Cakrawala

Waktu yang Menguntungkan dan Merugikan

Written by Arfendi Arif

Demi masa!
Sesungguhnya manusia dalam kerugian
Kecuali orang yang beriman, beramal shalih
Dan saling mengingatkan
dengan kebenaran dan kesabaran
(Al-Quran surat al-Ashr)

Demi masa! Ini menunjukkan kalimat bersumpah, pernyataan yang serius dan masalah yang sangat penting, bahwa waktu yang tidak digunakan dengan baik akan mendatangkan kerugian bagi manusia.

Untuk mendalami filosofi ayat ini kita kutipkan keterangan Buya Hamka mengenai latarbelakang turunnya ayat (asbabun nuzul). Pertama, ada yang mengartikan ayat ini ” demi waktu ashr”, yaitu waktu sore hari, saat waktu shalat ashr. Dalam tradisi orang Arab, saat sore ini adalah waktu santai untuk berbincang-bincang, bercerita, ngobrol-ngobrol yang tidak karuan atau ngrumpi.

Ngobrol yang tidak terkontrol biasanya melewati batas, menyinggung lawan bicara yang akhirnya berujung percekcokan, dan tidak jarang  menimbulkan permusuhan dan persengketaan. Karena acapnya terjadi keributan di sore hari akhirnya orang Arab menilai  waktu sore sebagai waktu yang sial, waktu tidak baik , waktu yang tidak membawa keberuntungan. Maka, turunlah ayat ini yang menyatakan Allah bersumpah bahwa semua waktu itu adalah baik, hanya manusia yang membuat waktu menjadi tidak baik alias terbuang sia-sia, bahkan menimbulkan percekcokan antar sesama.

Penafsiran kedua yang mengartikan al-Ashr demi masa. Masa artinya zaman, periode, kurun waktu, misalnya pemerintahan Indonesia masa Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi. Dalam kehidupan manusia, kita melalui masa kanak-kanak, masa remaja, masa berkeluarga,  masa tua dan lainnya.

Tuhan bersumpah dengan menyebut Masa artinya, agar kita berhati-hati dan memanfaatkan setiap periode dalam kehidupan kita dengan baik. Seorang psikolog muslim Ali Fikry dalam bukunya Al Insan menguraikan periode kehidupan manusia dibagi ke dalam dua belas masa. Yaitu masa kanak-kanak (sejak lahir sampai usia 7 fahun), masa bicara (8-14 tahun), akil baligh (15-21 tahun), masa syabibah (adolesen, 22-26 tahun), masa rujulah (pemuda pertama, dewasa, 29-35 tahun), masa pemuda kedua (36-42 tahun), masa kuhulah (43-49 tahun), masa umur menurun  (50-56 tahun), masa kakek-kakek dan nenek-nenek pertama (56-63 tahun), masa kakek-kakek  dan nenek-nenek kedua (64-75 tahun), masa harom (pikun, 75-91 tahun), dan masa meninggal dunia.

Setiap orang akan melalui masa atau periode kehidupan ini. Tentu, ada yang meninggal dunia pada periode atau masa tertentu, baik pada periode sejak lahir, masa pemuda, atau nenek-nenek. Tetapi, yang jelas bahwa Allah bersumpah Demi Masa  artinya agar manusia memperhatikan-tahap atau periode-periode kehidupan tersebut, jangan biarkan berlalu begitu saja, apalagi menyia-nyiakannya dengan melakukan pekerjaan yang tidak berguna, apalagi perbuatan yang merusak, sehingga merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

Masa remaja dan masa muda harus menyiapkan diri untuk memasuki masa berkeluarga dan masa tua, apakah dengan bekal kesiapan secara ekonomi, keterampilan dan pendidikan sehingga hidup tidak mengalami kesulitan yang menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Tuhan bersumpah Demi Masa itu artinya betapa Tuhan memperingatkan manusia pentingnya memperhatikan fase-fase atau periode-periode kehidupan yang dilalui ini untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tetapi, dalam ayat kedua surat al-Ashr Allah mengatakan,” Sesungguhnya manusia dalam kerugian “. Ayat ini mengingatkan perilaku manusia dalam menjalani hidup ini yang kerap tidak telaten dalam memanfaatkan waktu sehingga terjadilah kerugian yang berakibat penyesalan.  Misalnya, lihat saja fase-fase kehidupan yang dilalui manusia tidak selamanya dimanfaatkan secara baik sehingga ketika ia masuk sebuah fase tertentu dalam hidupnya, timbul sesal yang dalam. Contohnya, ada orang yang meratapi hidup di hari tuanya yang selalu menderita karena waktu muda tidak mau belajar dan sekolah secara sungguh-sungguh sehingga tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk mencari nafkah.

Namun, Allah mengingatkan bahwa hidup yang dijalani manusia itu sendiri tidak lepas dari kerugian. Ketika seorang lahir ke dunia, ia menangis sebagai simbol kepedihan  karena keluar dari zona kehidupan yang tenang masuk ke dalam dunia yang harus dihadapinya penuh tantangan.

Umur manusia yang memiliki batas tertentu, dengan lahir ke dunia maka pada hari pertama ia hidup, sudah berkurang satu hari, ini adalah kerugian pertama. Hari-hari berikutnya berbagai kerugian pun beruntun menyergap manusia, dari hidup waktu kecil yang ditanggung orang tua selanjutnya manusia menjalani masa kehidupan berkeluarga, swadaya berdiri sendiri, beranak, punya cucu, tua, sakit-sakitan, pikun dan akhirnya meninggal.  Bila usia manusia singkat,dan tidak pula hidupnya bermakna maka kerugian tentu cepat pula datangnya. Sedangkan usia panjang yang tidak bisa melakukan apa-apa, baik untuk diri sendiri, maupun bagi orang lain, jelas merupakan kerugian pula, apalagi kalau hidup ditanggung orang lain, tentu hanya menjadi beban yang menyusahkan.

Terkadang ada orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh mengumpulkan harta, membeli rumah, tanah, mobil dan perhiasan sehingga kekayaannya lumayan banyak, tetapi ketika musibah datang  ditimpa penyakit  yang memerlukan biaya pengobatan ratusan juta, bahkan sampai berobat keluar negeri, hartanya habis terjual hanya untuk biaya berobat. Maka habislah dalam sekejap materi yang dikumpulkannya bertahun-tahun bekerja mulai sejak usia muda. Jadi, benarlah bahwa hidup manusia selalu dibayangi dan digeluti oleh kerugian. Belum lagi kerugian yang diderita bencana alam yang datang mendadak seperti gempa, tsunami yang menghabiskan miliaran kerugian dan ratusan ribu nyawa manusia yang hilang dalam seketika.

Kalau hidup yang dijalani manusia selalu diliputi kerugian, apa makna kehidupan ini, lalu siapakah yang memperoleh keberuntungan dalam hidup? Dalam ayat berikutnya Allah memang mengecualikan ada orang-orang yang tidak akan mengalami kerugian. Allah menyatakan,” Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling mengingatkan dengan kebenaran dan saling mengingatkan dengan kesabaran”

Dalam ayat ini Allah berbicara dalam tataran filosofis yang amat dalam. Empat kata kunci yang menjadi syarat bagi orang-orang yang tidak akan mengalami kerugian dalam hidup, yaitu orang yang beriman, beramal shalih, saling mengingatkan dengan kebenaran dan kesabaran.

Orang yang beriman adalah orang yang meyakini bahwa kehidupan bukan hanya di dunia, tapi juga ada kehidupan lain yaitu kampung akhirat. Dan, bahkan disinilah kehidupan yang kekal, sedangkan kehidupan dunia hanyalah sementara dan tempat untuk mencari bekal buat kehidupan akhirat. Seorang yang beriman meyakini adanya Allah, dan hidupnya ini juga atas kehendak Allah, dan ia hadir di dunia ini dengan motivasi untuk beribadat kepada Allah.

Dengan keimanan seseorang merasa hidupnya memiliki tujuan dan mempunyai makna, yaitu mengabdi kepada Allah dan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki  dalam kehidupan nanti. Dengan kepercayaan yang tulus kepada Allah ini mendorong pula seseorang untuk melakukan amal shalih. Amal shaleh adalah perbuatan atau tingkah laku yang terpuji, karya yang bermanfaat dan berfaedah bagi manusia. Keyakinan dan iman yang tulus kepada Allah mendorong seseorang untuk berbuat baik dalam kehidupan, karena ia sadar Tuhan akan menyayanginya jika ia melakukan sesuatu perbuatan yang membawa kebahagiaan bagi manusia. Di dunia ini hanya ada dua perbuatan, yaitu perbuatan baik dan perbuatan jahat, dan Tuhan senang dengan perbuatan baik. Karena itulah seorang yang cinta kepada Allah akan selalu merangsang dirinya untuk berlomba-lomba mengakumulasi sebanyak-banyaknya perbuatan yang baik itu, dan membuang sejauh-jauhnya perbuatan yang menimbulkan kebencian dan kesengsaraan manusia. Dan manusia yang beramal shalih, itulah manusia yang tidak ada ruginya. Di dunia namanya akan dikenang, meskipun ia telah tiada, bahkan bisa jadi namanya abadi dan tidak dilupakan orang. Ia dianggap hidup, walaupun raganya telah tiada.

Selanjutnya, orang yang tidak merugi adalah orang yang selalu saling mengingatkan tentang kebenaran dan tentang kesabaran. Kebenaran adalah kunci terciptanya kedamaian dan kesejahteraan dalam hidup. Tetapi, menyampaikan kebenaran dan menerima kebenaran bukan hal yang mudah. Ada orang yang tidak mau menyampaikan kebenaran, sekalipun ia tahu orang lain berbuat salah. Sebab, kalau kebenaran disampaikannya mungkin akan menggoyahkan kedudukannya, karena itu ia mungkin lebih senang membenarkan orang lain, bersikap yes man karena mencari jalan selamat. Tapi, apakah ia sadar bahwa dengan menyembunyikan kebenaran ia telah membiarkan terjadinya kerugian karena membiarkan seseorang berbuat atau berperilaku yang tidak benar.

Dengan saling mengingatkan tentang kebenaran sebenarnya terjadi proses pembinaan dan penyempurnaan diri. Seseorang diingatkan kelemahan-kelemahannya sehingga kemungkinan ia melakukan kesalahan semakin kecil. Nah, bukankah saling mengingatkan tentang kebenaran ini menyebabkan orang makin dewasa dan matang dalam bersikap dan berperilaku. Jadi,  amat tepatlah ayat ini yang mengatakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang selalu saling mengingatkan terhadap kebenaran, sebaliknya orang yang merugi adalah orang yang menyembunyikan kebenaran dan tidak mengingatkan kesalahan orang lain.

Kemudian orang yang beruntung adalah orang yang saling mengingatkan tentang kesabaran. Kesabaran adalah sikap untuk tidak cepat putus asa. Hidup ini penuh cobaan dan kesulitan, tidak selamanya hidup berjalan mulus, apapun yang dikerjakan pasti ada hambatan dan rintangan. Teman, sahabat, saudara yang mau mengingatkan kita agar bersabar dalam setiap keinginan yang sedang kita perjuangkan, atau kesulitan hidup yang sedang kita hadapi, adalah teman sejati yang patut kita hargai.

Sikap sabar tidak mudah dimiliki. Perlu latihan untuk mengendalikannya,  Dalam masyarakat yang materealistik  sekarang ini banyak cobaan  yang merangsang naluri dan hasrat ego manusia untuk dipuaskan. Terkadang, karena manusia tidak mampu untuk mengontrolnya maka yang terjadi adalah berbagai penyimpangan yang merendahkan harkat manusia dalam bentuk-bentuk perbuatan yang melanggar susila, kehormatan dan kekerasan-kekerasan yang melahirkan tragedi kemanusiaan yang menyedihkan. Dengan ayat ini kita diingatkan betapa kesabaran menjadi sikap yang amat penting dihayati dan dimiliki saat ini.

Surat al-Ashr ini meskipun pendek, tapi dikagumi para sahabat, mufassir, filosof, pemikir dan ulama. Para sahabat Rasulullah bila hendak berpisah maka salah seorang di antaranya membaca surat al-Ashr, setelah itu baru bersalaman tanda berpisah. Menurut Muhammad Abduh, maksudnya adalah bahwa para sahabat itu saling mengingatkan pentingnya keimanan, beramal shalih, kebenaran dan kesabaran dalam hidup.

Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku SD, bila usai pelajaran sekolah sebelum pulang kami dipimpin oleh guru membaca surat al-Ashr bersama- sama. Sayangnya, kami tidak mengetahui apa maksudnya membaca ayat ini. Sekarang baru saya paham, tujuannya adalah agar kami menghargai waktu dan memanfaatkannya  sebaik mungkin.

Filosof Islam Ar-Razi, juga mengagumi ayat ini. Menurutnya, jika keempat kata kunci dalam surat al-Ashr  ini, keimanan, amal shalih, kebenaran dan kesabaran diamalkan maka hidup manusia akan selamat

Demikian juga Imam Syafi’i berkata, jika seluruh umat manusia di dunia ini mengamalkan ayat ini, maka cukuplah baginya sebagai pedoman hidup yang akan membawa  kesejahteraan. Mudah-mudahan kita juga mengamalkanya Aamiin!

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda