempuan, Ruqayah, Fatimah, Hamidah dan Aisyah (Ecun).

Putranya, As’ad atau Ustadz As’ad,  kelahiran  Cirebon 1904, merupakan salah satu tokoh, pengajar sekolah Al-Irsyad Cirebon dan sekaligus pendiri Yayasan Al-Irsyad Cirebon. Selain itu ia juga pernah mengajar di Sekolah Muhammadiyah di Alabio, Kalimantan Tengah. Ia juga menjadi  anggota Konstituante, perwakilan Masyumi tahun 1957-1959. Ustadz As’ad juga dikenal dengan karyanya, sebuah kamus Arab Indonesia yang sangat terkenal di Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1981 dan dicetak di Cirebon. Usatdz As’ad Muhammad Al-Kalali meninggal pada tanggal 4 Maret 1988.

Salah satu putri Syekh Al-Kalali,  Aisyah atau lebih dikenal dengan nama Ibu Ecun, juga dikenal sebagai salah seorang tokoh Wanita Al-Irsyad di Pekalongan. Salah satu perintis dan pendiri Ma’had Islam Al-Irsyad Tahfidz Al-Qur’an (khusus putri) yang bernaung di bawah Yayasan Wanita Al-Irsyad Al-Islamiyyah Pekalongan. Ustadz Abdullah Batarfie dalam salah satu tulisannya menyebutnya sebagai “Ummu Hafidzah wa syakhah Irsyadiyyah” atas jasa dan pengabdiannya.

Salah satu cucu  Syekh Kalali, dari putrinya Hamidah, yaitu (almarhumah) Faridah Afif (Kak Ipop) juga dikenal sebagai tokoh Wanita Al-Irsyad dan pendiri Pondok Pesantren Putri Al-Irsyad Al-Islamiyyah “Darul Marhamah” di Cileungsi Bogor.

Syekh Al-Kalali meninggal pada  November 1946 di Lhokseumawe Aceh, semasa perjuangan revolusi melawan Belanda. Ia dimakamkan di Gang Panti Asuhan Muhammadiyah di Desa Hagu Selatan. Tanah peninggalannya diwakafkan untuk tanah untuk Panti Asuhan Muhammadiyah Lhokseumawe yang mencapai sekitar 4.000  M2. Sayangnya makam tokoh pembaharu Islam ini  terlihat sangat tidak terawat dan bahkan sering terendam air ketika hujan. Bahkan namanya pun sudah mulai dilupakan. Hanya tertinggal sebuah foto yang saat ini masih terpampang di Gedung Hasbi Ash-Shiddiqi di Desa Mon Geudong, Banda Sakti, Lhokseumawe Aceh.

About the author

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda