Mutiara

Sayyid Abdurrahman Zahir: Antara Jihad dan Petualangan

Written by A.Suryana Sudrajat

Satu contoh, betapa dalam situasi yang pelik, biasanya ada saja yang suka berakrobat bolak-balik. Maka tampak beda tipis apakah seseorang  berjihad atau bertualang.

                                Mati syahid tidaklah sakit

Hanya seperti dicubit sekali saja

Begitu badan jatuh tersungkur

Datanglah jodoh si bidadari

Bidadari memangkunya serta membersihkan darah

Lantas kepada Allah ia bawa

Itu cuplikan syair “Mati Paling Enak”, salah satu bagian dari Hikayat Perang Sabil. Hikayat ini sebenarnya bukan cerita perang melawan Belanda, yang sejak 1873 ingin menguasai bagian paling ujung Sumatera itu, melainkan kumpulan syair untuk menggerakkan jihad

                                Sumbanglah harta selagi ada

                                                sebagai gantinya Allah akan memberi

                                                harta dan nyawa milik Allah

                                marilah kita menyerahkannya, wahai akhi

                                                walau kita mati dalam perang

                                                perintah Tuhan hendaklah dituruti

                                Kalau mati bukan mati syahid

                                                Siksa-Nya sangat tidak terperi

Syahdan, pada 1864 mendaratlah Sayyid Abdurrahman Zahir di Tanah Rencong. Habib kelahiran Hadramaut tahun 1832 ini, yang sempat melancong ke Malabar, langsung mengajarkan agama. Bacaan kitabnya cukup luas sehingga orang-orang menganggapnya ulama terbesar. Sultan Ibrahim Mansyur Syah (1857-1970) bahkan mengangkatnya jadi penasihat sekaligus guru putranya. Sebagaimana kaum Padri di Sumatera barat, Habib Abdurrahman juga melarang keras sabung ayam, judi dan madat. Setelah Sultan mangkat, Habib mengawini jandanya dan menjadi patih Sutan Mahmud Syah (1870-1874), kemenakan Sultan terdahulu. Pengaruhnya bertambah besar setelah Sultan mendirikan Balai Mahkamah, yang berfungsi sebagai pengadilan agama, dalam praktiknya, segala jenis perkara diadukan ke sini.

Betapa pun, Habib Abdurrahman seorang asing. Karena itu, posisinya yang kuat di istana mengundang berbagai kecemburuan, terutama dari kalangan hulubalang dan pemangku adat. Akhirnya dia tidak tahan. Pada awal 1873, menjelang agresi Belanda pertama, Habib berangkat ke Mekkah. Kemudian Istambul. Di sini ia bertindak sebagai konsul Aceh, meski “liar”, sebelum mendapat mandat resmi Sultan. Dengan mandat itu, minta bantuan kepada  Mesir serta Prancis – setelah permintaan serupa kepada Sultan Turki digagalkan kedutaan-kedutaan Belanda, Rusia, Prancis dan Jerman. Sayang, yang Mesir dan Perancis itu juga gagal. Ada yang meragukan ketulusan Habib – paling tidak, baik Aceh maupun pihak Belanda, kemudian menuduh permintaan itu hanya untuk kepentingan Abdurrahman.

Yang jelas, pada 1874 itu Habib Abdurrahman berangkat ke Penang. Di sini dia membeli dan mengirimkan senjata ke Aceh – meskipun di waktu yang sama ia juga berunding dengan konsul Belanda. Tawarannya, ia akan menaklukkan Aceh asalkan Belanda mau menerimanya sebagai pemimpin. Tapi, entah mengapa. Pada 1876 Habib mencukur janggutnya, menyelundup ke sebuah kapal yang berlayar ke Aceh. Rakyat dan keluarga Sultan menyambutnya, sebagai panglima. Dalam waktu singkat, ia menjadi pemimpin perlawanan kepada Belanda.

Namun, ia memang bukan sejatinya seorang panglima Perang Aceh. Dua tahun kemudian ia membuka perundingan lagi dengan Belanda. Katanya, ia siap menyerah, asal dibolehkan boyong ke Mekkah bersama 20 anggota keluarga dan pengikutnya, plus 10.000 real Spanyol setahun selama hidup. Itu rupanya dituruti. Lalu dari Mekkah ia beberapa kali mengusulkan kepada konsul Belanda di Mekkah agar dikirim ke Aceh sebagai wakil Belanda, atau sebagai penghubung antara Belanda dan Aceh. Kali ini Belanda,  yang sudah mafhum kelakuan Habib, menolak.

Pada 1874, majalah Tijdschrift voor Nederlanndsch Indie pernah memuat syair bertajuk “Akan Peringatan Cerita Perihal Negeri Aceh”, sepanjang  513 bait. Isinya meng-obok-obok Habib Abdurrahman. Di sini Habib diolok-olok sebagai orang yang hanya mencari kekayaan, tukang nilep uang kas masjid, katanya, dan tukang bikin kisruh,

                                Habib Abdurrahman pakai cara Inggris

                                Dia pakai cambang serta kumis

                                Menghadap Kompeni di tengah majelis

                                Rahasia Aceh dibukanya habis

Syair itu memang bukan untuk mengobarkan jihad. Ada dugaan, kata Dr. Steenbrink, bahwa pengarangnya sangat pro-Belanda. Sebab, selain “menghabisi” Habib Abdurrahman, terselip juga bait-bait yang memuji usaha Kompeni – “supaya jangan merampas dan mencuri” dan “niat Kompeni hendak berdamai”. Karena itu, penyebaran syair itu bolehlah dianggap propaganda melawan Aceh. Ini hanyalah satu contoh betapa dalam situasi yang pelik, biasanya ada saja yang suka berakrobat bolak-balik.          

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda