Mutiara

Penguasa Mujur Setelah Digulingkan

Written by A.Suryana Sudrajat

Sesudah digulingkan,  Idi Amin, diktator berjuluk manusia buas, hidup mewah sampai akhir hayatnya di Jeddah. Bagaimana dengan Presiden Ashraf Ghani yang kabur dari Afghanistan setelah negeri itu dikuasai Taliban?

Para diktator yang digulingkan dari kursi kekuasaan umumnya bernasib buruk. Ada yang dieksekusi seperti Saddam Husein (Irak), ada pula yang hidup terlunta-lunta di pengasingan seperti Syah Iran Mohammad Reza Pahlavi. Tapi hal itu, tidak terjadi pada diri Jenderal Idi Amin, lengkapnya Idi Amin Dada Oumee.  Presiden Uganda yang digulingkan pada tahun 1979 ini hidup nyaman bahkan mewah di Jeddah, atas subsidi dari pemerintah Arab Saudi yang memberi suaka politik kepada bekas penguasa yang oleh majalah Time disebut “The Wild Man of Africa” itu. Amin dan keluarganya menempati dua lantai paling atas Hotel Novotel di kota pelabuhan Laut Merah itu. Diktator ini juga beruntung karena kejahatan kemanusiaannya tidak pernah dibawa ke pengadilan internasional.

Pada 1 Februari 1971, Idi Amin, yang saat itu adalah salah seorang perwira militer, memberontak dan menggulingkan Presiden Milton Obote, yang waktu itu tengah menghadiri konferensi internasional negara-negara persemakmuran di Singapura. Ia kemudian   mendeklarasikan dirinya sebagai presiden baru Uganda. Tahun 1975 ia mengangkat dirinya sendiri menjadi jenderal besar angkatan bersenjata, dan setahun kemudian ia menobatkan dirinya sebagai presiden seumur hidup.

Idi Amin dan Obote sesungguhnya telah berkawan sebelum Uganda merdeka. Keduanya bekerja sama menyelundupkan emas, kayu, dan gading dari Kongo. Setelah Uganda merdeka pada 1962, Amin tetap bergabung di ketentaraan. Pangkatnya terus naik hingga menjadi mayor dan ditunjuk menjadi Panglima Angkatan Darat pada 1965 oleh Presiden Milton Obote. Sang Presiden sebenarnya telah diingatkan bahwa Idi Amin akan menjadi masalah baginya di masa depan. Peringatan itu terbukti tahun 1971, yang menyebabkan Obote harus mengungsi ke Dar Essalam ibu kota Tanzania , negara sahabatnya Presiden Julius Nyerere. Ia kembali memimpin negerinya setelah Idi Amin digulingkan oleh tentara  front pembebasan Uganda yang dibantu militer Tanzania  

Di awal masa pemerintahannya, Idi Amin banyak membuat keputusan dan tindakan yang populer termasuk membebaskan tahanan politik yang dijebloskan ke penjara oleh Obote. Namun kemudian ia membuat keputusan politik kontroversial. Pada 1972, Amin mengusir semua warga keturunan Asia yang menyebabkan eksodus 60.000 orang keturunan India dan Pakistan dari Uganda, sebuah langkah yang kemudian melumpuhkan perekonomian negeri itu. Setelah itu ia membentuk “pasukan pembunuh” dan menggunakannya untuk memburu para pendukung  Obote, terutama berasal dari etnis Acholi dan Lango. Tak kurang dari 300.000 orang tewas sepanjang masa pemerintahannya yang berlangsung delapan tahun itu. Ia juga dilaporkan memiliki kelakuan yang ‘aneh” kalau bukan gila. Yakni menyimpan  penggalan kepala-kepala musuhnya di lemari es, selain memasak potongan daging manusia untuk disajikan di pesta. 

Idi Amin wafat pada 16 Agustus 2003 di RS Raja Faisal di Jeddah akibat gagal ginjal. Dia dikuburkan  di taman pemakaman Ruwais di Jeddah. Sebelum Amin wafat, istrinya, Madina,   meminta kepada Presiden Uganda  Yoweri Museveni agar mengizinkan suaminya  kembali ke Uganda di sisa hidupnya. Presiden Museveni mempersilakan  Idi Amin pulang ke Uganda, tetapi dia harus mempertanggungjawabkan semua kejahatannya di masa lalu. Setelah beroleh jawaban itu, semua selang di tubuh Idi Amin disingkirkan.

Setelah Amin meninggal dunia, mantan Menteri Luar Negeri Inggris David Owen mengaku dia pernah mengusulkan agar Idi Amin dibunuh. “Saya tak pernah menyesal pernah mempertimbangkan pembunuhan Idi Amin, sebab kebrutalan rezimnya hampir sama seperti Pol Pot dan menjadi yang paling buruk di Afrika,” ujar Owen.

Bagaimana dengan nasib Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang melarikan diri ke Uni Emirat setelah Taliban menguasai istana kepresidenan di Kabul? Yang pasti di sudah membantah telah mentransfer dan membawa banyak uang dalam pelariannya itu. Dia hanya sempat memakai sandal dan tanpa baju ganti sewaktu kabur. Dan yang terpenting ini: dia ingin kembali ke Afghanistan, berunding dengan Taliban. Ghani sendiri bukanlah diktator. Ia boneka Amerika. 

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda