Cakrawala

Islam, Nama dan Makna Filosofisnya

Written by Arfendi Arif

Walaupun penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, pemahaman masyarakat mengenai ajaran agama yang dianutnya belumlah mendalam. Hal ini disebabkan karena Islam yang dipeluk masyarakat kebanyakan hasil kepercayaan turun temurun dari orang tua.  Karena itu upaya untuk pencerahan atau memberikan pengertian yang benar tentang Islam merupakan usaha yang tidak boleh henti.  

Yang pertama hampir terlupakan dalam memahami Islam di Indonesia adalah tentang agama Islam itu sendiri. Sebelum kita memasuki ajaran-ajaran yang bersifat ibadah seperti shalat, zakat, haji dan lain-lain maka pemahaman tentang makna filosofis apakah Islam itu sendiri merupakan hal yang fundamental  Sebab, bila pengertian yang mendasar ini telah kita pahami dan hayati secara mendalam akan   menjadi motivasi yang kuat untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam itu sendiri.

Menurut Mohammad Abd Allah Draz, kata Islam mengandung arti ” Penyerahan diri secara tentram dengan sepenuhnya terhadap kehendak Allah”, tanpa perlawanan”. Draz menambahkan, penyerahan diri itu artinya, si penganut mengakui, bahwa ia percaya sungguh-sungguh akan kebenaran dan  keadilan segala sesuatu yang telah diungkapkan Tuhan dalam sejarah manusia.

Cendekiawan Muslim almarhum Dr.  Nurcholis Madjid menjelaskan, Islam adalah kata dalam bahasa  Arab yang artinya pasrah,  yaitu pasrah  kepada Allah, karena  menaruh kepercayaan kepada-Nya. Sedangkan TM Usman El Muhamamady mengatakan, Islam itu masuk dalam keselamatan dan perdamaian, tunduk, sujud kepada Allah, tidak sombong. Takut kepada-Nya, menyerah diri, mengikuti perintah-Nya tanpa membantah.

Sementara itu H.Abu Bakar Jakub dalam bukunya Seluk Beluk Agama menguraikan, kalau Islam diambil dari kata Salam berarti kebahagiaan dan keselamatan. Jadi Islam itu  adalah peraturan, haluan, dan jalan yang menuju kebahagiaan, keselamatan dunia dan akhirat.

Kalau Islam diambil dari kata Taslim, berarti penyerahan diri, patuh dan taat. Maka Islam itu artinya peraturan, haluan dan jalan untuk menyerahkan diri, patuh dan taat kepada Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam.

Jika Islam diambil dari kalimat Sullam berarti penitian, jabatan dan tangga untuk mencapai   kedudukan yang mulia dan kejayaan. Maka, Islam itu ialah peraturan, haluan dan jalan, penitian, jembatan dan tangga yang menuju kemuliaan dan kejayaan di sisi Allah mulai di dunia sampai akhirat.

Dari definisi makna Islam yang dikemukakan para ahli di atas dapatlah kita simpulkan bahwa Islam mengandung arti agama yang menuntut kepasrahan dan ketaatan kita terhadap Allah dimana kita dijanjikan keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Sekarang marilah kita lihat paparan Al-Quran mengenai arti kata Islam itu sendiri. Dalam surat an-Nisaa ayat 125 dikatakan,” Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan diri (aslama) kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Kemudian dalam surat al-An’am ayat 162-183 Al-Quran menjelaskan,” Katakanlah sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (muslimin) kepada Allah.

Selanjutnya dalam surat Lukman ayat 22, “Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya (yuslim) kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”.

Dalam surat al-Ankabut ayat 46 Allah mengatakan,” Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah,” Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu, dan kami hanya percaya kepada-Nya berserah diri (muslimuun).

Nabi Ibrahim pernah berdoa kepada Allah sebagaimana tertera dalam surat al-Baqarah ayat 128,” Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh (muslimaini) kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh (muslimatan) kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Sedangkan Nabi Nuh pernah memberi nasehat kepada kaumnya, seperti tertera dalam surat Yunus ayat 12 ” Jika kamu berpaling dari peringatanku, aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (muslimiin) kepada-Nya.

Nabi Musa juga pernah menasehati kaumnya (Yunus ayat 84), ” Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri (muslimiin).

Tuhan pernah  berfirman kepada Nabi Ibrahim (al-Baqarah ayat 131),” Tunduk patuhlah (aslim) . Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh(aslamtu) Tuhan Semesta Alam”.

