Cakrawala

Menyambut Hari Konstitusi (6) : Membumikan Pancasila Tak Cukup Dengan Slogan, Apalagi Saling Membelah

Written by B.Wiwoho

Demi membumikan Pancasila sehingga tumbuh menjadi peradaban yang Pancasilias, kita perlu merumuskan langkah-langkah strategis yang bisa menyadarkan, mengajak dan menggerakkan segenap pori-pori kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari lembaga-lembaga Pemerintah maupun swasta, politisi, BUMN sampai BUMDes, serta tokoh-tokoh kunci terkait dan masyarakat luas sampai di tingkat akar rumput.

Pada tingkat akar rumput di pedesaan, telah tumbuh beberapa contoh baik yang dimotori oleh sejumlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), misalkan di Sidowayah dan Ponggok di Klaten, Jawa Tengah,  terutama dalam  menggalang, apa yang sekarang dikenal sebagai sinergi ABCGFM (Akademisi, Bisnis/Swasta, Community, Government, Financial Institution dan Media untuk :

1.   Memberikan kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi terhadap pendayagunaan secara berkelanjutan atas potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat, termasuk warisan budaya, potensi alam apapun bentuknya serta ekonomi di berbagai daerah di tanah air, selanjutnya mengembangkan potensi tersebut menjadi kekuatan riil yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

2.   Melibatkan tokoh muda desa  untuk ikut aktif menggerakkan potensi desa dengan melakukan kreasi dan dukungan yang berdampak. Penelitian  Kompas bekerjasama dengan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada menemukan karakter tokoh muda penggerak berkarakter  dan prioritas tindakan tertentu. Karakter tokoh muda tersebut adalah pemersatu/gotongroyong, pendiri gerakan, keteladanan, dan pencetus/pembuat. Sementara tindakan prioritasnya berupa kewirausahaan berkearifan lokal, organisastir/aktivis, dan optimistis. (Penelitian di 159 desa di berbagai daerah di Indonesia, Kompas, Senin 2 September 2019)

 3.Mendorong dan mendukung terwujudnya kegiatan ekonomi produktif baik barang maupun jasa yang berbasis pada 5 Plus sesuai denganTrisakti, nilai-nilai hakiki dan karakter Pancasilais sebagaimana uraian terdahulu {Menyambut Hari Konstitusi (5)}.

SYARAT PENUNJANG.

Gerakan Membangun Masyarakat Pancasilais yang dimulai dari tingkat akar rumput dan desa ini,  merupakan kegiatan rancang bangun sosial yang cukup kompleks. Oleh sebab itu agar sungguh-sungguh berhasil secara nasional, ia memerlukan sejumlah persyaratan antara lain:

1.Di tingkat nasional:

1.1.Ada tekad politik yang kuat secara nasional.

1.2.Ada sistem pembangunan dan ekonomi nasional yang bisa  menjadi lahan pesemaian yang subur sekaligus payung dan benteng pertahanan ekonomi kerakyatan.

1.3.Ada pengorganisasian yang baik yang menangani mulai dari masalah perencanaan, program dan implementasi serta pemantauan dan evaluasi, yang meliputi masalah-masalah konsep, sosialisasi, edukasi dan capacity building rakyat (pelatihan, penyuluhan dan pendampingan).

1.4.Ada skema atau bagan gerakan yang jelas dan mudah dipahami, yang menggambarkan hal-hal antara lain tujuan nasional atau visi-misi, permasalahan, thema, strtegi, program, bentuk – cara dan media, kelompok sasaran dan lain-lain.

2.Di tingkat Desa pelaksana atau masyarakat :

Di samping memegang teguh 5 Plus, komponen karakter Pancasilais dan langkah-langkah strategis sebagaimana diuraikan di bagian depan, juga tetap perlu memahami kiat-kiat manajemen di era globalisasi dengan revolusi digitalnya yang terus berkembang seperti sekarang ini.

Sebagai contoh adalah maraknya bisnis online melalui situs jual beli atau marketplace.

Kita memang tidak bisa menghindarinya sama sekali, oleh karena itu kita harus memahami karakter dan terutama keunggulan dan juga sebaliknya,  daya rusaknya. Marketplace  yang didukung oleh kekuatan modal besar apalagi bersifat global, dengan cepat akan memilki data transaksi penjualan, produk apa saja yang laris termasuk produk kerajinan.  Dari situ mereka akan dapat memproduksi sendiri barang yang sama, dengan cara mengkloning secara masal dengan harga yang jauh lebih murah. Lebih ironis jika mereka didukung oleh negara atau oligarki korporasi untuk melalukan dumping sehingga membunuh produsen aslinya.

Dengan memahami karakter marketplace internasional,  maka desa-desa produsen binaan kita yang memiliki produk khas dengan merek sendiri, harus belajar dan dibantu  membangun kanal penjualan yang database-nya  kita pegang sendiri.

Promosi juga merupakan masalah yang tidak boleh dianggap sepele, lebih-lebih di era digital dewasa ini. Salah satu kegiatan promosi yang bisa dengan cepat melambungkan sesuatu produk, tapi apabila tidak dijaga bisa pula membuat terjun bebas, adalah apa yang disebut branding dan pencitraan. Pengertian branding dan pencitraan adalah berbagai kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh sebuah badan/organisasi dengan tujuan membangun dan membesarkan sebuah brand, merek ataupun sesuatu produk kebijakan.

Dengan demikian branding dan pencitraanbukan sekedar membangun citra, tetapi sebuah proses untuk menciptakan atau meninggalkan tanda jejak tertentu yang baik di benak dan hati konsumen (untuk produk) dan masyarakat luas (untuk kebijakan),  melalui berbagai cara. Ini berarti sebuah mata rantai kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang kasat mata dari sebuah merek/jenis kebijakan mulai dari kualitas produk barang atau jasa, nama dagang, logo, ciri visual, citra, kredibilitas, karakter, kesan, persepsi, dan anggapan yang membekas di benak konsumen atau masyarakat luas.

Khusus dalam hal branding pengembangan Desa atau Masyarakat Pancasilais ini, menarik mempelajari apa yang dikemukakan  Andreas Syah Pahlevi, S.Sn, M.Sn.(dalam Kolase Pemikiran Ekonomi Kreatif Indonesia, Penerbit: CV. Oxy Consultant). Ia menguraikan tentang branding suatu desa,kota atau produk, yang meliputi persepsi, nilai dan daya tarik positif, yang dimulai dari proses mendesain, merencanakan, dan mengkomunikasikan nama serta identitas dengan desa/produk/lokasi tujuan untuk membangun atau mengelola reputasi. Proses ini bisa mempermudah pengelola memperkenalkan produuk atau wilayahnya kepada target pasar (investor, tourist, talent, event)  dengan menggunakan kalimat yang dapat meneguhkan posisinya, slogan, ikon, dan berbagai media lainnya.

Suatu city atau village branding bukan hanya berwujud sebuah logo, slogan atau rangkaian kampanye promosi yang terpadu, namun merupakan suatu gambaran dari pikiran, sikap, perasaan, asosiasi dan ekspektasi yang datang dari benak seseorang melihat atau mendengar sebuah nama, logo, produk layanan, peristiwa/acara, ataupun berbagai simbol dan rancangan yang menggambarkannya.

City atau village branding  menurut Andreas Syah Pahlevi, merupakan rangkaian aktivitas terprogram yang harus didukung semua lapisan masyarakatnya. Rangkaian kegiatan tersebut dimulai dari menciptakan, mengembangkan dan menunjukkan nilai citra kota atau desa yang secara merata harus didukung maksimal oleh masyarakatnya melalui aksi kebanggaan pribadi maupun aksi kelompok yang berfokus pada nilai-nilai sebuah kota atau desa secara keseluruhan.

Dukungan masyarakat khususnya masyarakat desa dan kota terkait, bahkan negara,  juga sangat dibutuhkan untuk membesarkan sesuatu produk yang berupa barang. Melalui pengembangan usaha berbasis komunitas dan gotongroyong, diharapkan tumbuh subur rasa bangga dan ikut memiliki terhadap produk dan usaha bersama ini, yang antara lain ditunjukkan dengan mengutamakan memenuhi kebutuhannya dengan membeli produk sejenis buatan badan usaha desa, kota atau negaranya. Produk yang berkembang dan dihasilkan secara masal, akan menekan biaya produksi sehingga bisa dijual ke konsumen dengan harga lebih murah, dan pada gilirannya memperbesar hasil usaha yang akan kembali serta dinikmati bersama.

Demikianlah, membumikan Pancasila harus sungguh-sungguh dilakukan dengan menggetarkan segenap pori-pori kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegera. Itu tidak bisa lain kecuali harus sistematis –sistemis, komprehensif terpadu, semenjak dari Undang-Undang Dasar serta berbagai Undang-Undang, peraturan dan berbagai kebijakan turunannya, sampai ke tingkat operasional akar rumput. Ini juga berarti tidak hanya sekedar slogan “Aku Pancasila”, karena kalau hanya itu di era 1960-an, Partai Komunis Indonesia pun sudah melakukannya.

Apalagi dengan saling membelah, membentuk kutub-kutub kekuatan yang saling dipertentangkan.  Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahkan kedamaian, petunjuk, pertolongan dan berkahNya kepada kita, anak bangsa yang menghuni negeri maritim dengan lebih 17.500 pulau ini. Amin.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda