Mutiara

Al-Hallaj, Sufi yang Mati di Tiang Palang

Written by A.Suryana Sudrajat

Sejatinya tidak mudah mengkafirkan orang, atau menghalalkan darahnya. Selain tergesa-gesa, penghukuman seperti itu hanya dilakukan orang bodoh.  

Saatnya bagi orang tua itu hampir tiba. Dari penjara ia dibawa ke sebuah lapangan. Penonton penuh. Kepala Polisi Muhammad ibn Abdul Shamad lalu mengantarnya ke tempat eksekusi. Ketika hukuman akan dilaksanakan, orang tua itu melihat kawannya, Abu Bakr Asys-Syibli.

“Kamu bawa sajadah?”

“Ada,” kata Asy-Syibli.

“Bentangkan.”

Ia pun sembahyang. Padarakaat pertama, ia membaca ayat: “Walanabluwannakum bi syai’in minal khufi wal ju’i (Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan).” (Q.S. 2: 155). Pada rakaat kedua ia melantunkan ayat: “Kullu nafsin dza’iqatul maut (setiap jiwa akan merasakan mati).” (Q. 3: 185).

Usai salat, laki-laki tua itu bersyair. Suasana pun menjadi larut, tetapi itu hanya beberapa saat. Seoran algojo yang sudah tidak sabar menampar si terhukum dengan gagang pedang. Darah pun muncrat. Orang-orang memekik dan bahkan ada yang pingsan. Anehnya, dia tampak tidak mengaduh. “Kalian telah melaksanakan hukum yang pantas terhadap orang-orang yang kalian duga melanggar hukum,” katanya dengan tenang. “Memang, siapa pun yang dianggap melanggar hukum sudah sepatutnya dihukum.”

Lalu, algojo meneruskan tugasnya. Ia mematahkan kedua tangan dan kaki si terhukum. Tidak terdengar keluhan dari orang yang dipastikan mendapati ajalnya itu. Kemudian tubuh yang sudah lunglai itu dinaikkan ke tiang palang: mirip ketika Nabi Isa dulu disalibkan setelah beberapa saat tidak sadarkan diri, lelaki tua itu siuman. Darah masih mengalir dari muka dan bekas pemakuannya. Banyak yang masih berkerumun di bawah tiang salib itu, terutama para pengikutnya.

“Guru, kami ingin mendengar apa pendapatmu yang terakhir mengenai tasawuf,” kata salah seorang muridnya.

“Yang kamu lihat inilah arti tasawuf yang paling mudah,” jawabnya terbata-bata. Kepalanya lantas terkulai. Ia mati. Jenazahnya dibiarkan tergantung. Beberapa hari kemudian jenazah itu dibakar dan abunya dilarung ke Sungai Tigris.

Tidak syak, itulah akhir hidup Husain ibn Manshur Al-Hallaj. Dia dieksekusi pada18 Dzulqa’dah 309 H (921 M). tuduhan yang dialamatkan kepada Al-Halaj adalah: (1) ia punya hubungan dengan kaum Qaramitah, satu sekte Syi’ah yang berpaham mirip komunis sekarang; (2) diyakini pengikutnya punya sifat ketuhanan; (3) sehubungan dengan ucapannya yang dianggap menyesatkan, seperti Ana al-Haqq (Akulah Yang Mahabenar); (4) ibadah haji tidak wajib.

Lahir di Baidha, kota kecil di Persia (Iran),  sekitar  tahun 244 H/858 M, kemudian ia menetap di Bagdad, setelah mengembara ke berbagai negeri. Di kota ini  ia berguru antara lain kepada sufi besar Junaid Al-Bagdadi. Pada usia 53, Al-Hallaj bikin geger para ulama, terutama ahli fikih, berkenaan dengan ucapan-ucapannya yang dianggap “aneh”. Ia, misalnya,  mengatakan, “Di jubah ini, tidak ada kecuali Allah.”

Salah satu ulama yang paling keras menentangnya adalah Ibn Daud Al-Isfahani yang punya pengaruh besar pada Khalifah Al-Muqtadir. Atas perintah Khalifah pula, Al-Hallaj ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Pada tahun 910 M, ia berhasil kabur atas bantuan seorang sipir yang simpati pada ajarannya. Al-Hallaj tinggal di daerah persembuniannya di daerah Ahwaz, tetapi empat tahun kemudian dibekuk kembali. Delapan tahun Al-Hallaj mendekam di bui, sebelum akhirnya dihukum mati.

Menurut Al-Hallaj, Allah mempunyai dua natur atau sifat  dasar: ktuhanan (lahut) dan kemnusiaan (nasut). Sebaliknya, manusia juga punya sifat ketuhanan dalam dirinya. Kata Al-Hallaj, manusia dan Tuhan bisa bersatu, seperti menyatunya api dan besi di saat sedang dipanaskan. Allah memberi perintah kepada malaikat agar bersujud kepada Adam, menurut dia, karena pada diri Adam Allah menjelma, seperti Dia selaras dalam Kristus. Persatuan ini dalam falsafah Al-Hallaj disebut hulul (mengambil tempat).

Meski Al-Hallaj mengatakan, “Ana al-Haqq”, tidak sendirinya dia mendakwakan dirinya Tuhan. Katanya, “Aku adalah rahasia Yang Mahabenar dan bukanlah Yang Mahabenar itu aku. Aku hanya satu di dari yang benar, maka bedakanlah antara kami.”

Kendati begitu, ucapan-ucapan Al-Hallaj itu dianggap mengganggu ketenteraman umum. Apalagi dia menjadi simbol opisisi orang banyak yang sudah muak dengan gaya hidup penguasa yang tenggelam dalam kemewahan. Jadi, selain soal “penyimpangan ajaran”, faktor politik ikut menentukan perjalanan Al-Hallaj ke tiang palang.

Tapi, bisakah Al-Hallaj dituduh kafir atau musyrik? Ulama-ulama “garis keras” seperti Ibn Taimiyah cenderung mengatakan demikian. Al-Hallaj sudah mempersekutukan dirinya dengan Tuha. Oleh sebab itulah ia pantas dihukum mati. Bagaimana dengan ulama lainnya?

Ibn Syuraih, pemuka mazhab Maliki, mengatakan, “Ilmu saya tidak mendalam tentang dirinya, karena itu saya no comment saja.” Pendapat simpatik diberikan Al-Ghazali sewaktu ditanya soal Ana al-Haqq. “Ucapan seperti itu keluar lantaran cintanya yang sangat kepada Allah. Jika cinta sudah demikian mendalam, maka tidak dirasa lagi jarak antara yang mencintai dan yang dicintai.”

Mestinya, seperti diungkapkan Ad-Damiri, memang bukan hal mudah menuduh seseorang keluar dari Islam. Tergesa-gesa menjatuhkan hukuman seperti itu, kata pengarang Hayatul Hayawan itu, merupakan perbuatan orang bodoh. Ya sama stupid-nya dengan politisi yang menghalalkan darah lawan politiknya.      

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda