Cakrawala

Menjadi Pejabat Ramah dan Dicintai Rakyat

Written by Arfendi Arif

Di beberapa media online kita membaca akhir-akhir ada oknum pejabat yang suka mengumbar kata-kata kasar dan kurang nyaman didengar. Kata-kata itu muncul bila dia tidak setuju dengan kritik yang disampaikan seseorang terhadap pemerintah. Di samping melontarkan kata kasar juga mendoakan orang masuk penjara dan ditimpa penyakit.

Seorang pejabat adalah pemimpin formal yang duduk di pemerintahan, yang tugasnya tentu adalah mensejahterakan rakyat dan  memberikan pelayanan. Pengkritik, siapapun dia jika berada di luar pemerintahan bisa juga dikategorikan sebagai rakyat.

Pejabat memiliki kekuasaan, namun dengan kekuasaan itu dia tidak boleh bersikap sewenang-wenang. Kekuasaan tidak boleh menjadikan seorang pejabat menjadi sombong dan angkuh. Karena itu dalam menghadapi kritik harus dihadapi dengan lapang dada dan menjelaskan dengan baik kebijakan pemerintah.

Etika pemimpin

Melihat munculnya kegaduhan antara masyarakat dan pejabat pemerintah maka sudah selayaknya seorang pejabat memahami etika sebagai pemimpin   Etika ini dimaksudkan supaya muncul saling pengertian dan pemahaman antara pejabat dan rakyat.

Salah satu pola komunikasi yang  terlihat menonjol terjadi  berbentuk konflik dan saling membela diri. Pada akhirnya yang terjadi  bukannya timbul pengertian, melainkan bersikukuh mempertahankan pendirian masing-masing. Bahkan, itulah yang terjadi lahirnya ungkapan-ungkapan kasar yang menimbulkan rasa luka, tercederainya perasaan dalam berkomunikasi di antara pejabat dan mereka yang melakukan kritisi. Ini jelas suasana dan atmosfer yang tidak menguntungkan bagi bangsa yang sedang membangun dan butuh suasana kondusif.

Seorang pemimpin harus menyadari–seperti kata George Terry–  tugasnya,  memengaruhi serta menggiatkan orang-orang dalam usaha bersama  mencapai tujuan. Dalam Islam seorang pemimpin disebut Imam (berada di depan)  karena sifat dan tempatnya selalu  untuk diikuti.

Pejabat negara adalah pemimpin yang diberikan amanah mengurus rakyat. Tugas ini sangat penting. Sebagai pejabat negara yang mengurus rakyat dan bangsa betapa sangat strategis tugas mereka. Di tangan mereka kunci kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Itulah sebabnya seorang pemimpin yang menjabat dalam urusan bangsa dan negara pada level atas sampai bawah harus paham dan menyadari betapa vital tugas mereka. Dan, kemajuan bangsa dan rakyat itu tidak mungkin terwujud kalau mereka bermusuhan dengan rakyat, atau tidak disukai rakyat. Karena relasi dan hubungan yang harmonis antar pejabat dan rakyat harus dibangun dan tercipta dengan baik. Ini menjadi syarat utama tercapainya usaha untuk mensejahterakan dan meningkatkan kemajuan rakyat dan bangsa. Suatu program pembangunan, kebijakan dan kegiatan yang diinisiasi oleh pemerintah mustahil akan berhasil tanpa partisipasi  dan dukungan dari rakyat.

Ada beberapa syarat dan kriteria untuk seorang pemimpin agar dicintai rakyat. Disamping syarat yang bersifat kompetensi dan keahlian, tentu syarat yang bersifat integritas dan moral juga tidak bisa dikesampingkan. Syarat integritas itu antara lain.

Pertama, memiliki sikap ramah dan santun. Sikap ramah dan santun dimaksudkan agar pemimpin itu disenangi rakyat dan diikuti kebijakannya. Kalau pemimpin bersikap kasar dan arogan maka apa yang diperintahkan akan diacuhkan. Benar apa yang dikatakan Al-Quran, ” Andai engkau berbudi kasar dan berhati kasat, niscaya mereka lari dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka dan mintakan ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan mereka ( Ali Imran:159).

Dalam ayat di atas dijelaskan  perilaku pemimpin harus memiliki sifat yang mengayomi, mengajak bermusyawarah dan mendengarkan aspirasi rakyat, dan memaafkan jika rakyat bersalah. Artinya, seorang pemimpin harus berlapang dada bukan mengajak berkonflik.

Kedua, bersikap adil. Syarat ini sudah menjadi ketentuan yang dianjurkan bukan saja oleh agama (Islam), tapi juga oleh para pemikir dan ketentuan formal perundang-undangan  Hadis Nabi mengatakan, makhluk yang dicintai Allah adalah imam yang adil, dan yang paling dibenci Allah adalah imam yang zalim. Seorang ilmuwan Islam Ibnu Khaldun menyebutkan beberapa syarat seorang pemimpin, salah satunya mampu bersikap adil. Kemudian, ketetapan MPRS No 13 tahun 1966 menyebutkan salah satu  syarat seorang presiden adalah berwibawa, jujur, cakap dan adil.

Adil artinya bersikap di tengah-tengah, tidak diskriminatif, memutuskan hanya atas dasar kebenaran. Keadilan dalam hukum, misalnya, tidak bersikap berat sebelah atau tebang pilih. Dalam istilah yang populer hukum itu tajam ke atas dan tajam ke bawah, bukan hanya tajam ke salah satunya saja.

Ketiga, orang berharap juga lahir pemimpin yang bijaksana. Prof. Dr. Rachmat Jatnika menyebutkan kebijaksanaan itu dalam Al-Quran disebut hikmah. Dan orang yang diberi hikmah adalah orang yang diberi banyak  kebijaksanaan. Lalu, Al-Quran ayat 269 surat al-,Baqarah terjemahan Depag ditulis,” Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.

Dari ayat di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa pemimpin yang bijaksana  dan memiliki hikmah adalah pemimpin yang memiliki pemahaman dan pengetahuan. Ia juga menggunakan rasio atau akalnya dalam memutuskan sesuatu, sehingga kepemimpinannya menghasilkan keputusan  yang tepat dan bijaksana.

Pertanyaan yang sering muncul dalam masyarakat adalah apakah ada harapan masyarakat dan rakyat terhadap.pemimpin. Atau, apa yang diharapkan pengikut atau rakyat terhadap pemimpinnya?

Michael Armstrong, dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia (PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 1988 hal. 92-93) mengungkap beberapa  hal yang harus diperhatikan. Pertama, seorang pemimpin harus sesuai dengan harapan masyarakat. Pemimpin harus berperilaku baik, tegas, adil, kokoh, penuh pertimbangan, ramah dan dapat didekati

Kedua, pemimpin itu harus merasa bahwa ia adalah bagian dari kami dan tidak merasa sebagai orang luar.

Sikap di atas penting sehingga seorang pemimpin dan rakyat merasa lebur dan menyatu. Dalam Islam contoh perilaku Khalifah ar-Rasyidin Ali bin Abi Thalib merupakan teladan yang baik. Meskipun ia seorang khalifah, tapi hidupnya sangat sederhana. Baik pakaiannya, makanannya tidak ubah dengan rakyat miskin dan jelata. Ketika ditanya kenapa ia memilih hidup bagai  orang papa, meskipun kedudukannya  sama seperti raja,  ia menyatakan,” Aku lebih suka hidup seperti ini agar orang yang paling miskin merasa puas dengan nasibnya dan merasa gembira karena ia mengetahui pemimpinnya pun hidup miskin dan memakan makanan  yang serupa dengan rakyatnya”.

Bila dikonfrontasikan dengan kehidupan para pejabat sekarang, tentu sangat kontras. Para pejabat memiliki kekayaan harta berlimpah  dengan berbagai macam asset yang luar biasa banyak, sementara rakyat banyak yang miskin, untuk berusaha saja sangat sulit.

Ketiga, pemimpin merupakan orang yang terbaik. Dia harus memperlihatkan bahwa ia seorang pakar, memiliki kemampuan, dapat mengarahkan dalam  kepemimpinannya untuk kemajuan.

Fakta sejarah menunjukkan, sebuah bangsa bisa maju dan sejahtera karena pemimpin. Jika masalah kepemimpinan di suatu bangsa masih labil dalam proses sirkulasinya, sistem politik tidak mampu memilih orang terbaik, maka bangsa tersebut  sangat berat untuk mencapai negara sejahtera, moderen dan maju.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda