Bintang Zaman

Soedirman : Jenderal Besar Yang Bersahaja (1)

Written by Iqbal Setyarso

Soedirman. Singkat namanya. Memiliki trah bangsawan Jawa, maka dilekatkanlah gelar Raden pada namanya. Raden Soedirman atau Jenderal Soedirman adalah seorang perwira tinggi pada masa Revolusi Nasional Indonesia.  Ia menjadi panglima besar TNI pertama yang dihormati di Indonesia. Ini berkat jasanya dalam revolusi kemerdekaan, berperang menghadapi tentara penjajah Balanda.  Dalam masa perjuangan itu, sekitar tiga tahun menghadapi perlawanan penjajah Belanda. Soedirman tetap berjuang, sampai divonis mengidap penyakit tuberculosis. Dalam kondiri sakit, Soedirman tetap berjuang bersama para prajuritnya meski untuk itu beliau harus ditandu. Tandu Pak Dirman, menjadi benda ikonik di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Soedirman di Yogyakarta.

Ikhwal silsilah Soedirman, baru ketahuan oleh pihak keluarga, bahwa ada kekeliruan teks pada sejumlah buku sejarah. Kepada sebuah koran nasional, putra bungsu Soedirman, Muhammad Teguh Soedirman mengatakan, pertama kali menemukan kekeliruan itu tahun 1975, sejarah Indonesia disebutnya telah melakukan kekeliruan fatal. “Bapak (Jenderal Soedrman) itu anak kandung Pak Tjokro, bukan anak angkatnya,” kata Muhammad Teguh Soedirman kepada Republika, Rabu, 27/7/2016 di Yogyakarta. Soedirman lahir di Purbalingga, 24 Januari 1916.  Soedirman tumbuh besar dengan cerita-cerita kepahlawanan yang disampaikan padanya, serta diajarkan etika dan tata krama priyayi serta kesederhanaan sebagai rakyat biasa.  Berkat didikan tersebut, Soedirman tumbuh menjadi anak yang rajin dan aktif di sekolahnya. 

Masa Kecil Soedirman

Pada usia tujuh tahun, Soedirman masuk hollandsh inlandsce school atau sekolah pribumi. Kemudian ia pindah lagi ke sekolah milik Taman Siswa, namun ia terpaksa pindah ke Sekolah Wirotomo disebabkan sekolah milik Taman Siswa dianggap sebagai sekolah liar oleh Pemerintah Belanda, sekolah tersebut diketahui tidak terdaftar.  Di sekolah Soedirman banyak dikenal oleh guru-guru dan teman-temannya sebagai seorang murid serta teman yang tekun dan pintar.  Pada tahun1934, Tjokrosunarjo wafat. Hal ini menjadi pukulan berat bagi Soedirman. Soedirman dalam usia belia, terbantu sekolahnya yang tetap bisa bersekolah hingga tamat meskipun tanpa membayar.

Setelah kepergian sang ayah, Soedirman masih terus mendedikasikan hidupnya dalam dunia pendidikan.  Ia menjadi guru praktik di Wirotomo dan menjadi anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik.  Bahkan Soedirman juga turut membantu mendirikan cabang Hizbul Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milik Muhammadiyah.  Setelah lulus dari Wirotomo, Soedirman melanjutkan pendidikannya selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dioperasikan Muhammadiyah di Surakarta, namun berhenti karena masalah biaya.

Pada 1936, Soedirman kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah, setelah sebelumnya dilatih oleh guru-gurunya di Wirotomo. Tahun itu pula, Soedirman bertemu dengan kawan sewaktu sekolah, Alfiyah. Singkat cerita, Soedirman menikah dengan Alfiyah. Di Cilacap, Soedirman tinggal di rumah mertuanya, Raden Sosroatmodjo seorang pengusaha batik yang kaya. Selama mengajar di sekolah tersebut, beliau  juga aktif dalam perkumpulan organisasi pemuda Muhammadiyah. Dalam rumah tangga, Soedirman dan Alfiyah dikarunai tiga orang putra dan empat orang putri.

Ahmad Tidarwono, Taufik Efendi, Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, Titi Wahjuti Satyaningrum dan Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi.

Masa Jepang Hingga Indonesia Merdeka

Tahun 1942, Jepang berhasil menduduki Indonesia. Perubahan kekuasaan juga menerpa Indonesia. Ketika Perang Dunia II mencapai puncaknya di Eropa, Jepang berupaya untuk menginvasi Hindia atau Indonesia.  Serangan tersebut berdampak pada sekolah tempat Soedirman mengajar, ia harus menutup sekolah tersebut, karena dialihfungsikan menjadi pos militer.  Pada suatu kesempatan, Soedirman berusaha meyakinkan Jepang untuk membuka kembali sekolahnya dan ia berhasil.  Pada awal 1944, Soedirman diminta untuk bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta), kelompok militer bentukan Jepang dan menjadi komandan.   Jepang sendiri mendirikan Peta pada Oktober 1943 guna membantu menghalau invasi dari Sekutu.

Jepang menutup sekolah tempat Soedirman mengajar dan mengalihfungsikannya menjadi pos militer. Meski demikian, Soedirman melakukan negosiasi dengan militer Jepang. Ia kemudian diizinkan kembali mengajar walaupun kala itu perlengkapan masih amat terbatas. Masuk tahun 1944, Soedirman menjabat perwakilan di dewan karesidenan bentukan Jepang. Dan tidak lama kemudian Soedirman diminta Jepang untuk bergabung dalam tentara Peta (Pembela Tanah Air). Ketika pendudukan Jepang, Soedirman masuk sebagai tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Tamat dari pendidikan kemiliteran di Peta, Soedirman mendapat mandat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

Selama Soedirman menjabat sebagai komandan Peta, semuanya berjalan dengan sangat baik, sampai akhirnya pada 21 April 1945, tentara Peta di bawah komando Kusaeri mulai melancarkan pemberontakan terhadap Jepang.  Mengetahui hal ini, Soedirman pun diminta untuk menghentikan pemberontakan tersebut, ia bersama pasukannnya mulai mencari para pemberontak.  Selama proses pencarian, anak buah Kusaeri rupanya telah menembak komandan Jepang, Soedirman pun lekas mengumumkan melalui pengeras suara bahwa mereka tidak akan dibunuh.  Mendengar kabar tersebut, para pemberontak lantas mundur.  Kusaeri menyerah pada 25 April 1945.  Pada awal Agustus 1945, Amerika Serikat melakukan pengeboman Hiroshima dan Nagasaki di Jepang.  Berita tersebut kemudian sampai ke Indonesia yang kemudian disusul dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.  Sejak pengeboman tersebut, kontrol Jepang mulai melemah.  Soedirman kemudian memerintahkan rekan-rekan lainnya untuk kembali ke kampung halaman mereka, sedangkan Soedirman pergi ke Jakarta. Ia menemui Presiden Soekarno yang memintanya untuk memimpin perlawanan Jepang di kota. 

Namun, Soedirman menolak hal tersebut, karena ia masih belum terbiasa dengan lingkungan Jakarta, Soedirman justru menawarkan diri untuk memimpin pasukan di Kroya.  Soedirman kemudian bergabung dengan pasukannya pada 19 Agustus 1945 dan di saat bersamaan, Belanda berupaya untuk merebut kembali kepulauan Indonesia, dihadiri dengan tentara Inggris pada 8 September 1945.  Untuk mengatasi masalah ini, PPKI membentuk tiga badan sebagai wadah untuk menyalurkan potensi perjuangan rakyat pada 22 Agustus 1945, yaitu: Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Badan Keamanan Rakyat (BKR).  Soedirman sendiri mendirikan divisi lokal dalam BKR dan kemudian pasukannya dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo.

Strateeg Perang Gerilya

Ketika Sekutu datang ke Indonesia, pasukan ini berdalih untuk melucuti tentara Jepang. Faktanya, tentara Belanda ikut membonceng. Melihat kenyataan ini, pihak Tentara Keamanan Rakyat (TKR) tidak tinggal dian. Mereka terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Pada 12 November 1945 dilakukan pemilihan untuk menentukan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta.  Soedirman pun terpilih untuk menduduki jabatan tersebut, sedangkan Oerip menjadi kepala staff. Sembari menunggu dirinya dilantik, Soedirman mengerahkan serangan kepada pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pada Desember 1945, pasukan TKR dibawah komando Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Pada tanggal 12 Desember 1945 dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Petempuran berkobar sampai lima hari, akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Sementara itu, Jenderal Soedirman berada di Yogyakarta, dan sedang sakit.Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya tinggal satu yang berfungsi. Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkan Soedirman untuk tetap tinggal dalam kota untuk menjalani perawatan.

Namun Soedirman tidak bisa memenuhi anjuran itu.  Ini karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara. Soedirman tetap berupaya berjuang. Sekitar tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung yang satu ke gunung yang lain  dalam keadaan sakit dan lemah sementara obat juga hampir-hampir tidak ada.

Tetapi kepada pasukannya, Soedirman semalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namjun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tetapi pemikirannya selalu dibutuhkan. Selain mengalami pemberontakan dari Belanda, Soedirman juga mendapati pemberontakan dari dalam termasuk upaya kudeta 1948.  Melalui rangkaian peristiwa tersebut, Soedirman kemudian menganggap hal tersebut menjadi penyebab penyakit tuberkulosisnya. (Bersambung

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda