Cakrawala

Menunggu Kelanjutan Pemerintahan Taliban

Written by Sri Yunanto

Kemenangan Taliban

Masyarakat  dunia dan juga Indonesia yang sebagian besarnya Muslim  pada saat ini menunggu dinamika politik di Afghanistan yang saat ini telah berhasil direbut oleh kekuatan Milisi Taliban. Milisi yang puluhan tahun berperang dengan tentara nasional yang diback up oleh kekuatan asing terutama Amerika  akhirnya bisa mengalahkan tentara nasional yang dikabarkan enggan berperang. Sebuah sumber menyebutkan bahwa lebih dari 90% wilayah di Afghanistan berhasil dikuasai Taliban tanpa ada pertempuran  yang berarti.  Mayoritas rakyatnya sudah lama lebih percaya kepad  kelompok Taliban dibanding kepada pemerintahnya sendiri yang didukung Amerika. Melihat melemahnya tentara pemerintah setelah ditariknya pasukan Asing dari Afghanistan Presiden  Ashraf Ghani, yang menjabat selama dua periode itu melarikan diri  dengan alasan menghindari pertumpahan darah setelah milisi Taliban menguasai Kabul .

 Kekalahan tentara Nasional Afghanistan dari Thaliba disebabkan karena beberap hal antara lain. Negara yang puluhan tahun terlibat perang ini tidak mempunyai adminsitrasi yang mengatur militernya terutama angkatan Darat. Sehingga tentara di Afghanistan sering disebut sebagai “ Tentara Hantu” karena pendataanya tidak jelas yang mengakibatkan anggaran pertahanan tidak efisien. Selain itu juga  buruknya perawatan  Alutsista karena anggaran perawatan disebutkan banyak dikorupsi  . Tentara nasional Afghanistan memiliki militansi yang rendah dan sering meningglkan pos-pos penempatan  di wilayah perkampungan. Sehingga disebutkan tentara   tentara Taliban dengan mudah dapat menaklukannya. Tentara pemerintah Afghanistan dapat dikatakan terlalu manja , karena mengandalkan guyuran dana asing  utamanya dari Amerika yang jumlahnya sangat fantastis yaitu hingga 88 Milyar US Dollar atau 1,26 kuadriliun, . Di sisi lain, Taliban mampu mengumpulkan dana dari berbagai perdagangan Narkoba dan sumbangan dari luar negeri khususnya Pakistan. Militansi Taliban juga sudah dibuktikan dengan kemampuannya dalam  menyita senjata dan peralatan dari pasukan keamanan Afghanistan – beberapa di antaranya dipasok AS – termasuk kendaraan Humvee, piranti teropong malam, senapan mesin, mortir dan peralatan artileri.


Respon terhadap Transisi Politik di Afghanistan

Transisi Kekuasaan yang sedang berlangsung di Afghanistan ini telah mengundang respon masayarakat Internasional dan Indonesia. Saya mengklasifikasikan respon tersebut  menjadi dua, yaitu kelompok khawatir dan kelompok moderat. Secara umum kelompok khawatir  melihat Taliban saat ini dengan referensi Taliban  lama yang mempunyai pemahaman agama yang konservatif, tidak mendukung  pemberdayaan Wanita dan bahkan memberikan dukungan atau perlindungan terhadap organisasi teroris dunia “ Al Qaeda” dengan pimpinannya Osama Bin Laden. Kehadiran pasukan asing terutama Amerika dan sekutu-sekutu  Baratnya adalah dengan tujuan untuk menghancurkan Al Qaeda , termasuk pendukungnya. Sementara tujuan pertama cukup berhasil dengan tewasnya Osama Bin Laden dan pimpinannya. Tujuan kedua tidak berhasil , karena bahkan Taliban mampu menaklukkan tentara nasional dan mengambil alih tapuk kepemimpinan di Afghanistan. Di Afghanistan kelompok yang tidak percaya atau  khawatir  dengan Taliban  memilih keluar  dari Afghanista untuk menjadi mengungsi sehingga bisa  melarikan diri dari kekuasaan Taliban. Mereka tidak percaya bahwa  Taliban akan merubah perilaku lamanya yang menakutkan atau bahkan mereka akan mendapatkan perlakukan yang  negative dari Taliban karena  dulunya  mereka memusuhi Taliban atau bekerja di perwakilan asing yang  saat itu memusuhi Taliban..

Sementara itu kelompok moderat mempunyai pandangan yang lebih positif tentang dinamika di Afghanistan  Kelompok ini percaya bahwa Taliban sebagai penguasa politik yang baru akan merubah perilaku lamanya yang “ menakutkan”.  Kelompok ini percaya kepada statemen pemimpin Taliban yang akan  menghormati hak-hak sipil, wanita dan kelompok minoroitas , . Kelompok ini berfikir bahwa Taliban  harus berubah karena pemerintahannya  yang baru  membutuhkan dukungan  internasional termasuk Indonesia. Kelompok ini juga percaya kepada statemen pimpinan Taliban  yang akan membentuk pemeritahan sementara yang bersifat inklusif, berpisah  pisah dengan Al Qaeda dan bahkan saat ini memusihi ISIS. Walaupu Taliban mempunyai pemahaaman agama yang konservatif, pemeritahan Taliban ini menolak terorisme dan kekerasan.  Sebuah sumber menyebutkan bahwa saat ini penguasa Taliban  akan segera  mengumumkan General Amnesty kepada rakyatnya utk kerjasama membangun negara. Bahkan berjanji utk membentuk pemerintahan bersama dan bersikap toleran. Pemerintah China dan Rusia sudah melirik dan tertarik untuk kerjasama dalam investasi dengan Taliban untuk membangun  Afghanistan yang modern dengan  warna Islam . Pemerintah Taliban juga menyesalkan banyaknya hoax (tidak benar) yang menyebarkan berita bahwa tentara Taliban melakukan  pemerkosaan, penculikan perempuan dan anak anak muda .

Bagaimana Masayarakat Indonesia Seharusnya Merespon

Sebagaian besar masayarakat Indonesia tampaknya  dapat dikategorisasikan kedalam kelompok  yang  khawatir, Mereka tidak percaya bahwa pemerintahan Taliban  akan berubahan kearah yang lebih moderat , damai dan inklusif. Bahkan ada yang percaya bahwa Taliban  akan mengekspor terorisme.  Kekhawatiran ini dapat dimengerti karen pada  masa lalu kekuatan Taliban  memberikan dukungan dan perlindungan terhadap Al Qaeda. Namun demikian tidak sedikit juga yang masih percaya bahwa Taliban akan berubah menjadi kekuatan politik yang sejalan dengan spirit internasional tetapi dengan tetap dengan warna Islam yang menjadi ideologi Taliban.  Mantan  Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dua kali mensponsori perdamaian bisa jadi  merupakan salah satu  tokoh dalam kelompok moderat.  Beliau bahkan menyarankan agar   tokoh-tokoh Afghanistan belajar dari Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim bisa hidup dalam demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai moderatisme, toleransi, pluralitas dan inklusivisme.

Kita bebas untuk mempunyai prasangka baik  (khusnudhon) atau prasangka buruk ( Suudhon) kepada penguasa baru di Afghanistan. Namun demikian fenomena yang lebih urgen harus kita cermati dan antisipasi secepatnya adalah sejauhmana kemenangan  Taliban ini memberikan inspirasi kepada kelompok-kelompok radikal teroris di Indonesia. Apakah dengan kemenangan Taliban ini akan memberikan keyakinan kepada mereka untuk bangkit  menggunakan kekerasan antara lain dengan cara-cara teror untuk merebut kekuasaan politik sebagaimana Taliban.  Kekhawatiran ini pantas kita angkat mengingat pada masa Perang Dingin,  Afghanistan menjadi tempat perang  proxy  antara Amerikan dan Uni Soviet. Pada masa itu para militan  Indonesia yang kemudian menjadi Jemaah Islamiyah mendapatkan pelatihan militer dan juga terlibat perang melawan Uni Sovyet. JI kemudian membangun hubungan dengan Al Qaeda.

Para  aktivis JI bahkan terus tinggal atau belajar di Pakistan dan kemudian  bersama Taliban terlibat perang dengan tentara nasional Afghanitasn yang didukung oleh AS. Para aktivis ini juga mempelajari ajaran-ajaran dari   dari tokoh Afghanistan seperti Abdurrasul Sayaf dan tokoh pemikir Pakistan Abul Ala Al Maududi.  Kelompok-kelompok radikal di berbagai belahan dunia biasa mengambil inspirasi dari Revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini yang berhasil menggulingkan Syah Reza Pahlevi yang saat itu juga didukung Amerikan. Bisa jadi  kelompok-kelompok  radikal teroris akan mengambil  “ revolusi Afghanistan” sebagai inspirasi bagi gerakannnya di Indonesia . Secara khusus yang harus dilakukan pendalaman adalah apakah  kebangkitan JI saat ini juga menngambil inspirasi dari kemenangan Taliban di Afghanistan.

About the author

Sri Yunanto

Dr. Sri Yunanto. M.Si adalah Associate Profesor Magister Ilmu Politik , FISIP, Universitas Muhammadiyah Jakara. Staf Ahli Menko Polhukam (2016-2019) menulis berbagai isu tentang politik dan Gerakan Islam dan Isu Kemanan. Beberapa Karyanya adalah Militant Islamic Movement in Indonesia and Southeast Asia (English), Gerakan Militan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara (edisi Indonesian, 2003), Islamic Education in South and Southeast Asia (2005). The Fragmentatation and Conflict of Islamic Political Parties During Reformasi Era ( 2013) Menata Ormas, Memperkuat Bangsa ( 2017)

Tinggalkan Komentar Anda