Islam, Pasrah dan Bahagia

Islam dalam arti penyerahan diri yang total kepada Allah sejak dulu telah menjadi nama agama. Draz menjelaskan, bahwa sejak zaman purbakala perkataan Islam itu dipergunakan oleh para Utusan Allah beserta para pengikut-pengikutnya sebagai nama agama. Jadi, istilah Islam itu istilah yang umumnya boleh dipergunakan untuk segala agama yang diwahyukan oleh Allah, selama agama itu tidak diubah oleh manusia. Al-Quran menjamin adanya pertalian erat antara wahyu yang ada di dalamnya dengan wahyu- wahyu sebelumnya, sebagai berikut.” Allah telah menitahkan agama bagimu, sebagaimana telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, Ibrahim , Musa dan Isa (surat as-Syuura ayat 13).

Nurcholish Majid menambahkan, semua  agama yang dibawa oleh para Nabi (pengajar kebenaran, pembawa kabar gembira dan peringatan bagi umat manusia) mengajarkan tentang pasrah kepada Allah ini. Meski seorang Nabi tidak berbahasa Arab, ia tetap disebut sebagai Muslim, dan agamanya pun disebut Islam, karena ia sendiri pasrah kepada Allah.

Menurut Nurcholish Madjid , sikap berserah diri sebagai makna Islam melahirkan beberapa konsekuensi. Pertama, pengakuan yang tulus bahwa Tuhan-lah satu-satunya sumber kekuasaan (otoritas) yang serba mutlak.

Kedua, adanya usaha yang terus menerus dan penuh kesungguhan (mujahadah, ijtihad) untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, dengan sepenuh hati,  merindukan kebenaran, yang dalam bentuk tertingginya ialah hasrat bertemu Tuhan dalam semangat kepasrahan kepada-Nya.

Ketiga, ber-Islam itu juga berarti mampu menghasilkan bentuk hubungan yang serasi antara manusia dan alam sekitar. Ber-Islam sebagai jalan mendekati Tuhan ialah dengan berbuat baik kepada sesama manusia, disertai sikap menunggalkan tujuan hidup kepadanya.

Dengan penyerahan diri yang total kepada Allah memberikan kekuatan kepada manusia menghadapi kehidupan yang penuh tantangan jni. Murtadha Mutahhari, mengungkapkan tiga hal kebahagiaan orang beragama (beriman) dalam hidup ini. Pertama, memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Agama (iman) menanamkan keyakinan kepada manusia bahwa hidup itu punya tujuan. Dengan begitu manusia merasa tentram jiwa, hati dan pikirannya. membuat semangatnya termotivasi dalam bekerja dan beramal karena terbayang kehidupan nanti yang lebih baik setelah kehidupan yang tidak abadi ini.

Kedua, agama (iman) memberikan kekuatan dan mampu merubah kepahitan dan kegetiran hidup menjadi sesuatu yang manis. Dalam hidup ini manusia pasti mengalami penderitaan yang tidak bisa dielakkan. Memang ada penderitaan yang bisa diatasi manusia dengan kecerdikan otaknya, tetapi ada penderitaan yang tidak bisa dilawan dan harus dihadapi manusia. Umur yang terbatas, proses menua dan kematian adalah kenyataan yang tidak bisa dilawan. Semua ini membuat manusia menderita dan sengsara. Dalam hal ini hanya agama (iman) yang mampu merobah penderitaan menjadi kenikmatan. Kematian  bagi orang beriman bukanlah akhir kehidupan, tetapi ada proses untuk menikmati kehidupan lain, yang itu diyakini lebih baik dan penuh kebahagiaan dibandingkan kehidupan di dunia ini, yaitu kehidupan akhirat. Jadi, bagi orang beriman hidup ini akan dijalani dengan optimisme, kegembiraan dan penuh harapan untuk memperoleh kebahagiaan baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Ketiga, semangat iman dan pasrah kepada Allah mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada sesama. Seperti kata Murtadha  Muttahari, tidak ada yang melebihi agama dalam hal menghargai kebajikan, keadilan, melunakkan hati pada sesama, menciptakan saling percaya dan semacamnya 

Dengan demikian dapat disimpulkan, Islam dengan makna pasrah dan tunduk kepada Allah mendorong seseorang untuk menjadikan dirinya sebagai manusia suci yang selalu berbuat dan bertindak sesuai kehendak Allah. Ia menjadi manusia yang ikhlas yang seluruh aktifitasnya mengharapkan ridho dari Sang Khaliq, tumpuannya bergantung dalam hidup ini. Allahu’ alam 

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda