Cakrawala

Pers Berkualitas dan Berita Cekcok Rumah Tangga

Written by Arfendi Arif

Dalam beberapa waktu terakhir kita sering membaca berita kehidupan rumah tangga di publish media. Terutama yang diekspos adalah berita seputar konflik dalam kehidupan suami istri. Dan, umumnya yang disasar adalah kehidupan rumah tangga kalangan atas atau para tokoh dan selebriti.

Berita tersebut biasanya mengungkap latarbelakang persengkataan, baik karena faktor ketidakcocokkan, faktor atau dugaan perselingkuhan, soal harta dan lainnya. Persengketaan ini jika  sangat serius biasanya melibatkan juga pengacara atau penasehat hukum untuk membela kliennya masing- masing.

Yang memicu persoalan rumah tangga ini menjadi tegang, karena masing-masing para pihak juga saling mungumbar persoalan internal mereka ke media dan juga medsos sehingga problem  dalam rumah tangga mereka akhirnya diketahui atau menjadi konsumsi umum. Di sini nitizen ikut berkomentar sehingga masalah yang seharusnya disimpan dan diselesaikan secara  kekeluargan menjadi ramai dan mungkin ikut memicu ketegangan bagi yang bersangkutan.

Memang yang disorot dan perhatian media adalah kehidupan rumah tangga para tokoh masyarakat, fublik figur, yang dalam konteks sosiologis merupakan pribadi yang mendapat perhatian lebih.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sedang membangun,  aspek kontens informasi yang dibutuhkan adalah yang memiliki nilai-nilai positif untuk membentuk karakter dan etos konstruktif.

Munculnya berita-berita konflik rumah tangga memang tidak berdiri sendiri. Terkait juga dengan dunia bisnis media dan informasi dalam rangka mencari rating pembaca dan pemirsa.

Dunia pers dan media umumnya di Indonesia masih terkait dengan prinsip the bad news is the good news,  yaitu konsep menayangkan berita-berita yang ada unsur-unsur menyimpang dalam.masyarakat, yang itu ada unsur mencolok dan diyakini disukai pembaca. Demikian juga unsur nama   membuat berita  (names make news) juga cukup berpengaruh.

Pakar komunikasi dan tokoh pers nasional Dja’far H. Assegaff dalam bukunya Jurnalistik Masa Kini mengemukakan ada beberapa unsur yang menarik dalam berita. Dari 12 unsur yang disebutkannya  4 di antaranya adalah unsur ketegangan, pertentangan, seks dan emosi.

Unsur ketegangan digunakan wartawan untuk memperbesar oplag atau tiras. Berita perampokan misalnya menimbulkan ketegangan pada pembaca untuk mengetahui bagaimana perkembangannya dan tindakan polisi.

Berita olah raga misalnya adalah unsur yang melibatkan pertentangan, demikian juga berita politik seperti pemilihan presiden, gubernur, bupati dan walikota. Bahkan, berita politik sekarang ini di masyarakat kita telah menimbulkan pembelahan dalam mayarakat, seperti terungkap dalam sebutan cebong dan kampret.

Unsur-unsur lain dalam berita yang menimbulkan daya tarik adalah segi seks dan emosi. Dulu seks itu dianggap tabu dan tertutup, sehingga hal yang berkaitan dengan  sesuatu yang dirahasiakan selalu menarik untuk diberitakan. Kini masalah seks tampaknya sudah bukan hal yang tabu lagi, justru dengan adanya internet masalah seks dan pornografi sudah sangat sulit dikontrol. Tapi, masalah seks ini sekarang tetap menjadi pilihan berita jurnalistik, terutama dihubungkan dengan berita kehidupan seks para selebriti, terutama artis dan bintang film.

Masalah emosi terkait dengan rasa simpati orang, bisa terjadi ketika ada bencana alam, kecelakaan, kebakaran dan lainnya, yang menimbulkan korban jiwa maupun harta. Simpati orang juga bisa timbul bila seseorang mendapat perlakuan yang tidak adil, tidak manusiawi, terzalimi dan semacamnya. Unsur emosi dan simpati ini juga diolah dalam berita sehingga pembaca turut larut mengikutinya.

Berita percekcokan dalam rumah tangga para tokoh selebriti yang akhir-akhir ini di blow up oleh media bisa jadi menimbulkan dua sisi bagi pembaca. Pertama, simpati pada satu pihak dan antipati pada pihak satu lagi. Namun, terlepas dari dua sisi tersebut sesungguhnya pentingkah berita seperti itu ditayangkan? Jika media gencar dan rutin mengangkat soal ini pastilah pertimbangan faktor pasar dan pertimbangan tiras media. Jika pada media online tentu hanya mengejar jumlah pengunjung atau pembacanya saja. Dua-duanya jelas bersifat bisnis dan memperlakukan berita sebagai komoditi.

Jika media mengembangkan visi idealisme,  tentu berita-berita yang bersifat pribadi dan wilayah privat ini tidak akan ditayangkan. Sebab, berita seperti ini dianggap kurang kondusif dalam negara yang sedang membangun. Lagi pula, di masyarakat kita mengumbar persoalan dalam keluarga atau rumah tangga dianggap sebuah aib dan tercela.

Demikian juga pers atau media harus mendidik masyarakat dengan konten berita yang mendidik dan mencerdaskan, tentu dengan informasi yang bermanfaat bukan semata mengajar tiras,oplaag atau pengunjung media online.

Seorang tokoh pers pernah mengatakan bahwa media yang baik yaitu quality of press, yaitu pers berkualitas yang muatan beritanya mencerdaskan dan meluaskan wawasan. Sudah saatnya pers dengan berita yang sensasi dikurangi, dan kalau bisa dihilangkan, sehingga dengan media yang menekankan kualitas masyarakat pembaca mendapatkan infomasi bermutu.

Dengan membangun pers berkualitas konten berita percekcokan rumah tangga dipastikan tidak mendapat tempat. Karena berita yang diutamakan adalah yang memiliki efek kemajuan bangsa. Kita juga mengharapkan masyarakat tidak mengangkat ke luar persoalan pribadi khususnya persoalan yang ada dalam rumah tangga. Medsos seperti FB Twitter, Instagram dan lainnya jangan dijadikan wadah untuk membuka rahasia diri kita. Sebab, tidak jarang pula medsos ini menjadi sumber berita bagi media untuk memfollow-up berita persengketaan rumah tangga hingga perceraian artis dan para tokoh masyarakat.

Hadirnya pers yang berkualitas dan masyarakat menahan diri untuk tidak membuka aib rumah tangga keluar,  adalah kunci berita konflik keluarga tidak diminati di jagat berita

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda